
“Kak, waktuku itu tak lama lagi. Aku mungkin tak bisa memberi Kakak keturunan. Aku juga tak bisa seperti wanita lain yang bisa melayanimu. Kakak jangan membuang waktu Kakak denganku. Kakak harus mencari wanita lain.” Sandra juga tahu diri.
“Aku mencintaimu. Ijinkan aku tetap berada di dekatmu sampai akhir hidupmu. Kamu tak perlu melayaniku. Biar aku yang melayanimu.”
Melihat kegigihan Jamie, Sandra luluh. Tetapi ada satu rintangan lagi, yaitu orang tua Jamie. Apa mereka mau menerima Sandra yang sakit sebagai menantu mereka.
Jamie membawa Sandra ke rumah untuk bertemu orang tuanya. Awalnya kedua orang tua Jamie senang mendengarnya karena mereka ingin melihat Jamie menikah dan mereka ingin bisa menggendong cucu.
Tetapi saat melihat Sandra, mereka berpikir lagi. Sandra yang sakit-sakitan. Belum lagi Sandra yang berkursi roda, mereka jadi berubah.
Jamie bisa melihat raut wajah tidak suka dari kedua orang tuanya terutama dari sang ibu. Wajar karena setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak mereka.
Jamie mengantar Sandra pulang.
Di rumah Jamie.
__ADS_1
“Jamie berpikirlah lagi. Sandra itu sakit-sakitan. Ia tak akan bisa mengurusmu. Malah kamu yang harus mengurus dia. Putus dengan dia sekarang juga sebelum terlambat.” Ibu Jamie tidak setuju.
“Sudah terlambat, Bu. Sandra sedang hamil. Jamie harus bertanggung jawab.” Jamie berbohong demi kelangsungan hubungannya dengan Sandra.
“Apa!? Apa kamu yakin kamu itu ayahnya?”
“Jamie yakin.”
“Ayah tidak percaya.” Ayah Jamie percaya jika anaknya itu anak baik-baik dan tidak akan merusak wanita sebelum waktunya tiba. Ia sudah mendidik Jamie sedari kecil.
Tentang bisnisnya yang sudah ia bangun bertahun-tahun hancur begitu saja. Belum lagi kekasihnya yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja saat ia tak punya apa-apa lagi. Dan niatnya untuk mengakhiri hidup. Sandra yang membantunya melewati semuanya.
Akhirnya sang ibu memberi restu untuk pernikahan mereka.
Sandra dan Jamie menikah dengan upacara yang sederhana karena kondisi kesehatan Sandra.
__ADS_1
Sandra sering keluar masuk rumah sakit. Terkadang keadaan Sandra tiba-tiba drop. Dan sekarang dilema itu muncul Sandra mengandung buah hati mereka.
“Nyonya Sandra, bukankah Nyonya sudah tahu jika Nyonya hamil, maka Nyonya akan cepat mati.” Dokter memberi tahu Jamie untuk membatalkan niatnya mempunyai anak dengan Sandra jika ingin Sandra hidup lebih lama lagi.
Tidak mungkin aku memilih salah satu. Sial. Seharusnya aku memakai pengaman saat kami melakukannya. Aku benar-benar bodoh. Jamie memaki dirinya sendiri.
Sandra memandang wajah Jamie. “Aku suka Indomie, aku juga suka Ifumie. Tetapi aku lebih suka Kakak Jamie. Aku hanya tak ingin Kakak lupakan. Setiap manusia sudah ditakdirkan untuk meninggal. Hanya saja waktuku lebih cepat dari yang lain. Jangan memintaku untuk menggugurkannya.” Sandra ingin anak yang ia lahirkan menjadi pengingat Jamie akan dirinya.
Perut Sandra semakin membesar. Mereka menyiapkan nama untuk bayi mereka. Nino. Dari bunyi sirene ambulan. Ni no ni no yang sering Sandra dengar jika ia berada di rumah sakit.
Sandra masuk rumah sakit lagi. Seiring perutnya yang membesar, keadaannya semakin menurun. Sandra lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit.
Saat persalinan tiba. Dokter melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan Nino.
Sandra melihat putranya. Ia lalu melihat Jamie sambil tersenyum. Senyum terakhir dari Sandra yang tak akan pernah Jamie lupakan.
__ADS_1
End.