
“Mas, kita harus lapor sekuriti. Kita bisa cek siapa yang ambil lewat rekaman CCTV.” Violet melihat ada beberapa titik CCTV di tempat parkir.
“Tidak perlu.” Agus malas melapor.
“Tapi nanti aku belajarnya bagaimana?”
“Kita beli lagi. Walaupun kita tahu pelakunya, gitarnya mungkin sudah tidak ada. Lagipula maling gitarnya pasti lagi butuh uang karena itu ia sampai mencuri. Kita juga memberi rejeki ke toko gitar karena membeli gitar lagi.”
Agus membawa Violet kembali ke toko gitar. Ia membeli tipe yang sama dengan yang ia beli tadi.
Di rumah.
Agus mengajari Violet bermain gitar. Dimulai dari memegang gitar, belajar kunci-kunci gitar. Suara yang dihasilkan Violet masih cempreng di mana-mana. Violet melihat ujung jari-jarinya yang terdapat bekas senar gitar.
“Ternyata belajar gitar itu bikin jari-jariku sakit.”
“Jari-jarimu harus jadi seperti ini.” Agus memperlihatkan jari-jarinya yang kapalan karena memainkan gitar.
“Apa Mas pemain band?”
“Dulu saat sekolah.” Steven tiba-tiba nongol tanpa diundang. Password baru di pintu apartemen Agus berhasil Steven pecahkan lagi. Membuat Agus berencana memasang grendel untuk keamanan lebih.
__ADS_1
“Kakak jangan coba-coba pasang grendel. Aku masih bisa membukanya.” Steven bisa menebak pikiran Agus.
“Tapi ini melanggar privasi.”
“Tapi Kak Agus duluan yang suka melanggar privasi aku.” Steven tahu betapa protektifnya Agus kepada dirinya. Perhatian Steven beralih ke gitar yang baru saja dibeli. “Kakak beli gitar baru lagi?”
Violet mengangguk. “Aku mau belajar main gitar. Untuk nilai lebih saat audisi.”
“Kakak ipar bisa menunjukkan keahlian yang lain seperti menyanyi misalnya," usul Steven.
Violet mencoba bernyanyi.
“Suara Kakak ipar tidak begitu buruk. Betul, kan Kak?” Steven melihat Agus yang entah kenapa terlihat begitu terpesona dengan suara Violet.
“Vi, coba kamu nyanyiin lagu ini," pinta Agus.
Violet mendengarkan lagu yang masih asing di telinganya itu. Tetapi ada sesuatu yang bergerak di hatinya. Perlahan ia bisa merasakan irama lagu dan mulai bersenandung. Violet menjadi satu dengan lagunya.
Lagu tersebut sudah menemukan pemiliknya.
Agus membuka pintu ruangan yang sudah lama tertutup, ruang rekaman. Violet bisa melihat berbagai peralatan recording juga bilik dengan microphone dan headset.
__ADS_1
Agus mengajak Violet masuk ke dalam ruang rekaman. Ia menaruh lembar lirik lagu di hadapan Violet. Ia lalu menyesuaikan tinggi mic agar sesuai dengan tinggi Violet. Ia lalu kembali ke depan alat recording.
“Vi, bernyanyilah.” Agus merekam suara Violet. Bait demi bait Violet bernyanyi. Saat selesai bernyanyi Agus memberikan beberapa masukan. “Yang bagian akhir harus lebih diperpanjang. Jangan lupa pakai falsetto di tengah.”
Rekaman selesai.
Ada perasaan bercampur aduk di dada Violet. “Ini lagu yang bagus Mas. Seperti lagu ciptaan August.”
“Kak Agus itu August,” ucap Steven.
Violet tidak percaya. August itu pencipta lagu favoritnya dan selama ini Violet berpikir August itu sudah tua dan beruban.
“Kakak ipar pikir aku boong, ya? Aku jujur kali ini. Apa Kak Agus nggak pernah cerita?” Steven berkata benar.
Violet menatap Agus tidak percaya. “Apa Mas itu August?”
Agus sebenarnya ingin menyimpan rahasia dirinya adalah August sedikit lebih lama. “Benar.”
“Kakak ipar nggak perlu takut dengan masa depan Kakak ipar. Kak Agus itu banyak hasilkan uang dari lagu ciptaannya. Lima lagu aja sudah bisa bikin dia beli apartemen ini dan apartemen sebelah.” Steven membanggakan Agus.
“Apa motifmu memuji-muji diriku?” Agus tahu ada sesuatu di balik pujian Steven.
__ADS_1
“Aku mau Kak Agus masak. Aku lapar.” Steven menyentuh perutnya.