
Mengampuni Arman? Jangan bercanda.
Sisi baik Ellen berkata. Itu adalah perintah, kamu harus mengampuni Arman. Bukankah kamu juga pernah melakukan kesalahan? Bukankah kamu juga ingin diampuni.
Sisi buruk Ellen berkata. Mengampuni Arman? Bagaiman bisa. Arman itu bajing**. Pria brengs** yang sudah membuatmu berpisah dengan Adly.
Ellen mengambil kesimpulan. Ia mendengar sisi buruk dirinya. Betul. Bagaimana bisa aku memaafkan Arman.
Ellen menutup matanya dan berebah.
Pagi harinya ia bangun. Ia melihat ada sarapan buatan Arman. Ada roti panggang dengan irisan smoked beef dan telur mata sapi. Air liurnya menetes karena lapar. Tetapi ia juga tidak mau memakannya karena itu buatan Arman.
Ellen melihat Arman yang sedang berolahraga di taman rumah yang bisa ia lihat dari ruang dapur. Arman hanya mengenakan celana pendek. Terlihat six pack di perutnya yang menurut Ellen sexy. Ditambah bulir-bulir keringat yang bercucuran. Entah kenapa Arman terlihat seperti model cover di majalah kesehatan pria.
Mereka bertatapan. Ellen langsung membuang mula dan mengambil roti panggang dan memakannya. Arman hanya tersenyum. Ia meminta bantuan Siska untuk bisa mendapatkan hati Ellen.
“Perlahan. Jangan terburu-buru. Ellen masih sakit hati denganmu. Dengan perhatian kecilmu mungkin hati Ellen perlahan akan bisa terbuka untukmu.” Begitu pesan Siska.
Arman mulai melakukan pull up di tiang yang berada di dekatnya. Ia mulai memegang tiang dan manarik tubuhnya ke atas.
__ADS_1
“Wanita mana yang tidak menyukai pria yang sexy. Teruslah berolah raga. Badanmu itu asetmu.” Pesan dari Siska lagi.
Selesai berolah raga Arman membersihkan dirinya.
Baik dirinya dan Ellen tidak mempunyai kegiatan. Jika saja Ellen menikah dengan Adly maka saat ini mungkin mereka sudah berada di Hawaii dan mengunjungi spot-spot wisata di sana.
Tetapi saat ini mereka hanya berbulan madu di rumah saja.
Seminggu berlalu begitu saja. Tidak ada tegur sapa dari Ellen walaupun Arman berusaha mengucap satu dua patah kata yang langsung diikuti sikap menghindar dari Ellen.
Arman mulai masuk kantor. Ia sudah sering bolos dari pekerjaannya karena ia lebih suka bersenang-senang. Ia mngenakan dasi dengan kikuk. Dasinya agak miring ke kanan. Ellen mendekat dan membetulkan posisi dasi Arman.
“Terima kasih.”
Suamiku? Kata-kata yang ingin aku dengar selama ini. Terima kasih dasi. Besok-besok aku bakal sengaja miring miringkan posisimu.
“Aku berangkat kerja.”
Ellen hanya diam. Mereka masih perang dingin yang bisa dibilang mencair sedikit. Seperti biasa Ellen melakukan tuigasnya sebagai ibu rumah tangga. Ia melakukan pekerjaan rumah karena ia belum mempekerjakan pelayan untuk membantunya.
__ADS_1
Ellen memasuki kamar Arman yang terlihat rapi. Di sini sudah rapi. Ellen hendak beranjak ke ruangan lain. Tetapi ada satu buku yang menarik perhatiannya di atas nakas.
Ellen berjalan mendekat. Buku apa ini? Karena penasaran Ellen membacanya.
Ini diary-nya Arman?
Ellen membuak halaman pertama diikuti halam berikutnya. Ada tertulis.
Kak Adly memperkenalkan pacarnya yang bernama Ellen. Tetapi kenapa aku jadi gugup. Perasaan apa ini?
Di halaman berikutnya.
Jantungku selalu berdegup kencang saat Ellen berada di dekatku. Aku jatuh cinta? Tidak boleh. Ia milik kakak. Bukan milikku.
Di halaman berikutnya.
Aku menodai Ellen. Ellen ternyata masih peraw**. Aku sangat menyesal. Aku benar-benar menyesal.
Di halaman berikutnya.
__ADS_1
Kakak menghajarku kareana Ellen hamil. Ini berita bagus untukku? Maafkan aku kak Adly. Ellen, maafkan aku.