Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
D7 Mpok Ijah


__ADS_3

Ellen pulang ke rumah. Ia hanya berbaring di ranjang dan melihat Arman berlalu lalang. Ia membawa pakaian kotor dan memasukkan ke mesin cuci.


Arman menyapu dan mengepel lantai. Rumah mereka bisa dibilang besar tetapi untuk menyapu dan mengepel dilakukan bergantian. Hari senin ruang tamu dan ruang keluarga. Hari selasa ruang makan dan dapur. Hari rabu kamar-kamar. 


Makanan dari Siska datang. Arman segera membuka kemasan dan hendak menyuapi Ellen.


“Aku bisa makan sendiri.” Ellen menolak.


“Tapi bukannya makanan akan lebih lezat jika disuapin?”


Ellen tidak menyanggahnya. Itu memang benar. Ellen akhirnya mau menerima suapan dari Arman. 


“Kamu nggak makan?” Ellen bertanya.


“Habis ini.” Hanya tiga patah kata dari Ellen tapi Arman merasa terharu. Effortnya terasa terbayarkan. Tidak sia-sia aku kerja keras selama ini.


“Nanti malam aku mau makan bubur bautanmu yang kata mama enaknya melebihi masakannya.”


Arman diam lalu mengaku. “Aku cuma bisa masak bubur instan. Mama terlalu melebih-lebihkan.”


“Bukannya bubur instan itu memang enak dan mudah dibuat?”


“Nanti aku buatkan. Tapi apa MSG yang berlebihan baik buat bumil?” Arman mengambil ponselnya. Ia mencari info di ponselnya. Batas konsumsi ibu hamil 2.300 mg per hari. Arman lalu melihat kemasan bubur instan. Cuma 600 mg. Berarti masih aman.


“Bumbunya separo aja.”


“Baiklah. Apa mau Nyonya akan saya turuti.”


“Semuanya permintaanku akan kamu turuti?”

__ADS_1


“Tidak semuanya. Kalau disuruh usir kecoa, aku nggak bisa.” Arman sudah merinding disko.


Ellen tersenyum hampir tertawa. Ia masih ingat ekspresi ketakutan di wajah Arman saat takut dengan kecoa. “Cowok kok lemah gitu. Kamu itu lebih besar dari kecoa. Harusnya kecoa yang takut sama kamu.” Ellen mengejek Arman.


“Beraninya kamu mengejek aku.” Arman menggelitiki perut Ellen.


Ellen merasa geli. “Ha ... Ha ... Ha ... Stop. Perutku sakit.”


Arman langsung menghentikan gelitikannya. “Kamu nggak pa pa?”


“Aku dan Kai nggak pa pa.” Ellen sakit perut karena tertawa.


“Kai?”


“Bukannya itu nama untuk anak kita? Atau Kairin?”


Arman mulai bepikir. Kok Ellen bisa tahu aku mau kasih nama Kai atau Kairin? Jangan-jangan Ellen baca diaryku? “El, apa kamu baca diaryku?”


Arman menggelitik Ellen lagi. “Ini hukuman karena baca diaryku tanpa ijin.”


“Tapi kamu yang naruh gitu aja di atas nakas. Aku cuma penasaran dan baca isinya. Jarang-jarang ada pria yang tulis diary. Aku yang perempuan aja nggak pernah.”


“Ting ... Tong ...” bunyi bel pintu. 


Siapa yang datang? Arman beranjak melihat interkom. Ada wajah Elijah, temannya yang juga dokter di rumah sakit tempat Ellen pernah dirawat.


“Siapa yang datang? Pintunya kok nggak dibuka?”


“Orang tidak dikenal.” Arman malas membuka pintu.

__ADS_1


Telepon masuk ke ponsel Arman. Dari Elijah. Arman tidak mengangkatnya.


“Kok nggak diangkat?”


“Malas.”


Telepon berbunyi lagi. “Mungkin itu telepon penting.”


Elijah mengirim pesan suara. “Kalau kamu nggak bukain pintu, aku akan kirim video memalukanmu ke Ellen.”


Arman membalas dengan mengetik pesan. Kamu nggak tahu no hp Ellen.


Elijah : Aku tinggal buka data Ellen di rumah sakit.


Arman : Itu artinya penyalahgunaan kekuasaan.


Elijah : Buka pintu. Atau aku kirim videonya sekarang.


Arman akhirnya membuka pintu dengan enggan.


Elijah malah langsung berjalan menuju ke kamar Ellen. 


“Dokter ...” Ellen berusaha untuk duduk.


“Tidak perlu duduk, berbaring saja. Dan tidak perlu memanggilku dokter. Aku tidak sedang bekerja. Cukup panggil aku Eli.”


“Jangan panggil Eli. Panggil dia Ijah. Mpok Ijah. Laki-laki tapi tingkahnya kaya perempuan.”


Lagi-lagi Ellen tersenyum.

__ADS_1


“Bukannya kamu yang pernah jadi wa ...?” ucap Elijah.


Arman langsung membungkam mulut Elijah.


__ADS_2