
Dafa mengemudikan mobil bermuatan stroberi menuju ke supermarket. Di supermarket Dafa menitipkan barang dangangannya. Ia lalu mengajak Kiran membeli es krim seperti yang sudah ia janjikan.
Awalnya Kiran menikamati es krimnya tetapi es krim itu terjatuh dari tangannya saat ia melihat kekasihnya sedang berdua dengan remaja putri lainnya. Kiran mendekati kekasihnya. “Kak ...”
“Kii ...” Suasana menjadi canggung. “Aku mau kita putus. Aku nggak bisa LDR sama kamu.”
“Kan Kakak yang bilang kalau Kakak bakal nunggu aku.”
“Maafkan aku, Ki.” Kekasih Kiran pergi meninggalkan Kiran dengan kekasih barunya. Kiran menangis dalam perjalanan pulang.
“Nggak seharusnya aku ke sini. Pacar aku jadinya putusin aku.” Kiran terus menangis walau ia sudah tiba di rumah.
Mama Dafa marah. “Dafa! Kamu apain Kiran? Kamu ajak Kiran ke mana sampai nangis begini?”
“Dafa nggak apa-apain Kiran, Ma.”
“Boong! Kiran masih remaja kalau ia hamil sekarang...” Mama Dafa terlalu berpikir yang berlebihan. Ia berpikir jika Dafa sudah menodai Kiran.
“Dafa nggak apa-apain Kiran, Ma.”
“Mama mau tanya Kiran.” Mama Dafa hendak menuju ke kamar Kiran.
__ADS_1
“Jangan, Ma. Biarin Kiran menangis sepuasnya.“ Dafa enggan menjelaskan detail ceritanya.
“Baiklah. Tapi jika Kiran hamil, kamu harus langsung menikah dengannya nggak perlu nunggu tahun depan.”
Dafa masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Kiran masih menangis. Ki, apa kamu nggak suka sama aku? Kamu lebih mencintai pacar kamu? Aku juga terluka, Ki.
Keesokkan harinya mereka pergi ke sekolah. Mata Kiran terlihat bengkak karena menangis semalaman.
“Dafa, kamu apain istrimu semalam?” goda teman-teman Dafa.
Sedangkan teman-teman wanita Kiran mendekati Kiran. “Kamu dipukul Dafa? Nanti aku pukul dia balik,” ucap teman wanita Kiran yang bertubuh besar. Ia sudah menyiapkan tinjunya.
“Trus kenapa matamu bisa bengkak kaya gini?”
Jika Kiran cerita ia baru putus, berita akan tersebar dengan cepat. Jadi, ia diam saja.
Mata bengkak Kiran perlahan kempes. Ia harus menerima semuanya. Putus cintanya dan perjodohannya. Kehidupannya di desa tidak seburuk yang ia bayangkan. Yang membuat Kiran betah adalah masakan dari mama Dafa yang bahannya diambil dari hasil tanah di desa.
Para penduduk di sana saling berbagi. Yang menanam wortel akan memberikannya ke penduduk yang lain. Begitu juga dengan petani kentang. Mereka selalu mendapatkan sayuran yang fresh dengan sistem barter.
Di rumah kaca.
__ADS_1
“Halo, anak Papa. Anak Papa kelihatan cantik-cantik hari ini. Tumbuh yang besar, ya.” Dafa mengucapkan salam dan memuji stroberi yang ia tanam.
“Dafa gila. Tanaman kok diajak ngomong. Mereka nggak punya telinga. Mereka nggak bisa dengar.”
“Mereka memang tidak bisa dengar. Tetapi mereka bisa merasakannya. Aku pernah baca di buku. Dulu ada penelitian tentang ini.
Tanaman yang dipuji-puji terlihat lebih subur sedangkan tanaman yang selalu dimaki menjadi layu. Aneh, kan? Tapi nyata. Manusia juga sama mereka suka dipuji. Manusia juga suka sedih jika dihina. Kalau aku puji kamu cantik, kamu juga suka, kan?”
“Tapi aku memang cantik.” Kiran memuji dirinya sendiri.
Mereka tersenyum bersama.
Kiran ikut memuji stroberi.
Hari-hari berlalu. Di sekolah Kiran dan Dafa diadakan pentas kelas. Setiap murid boleh mempertunjukkan sesuatu.
Kiran duduk di bangku penonton di aula. Sebentar lagi Dafa akan tampil di panggung.
“Sekarang kita akan melihat penampilan dari Dafa. Beri tepuk tangan yang meriah,” ucap pemandu acara yang juga teman sekelas Dafa. Para murid bertepuk tangan.
Dafa datang mengenakan jas hitam. Ia terlihat begitu keren. Penampilannya seperti pesulap.
__ADS_1