
“Aku laki-laki yang memenuhi syarat, kan?” Agus merasa apartemen yang ia miliki bisa menjadi modal untuk berumah tangga.
“Tapi Mas belum kenal aku. Aku juga begitu belum kenal sama Mas.”
“Kita bisa saling mengetahui satu sama lain saat kita tinggal bersama.”
Violet yang tak punya tujuan akhirnya tinggal bersama Agus. Ia juga merasa tidak ada niat buruk dari Agus. Bahkan ia berutang budi dengan Agus.
Violet kembali bekerja seperti biasa. Tetapi saat hari pertama ia masuk kerja, ia diminta untuk menemui pimpinannya. Ia di-PHK.
Violet bertanya alasan ia dipecat. Selama ini ia sudah berusaha untuk datang tepat waktu, bekerja dengan baik bahkan rela untuk lembur jika dibutuhkan.
“Perusahaan sedang mengalami krisis. Jadi, saat ini perusahaan sedang mengurangi karyawan.” Suatu alasan yang dibuat-buat karena Violet tahu bagaimana kondisi keuangan perusahaan karena ia termasuk salah satu staf yang membuat laporan keuangan perusahaan. Perusahaan tidak mengalami krisis dan mendapatkan banyak sekali laba.
Aku doakan perusahaanku ini bangkrut. Harga sahamnya menurun. Violet jengkel dan berdoa yang jelek untuk perusahaannya sambil mengemasi barang-barangnya.
Ia kembali ke apartemen dengan muka muram. Nggak punya rumah, nggak punya pekerjaan, tabungan di bank sisa sedikit. Violet menghembuskan napasnya dengan berat.
Saat Violet membuka pintu apartemen, ia melihat Agus yang sedang membersihkan rumah.
__ADS_1
“Eh, kok pulangnya cepet?” Agus melihat jam yang masih menunjukkan pukul 12 siang.
“Aku dipecat.” Violet menaruh dus berisi barang-barangnya di lantai. Ia menangis. Agus memeluknya.
“Aku ini wanita paling sial sedunia. Ditinggal calon suamiku di hari H pernikahan, ditipu dia, dan sekarang dipecat.”
“Siapa bilang kamu sial? Justru aku bersyukur kamu ditinggal, jadi aku bisa nikahin kamu. Kamu memang ditipu tapi akhirnya kamu bisa tinggal sama aku. Kamu dipecat? Kita bisa habisin waktu lebih lama di apartemen.”
“Tapi kalau aku nggak kerja, kita makan apa?”
“Makan nasi. Beras di sini masih ada sekarung. Cukup buat tiga bulan.”
“Garam, kecap. Di lemari ada banyak. Kalau bosan bisa pakai saus tomat. Aku punya satu toples saus tomat sisa dari pesan antar.”
“Nanti mas tambah kurus kering.”
“Badanku memang kurus kering. Tapi tenagaku nggak kalah dengan laki-laki yang berotot. Mau aku buktikan?” Agus tanpa kesulitan mengangkat Violet menuju ke ranjang.
Ia membaringkan Violet ke atas ranjang. Jarak di antara mereka semakin dekat dan dekat.
__ADS_1
“Ceklek ...” Pintu apartemen terbuka. Tamu tak diundang mereka melihat kamar yang tidak dikunci dan melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.
Violet terkejut begitu juga dengan Agus. Agus melempar bantal ke arah pria itu. Kesal.
Violet menatap tamu itu. Wajah yang tidak asing baginya. Eh? Bukannya ia aktor yang lagi ngetop dan wara-wiri di TV itu.
“Kak ... Ternyata Kakak suka sama cewek juga.” Tamu itu merasa terharu.
Agus langsung menuju ke depan pintu dan mengganti password pintu apartemennya. Ia tak mau ada seorang pun yang bisa masuk tanpa seijinnya.
“Berapa kalipun Kakak ganti, aku masih tetap bisa menebaknya. Waktu Kakak lupa juga, Kakak juga yang hubungi aku.”
Tamu itu mendekati Violet. “Kakak ipar cantik juga. Selera Kak Agus sudah meningkat rupanya. Jangan khianati Kak Agus, ya. Oh ya nama Kakak siapa?"
“Aku Violet.”
“Kakak ipar namanya Violet?” Tamu itu tidak merasa asing dengan nama Violet.
“Kamu itu ...” Violet lupa namanya tamu itu.
__ADS_1