
Bendera kuning berkibar di depan rumah bercat merah abu-abu bertuliskan nomor rumah E-07. Kursi plastik berjejer rapi dibawah tenda berwarna ijo tua yang dipasang sejak kemarin sore. Beberapa bapak-bapak mengenakan baju koko putih dan bersongkok hitam berdiri di depan rumah menyambut beberapa pelayat yang datang berduka.
Di dalam rumah terlihat ibu-ibu mengenakan gamis yang didominasi dengan warna putih, duduk bersimpuh di atas karpet biru. Mereka melantunkan Surah Yasin bersama-sama.
Dari kejauhan terdengar bunyi sirine ambulans bertalu-talu. Bagi yang sedang berduka, suaranya sungguh sangat menyayat hati.
Sirine ambulans pun dimatikan tepat di depan rumah duka. Ambulans tersebut mengantarkan jenazah sang pilot pulang ke rumah. Isak tangis menyambut kepulangan almarhum.
Tepat di depan pintu ruang tamu, terlihat seorang wanita mengenakan gaun gamis putih tulang dengan jilbabnya yang senada. Diam. Tanpa suara, tanpa isak tangis. Namun terlihat jelas wajah pucat dengan mata yang sembab, yang menandakan ia pun usai menangis. Ia hanya memandang peti jenazah yang diangkat menuju tempat bersemayam sebelum almarhum di makamkan.
"Mas, sesuai permintaanmu. Aku sambut kepulanganmu dengan gamis putih pemberianmu. Lihat aku cantik kan?"
Kini ia sedang duduk bersimpuh di samping peti jenazah suaminya. Ia duduk diapit dua sahabatnya, Rianti dan Andini.
"Kamu menepati janjimu, Mas. Kamu pulang di hari anniversary kita. Hari ini seharusnya kita merayakan ulang tahun pernikahan kita yang ke lima tahun, Mas." Tangisnya pun mulai pecah.
"Sing sabar yo, Nduk. Kuatno atimu. Iki ngunu pancene wes takdir. Maut ki ora iso ditolak yo uga ora iso di suwun. Istighfar sing akeh ya, Nduk." (Yang sabar ya, Nduk. Kuatkan hatimu. Ini sudah takdir. Maut itu tidak bisa ditolak maupun tidak bisa diminta. Istighfar yang banyak ya, Nduk.)
Terlihat salah satu pelayat perempuan mencoba memberikan nasihat kepada Himeka untuk ikhlas dan sabar menerima takdir.
Himeka hanya mengangguk lemah. Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan pulang tepat di hari pernikahannya dalam keadaan jenazah. Hanya 5 tahun usia pernikahannya. Jodoh yang singkat.
"Sudah jam 10.00 WIB. Saatnya persiapan untuk memakamkan almarhum ke tempat peristirahatannya terakhir." Ujar Pak Engky, ketua RT setempat.
"Saya ikut." jawab Himeka singkat
"Nduk, seumpama sampean ora kuat, sampean ndek omah ae. Mesakne bojomu lek sampean malah nangis ndek kuburan. (Nduk, seumpama kamu tidak kuat, kamu dirumah aja. Kasihan suamimu kalau kamu malah nangis di makam)" kata salah seorang pelayat perempuan
"Saya kuat, saya tidak akan menangis di makamnya Mas Dana." jawab Himeka menguatkan hatinya
"Saya akan mendampingi Himeka, Bu. InsyaAllah tidak apa-apa." kata Rianti, sahabat Himeka.
"Aku dirumah saja, menjaga Navya. Jika sewaktu-waktu Navya bangun, ada aku disampingnya." ujar Andini dan disambut anggukan oleh Rianti.
__ADS_1
"Ya sudah ayo keburu siang nanti. Kasian almarhum kalau tidak segera dimakamkan." Pak RT pun mulai mengkomando untuk segera mengangkat peti jenazah dan berangkat ke makam.
***
Undukan tanah merah masih terlihat basah. 10 menit yang lalu jenazah sang pilot dikebumikan dengan prosesi yang berjalan lancar.
Himeka menaburkan bunga di atas undukan tanah sepanjang satu meter tersebut. Seusai menaburkan bunga, dengan ditemani oleh salah satu sahabatnya, ia duduk di depan makam almarhum.
Himeka mengusap nisan bertuliskan Danadyaksa Jayandaru lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal wafatnya. Seperti janjinya, ia sedikit pun tidak meneteskan air mata. Justru ia sekarang terlihat lebih tegar.
Entahlah apakah ia bener-benar tegar atau dia hanya menutupinya. Hanya ia yang tahu.
"Mas, aku janji akan menjaga anak kita, Navya, dengan baik. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kata-kata yang kamu ucapkan kemarin adalah wasiat yang kamu berikan kepadaku."
Rianti melingkarkan lengannya ke tubuh sahabatnya. Ia khawatir jika sewaktu-waktu Himeka tidak mampu menopang tubuhnya dengan baik.
***
Matahari tepat diatas kepala. Siang ini, cuaca sangat terik. Himeka masih bersimpuh di depan makam Almarhum suaminya. Di sampingnya, Rianti dengan setia memayunginya agar ia tidak begitu kepanasan.
Himeka tak menjawab. Ia membusungkan badannya ke depan mencium nisan marmer berwarna putih tersebut.
"Mas, aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum, Sayang."
Himeka pun perlahan berdiri dengan dibantu Rianti. Kakinya terasa kebas. Sejenak dia berdiam diri sambil meregangkan otot-otot kaki yang terlalu lama ia gunakan untuk bersimpuh.
Setelah dirasa cukup nyaman untuk berjalan, ia pun mulai melangkah kakinya. Mereka berjalan mulai menjauhi makam Almarhum menuju pintu keluar makam.
Beruntung makam terletak tidak jauh dari rumahnya
Hanya butuh waktu 10 menit ia sudah sampai rumahnya kembali.
***
__ADS_1
"Bunda." si kecil Navya berlari ke arah Himeka.
Himeka pun langsung mengangkat tubuh kecil Navya dan menciuminya.
"Bunda habis nangis ya?" Tangan kecil Navya mengusap pipi bundanya.
"Bunda, ini permen untuk Bunda, biar Bunda tidak sedih lagi. Ini tadi tante Andini yang belikan untuk Vya." kata Vya seraya memberikan permen lolipop rasa susu vanila kesukaannya
Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada bagi siapa saja yang melihat. Anak sekecil Navya pun sudah kehilangan ayahnya. Beberapa pasang mata yang menyaksikan interaksi ibu dan anak itu pun larut dalam kesedihan.
"Bunda, Ayah mana." Vya mengedarkan pandangannya, mencari sosok ayahnya diantara beberapa orang pelayat yang memenuhi halaman rumahnya.
Bingung. Gugup. Tak tau apa yang harus dikatakan Himeka untuk memberi tau putrinya bahwa sekarang ayahnya sudah tiada.
"Kata Tante Andini, tadi Bunda mengantar ayah pergi." tanya Navya yang membuat Himeka hanya diam membisu. Ia belum punya keberanian untuk menjawab pertanyaan putrinya.
"Navya sayang, sini Navya gendong Tante Rianti dulu ya. Bunda masih capek. Biar bunda masuk ke kamar dulu ya, istirahat di kamar."
Rianti berinisiatif untuk menggantikan menggendong Navya.
"Iya, tante." jawab Navya patuh.
Himeka dengan digandeng Andini, kini perlahan masuk ke dalam rumah. Namun belum sampai teras rumah, tiba-tiba Himeka merasa lemas. Pandangan seketika kabur. Himeka pun terkulai tak sadarkan diri.
.
.
.
Happy Reading gaesπ€
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 dan juga favorit.
__ADS_1
Kalau misalkan ada sisa vote dan rezeki lebih untuk gift, boleh juga ya untuk Himeka π
Terimakasih, π