
Mawar masih belum bertemu pembelinya. Apa ia pemalu? Apa ia takut wanita? Apa ia menyesal sudah membuang uangnya? Atau ... ia ingin aku gemuk dulu baru menyembelih diriku?
Mawar bergidik.
Mawar berada di taman lagi hari ini. Sepertinya Mawar mempunyai rutinitas yang sudah ditentukan.
Di suatu tempat. Tempat pembeli Mawar bisa melihat Mawar dari kejauhan.
“Sampai kapan kamu melihatnya dari kejauhan? Aku tahu kamu sering masuk ke dalam kamarnya saat ia tidur. Dekati dia jika kamu menyukainya,” ucap sorang pria.
“Apa ia akan menyukaiku yang buruk rupa ini.” Pembeli itu memperlihatkan luka bakar di wajah kanannya. Salah satu alasan ia tidak mendekati Mawar dan hanya melihat Mawar dari kejauhan.
“Kalau kamu tidak mendekatinya, aku yang akan mendekati dirinya.” Pria itu hendak berjalan mendekati Mawar tetapi dicegah oleh pembeli Mawar. “Dia itu milikku.”
“Kamu menyukainya, kan?” pria itu hanya mengetes pembeli Mawar. Bukti larangan itu menunjukkan jika pembeli itu menyukai Mawar.
__ADS_1
“Kamu bisa memakai topeng untuk menutupi luka bakar itu. Aku akan memesannya sekarang. Aku akan membawanya segera kepadamu.” Pria itu berlalu. Ia tak ingin teman baiknya itu terpuruk. Ia ingin temannya itu bisa merasakan cinta lagi. Mencintai dan dicintai.
Sore harinya ia membawa topeng yang hanya menutupi luka bakar. “Aku membelikan sepuluh topeng sekaligus. Kamu bisa sesuaikan dengan outfit yang kamu pakai.”
Pembeli itu melihat topeng degan berbagai motif. Ada yang polos, ada yang berwarna hitam, ada yang bermotif bunga. Ia mengenakan topeng berwarna perak. Ia akan menemui Mawar malam ini.
Di kamar Mawar.
“Nyonya harus terlihat cantik malam ini.” Pelayan mulai merias Mawar.
“Bukan pesta lagi. Tapi ini acara besar.” Pelayan itu nampak bersemangat. Mawar tidak pernah melihatnya sesenang itu.
Pelayan itu lalu membantu Mawar mengenakan gaun mewah yang mengingatkan kita pada gaun kuning yang dikenakan Belle di Beauty and the Beast.
Apa aku akan menikah hari ini? Tanpa bertemu muka langsung nikah seperti kisah yang pernah dikatakan Nyonya Ellen tentang temannya Violet.
__ADS_1
Mawar lalu dipandu menuju ruang makan. Mawar duduk. Ia melihat ada dua piring di meja makan yang begitu panjang. Itu artinya ada orang lain yang ikut makan malam bersama.
Seluruh pelayan menundukkan kepalanya saat seorang pria beropeng sebelah memasuki ruang makan. Mawar merasa ia harus bangkit berdiri. Mawar langsung berdiri.
Siapa pria itu? Apa ia pembeliku? Para pelayan begitu menghormati dia.
Makanan mulai disajikan. Mawar menunggu hingga pria itu makan barulah ia mulai makan. Mawar mempunyai banyak pertanyaan tetapi ia terlalu takut melihat pria yang auranya kuat itu. Ia bisa makan enak, tidur nyenyak, memakai baju bagus setiap hari. Ia sudah bersyukur.
Acara makan malam yang sepi. Tidak ada pembicaraan diantara pria itu dengan Mawar. Hanya terdengar langkah kaki pelayan, suara pring diletakkan dan suara sendok garpu yang beradu dengan piring.
Selesai makan pun mereka berdua masih diam. Mawar takut untuk bertanya. Sampai akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.
Apa pria itu pembeliku? Kenapa ia seperti tidak tertarik padaku? Tapi bukankah itu hal yang bagus. Kalau ia tertarik padaku, aku pasti sudah jebol.
Sementara itu di tempat lain pria itu memegang dadanya yang berdetak terlalu cepat. Ia sudah jatuh cinta dengan Mawar. Saat pertama ia membeli Mawar, tidak ada maksud untuk menyakiti Mawar. Ia hanya tak ingin Mawar dimiliki oleh pria lain. Wajah Mawar mengingatkannya pada wajah mendiang istrinya.
__ADS_1