Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
D9 Kelahiran Kai


__ADS_3

Ellen bersiap dengan ponselnya. Dua pria akan menari di depannya. Elijah menuju ke lemari pakaian milik Arman. Ia mengambil jas dan memberikannya ke Arman. “Ganti bajumu.”


“Tapi ini cuma jas aja. Nggak ada kemejanya.” Arman protes.


“Bukannya Ellen ingin melihat perut six pack milikmu.”


“Kamu?”


“Perut six pack ku sudah hilang sejak dulu. Perutku sekarang buncit.” Elijah memperlihatkan perut buncitnya. Malah ia sengaja membuat perutnya nampak semakin besar.


Arman membuka kaos yang ia pakai dan menggantinya dengan jas tanpa kemeja dalam. Garis six packnya terlihat jelas karena ia sempat push up beberapa kali untuk membentuk tubuhnya.


Musik mulai terdengar. Lagu Paradise dari EXO. Arman dan Elijah menari dengan selaras. Tarian mereka selesai.


Mereka benar-benar bagus. Padahal mereka hanya berlatih sekali. Ellen benar-benar menikmati tarian mereka.


“Terima kasih, ya.”


“Terima kasih saja kurang. Aku mau ciuman di sini.” Elijah menunjuk pipinya. Ia mendekat ke arah Ellen yang langsung dihalangi oleh Arman.


“Suami posesif. Cuma ciuman aja. Bukan yang lain.” Elijah memperlihatkan wajah kesalnya. Ia hanya menggoda Arman.


“Tidak boleh. Kali ini aku benar-benar akan mematahkan lehermu.” Arman membunyikan sendi tangannya. Kletek ... Kletek ... Membuat nyali Elijah ciut.

__ADS_1


“Baik. Baik. Sudah malam aku pamit pulang. Tidak. Aku mau tidur di sini.”


“Boleh. Di sini ada kamar kosong.” Ellen setuju.


“Tidak boleh. Ia tidak boleh mengganggu kita.” Arman tidak setuju.


“Aku janji tidak akan mengganggu kalian.”


“Janjimu itu janji palsu. El, jangan percaya Ijah.” Arman tidak setuju.


Arman membawa Elijah keluar. “Jangan balik lagi.”


“Semakin dilarang. Aku akan semakin sering datang ke sini.” Elijah menggoda Arman lagi. Ia memang suka memancing emosi Arman.


“Hush ... Hush ...” Arman mengusir Elijah.


Tiba-tiba hujan deras. Petir sambar menyambar. Listrik rumah mereka mati.


Ellen yang takut gelap mulai merinding. Ia meringkuk ketakutan. Arman yang datang membawa lampu emergency melihat ada yang tidak beres dengan Ellen.


“El ...” 


Terdengar suara isak tangis Ellen. Arman berbaring di sebelah Ellen. Ia merangkul Ellen. Ellen tidak menolaknya. “Tenang ... tenang ... ada aku di sini.”

__ADS_1


Ellen perlahan mulai tenang. Setiap mati lampu atau saat berada di ruang gelap ada yang membuatnya merasa sangat takut.


Apa El punya trauma dengan gelap? Aku bisa saja tanya ke kak Adly tapi apa kak Adly mau menjawabnya. Arman juga tidak begitu mengenal Ellen.


Tetapi ia sekali lagi berterima kasih kepada hujan. Hujan, tiap hari saja kamu datang bersama petir dan guntur. Lampu mati juga. Datanglah sering-sering.


Ellen merasa nyaman berada di dekapan Arman. Rasa takutnya perlahan hilang dan ia tertidur.


Keesokkan harinya. 


Tercium wangi harum masakan dari dapur. Arman sedang membuat bubur instant untuk Ellen. Ia lalu membawanya ke kamar untuk Ellen makan. Sekali lagi Arman menyuapi Ellen. 


“Terima kasih.” Ellen menyentuh perutnya. “Kai juga harus bilang terima kasih sama Papa.”


Hari-hari dihabiskan Ellen dengan beristirahat. Ia ingin Kai lahir dengan selamat. 


Hari persalinan tiba.


Ellen menjalani operasi caesar demi keselamatannya dan karena tubuhnya yang lemah. Dokter anestesi memberikan anestesi ke Ellen. Saat waktunya tiba, dokter mulai membelah perut Ellen. Kai berhasil dikeluarkan. 


Arman melihat putranya yang baru saja lahir. Ada rasa yang tak pernah ia rasakan selama ini.


Ia telah menjadi seorang ayah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2