Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
B3 Melaju Ke Tempat Tujuan


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang saat Violet bangun.


“Kamu mau teh atau kopi?” tanya Agus yang bangun terlebih dahulu dari Violet.


“Teh,” jawab Violet.


Agus meletakkan satu sachet teh celup ke dalam mug lalu menaruh air panas dari teko listrik. Ia memberi gula lalu mengaduknya dan memberikannya ke Violet.


“Terima kasih.” Violet tidak pernah merasakan perlakuan seperti ini dari mantan calon suaminya. Selalu ia yang berada dalam posisi melayani mantan calon suaminya itu.


Hangat ... Violet menyesap teh hangat buatan Agus. “Tehnya enak. Ini karena tehnya yang enak atau karena yang bikin tehnya jago?”


Pujian dari Violet membuat Agus tersenyum dan senyum manis Agus itu membuat hati Violet sedikit berdebar.


Senyum mas Agus itu bikin aku melting.


Tak lama kemudian makanan datang.


“Room service.” Pelayan hotel membawa troli yang berisi makanan untuk mereka santap.

__ADS_1


“Mas yang pesan makanannya?” Violet takut jika harga makanan di hotel mahal. Ia sebenarnya berencana untuk makan di luar untuk menghemat budget.


“Ini termasuk dari sewa kamar,” ucap Agus.


Violet melihat begitu banyak variasi makanan terutama dessert. “Apa benar ini sudah termasuk sewa kamar? Apa hotelnya nggak rugi?”


“Katanya kita itu pengunjung ke seribu mereka jadi kita dapat bonus makanan gratis selama tinggal di sini,” jawab Agus yang hanyalah sebuah alasan atau bisa disebut kebohongan dan Violet percaya.


Violet yang lapar langsung mengambil piring dan mulai makan. “Mas juga harus makan. Habis makan kita jalan-jalan.” Violet berkata dengan masih mengunyah makanannya.


“Huk ... Hukh ...” Violet tersedak.


Agus mengambilkan minuman. Ia menepuk-nepuk ringan punggung Violet. “Makanannya habiskan dulu baru bicara.”


Violet berjalan di samping Agus. Tetapi ia melihat petugas hotel membungkukkan tubuhnya kepada mereka. “Mereka sopan sekali.” Violet berbisik.


Entah kenapa Violet merasa petugas hotel begitu menghormati dirinya dan Agus. Mungkin tingkat sopan santun di hotel ini begitu tinggi. Duga Violet.


Violet dan Agus mulai berjalan kaki ke depan hotel. Mereka sudah disambut dengan mobil hotel yang akan membawa mereka ke mana saja selama perjalanan.

__ADS_1


“Mobil hotel mahal. Aku nggak sanggup bayar," bisik Violet.


“Sudah termasuk dalam tiket kamar. Kita nggak harus bayar,” ucap Agus lagi.


“Pak Agus ... Silahkan Anda dan istri Anda naik.” Supir mobil hotel itu bahkan membuka pintu mobil untuk mereka.


“Kok bapak supirnya tahu namamu?” tanya Violet.


“Bapaknya tahu dari daftar tamu,” jawab Agus. Sepertinya Agus memang memiliki semua jawaban untuk pertanyaan Violet.


Saat sudah berada di mobil.


“Nyonya, kita akan ke mana?” tanya supir.


“Bapak bisa memanggil saya Violet. Vivi juga boleh. Saya merasa risih dipanggil Nyonya.”


“Maafkan saya Nyonya. Saya harus memanggil Anda Nyonya.” Supir itu tidak mungkin memanggil Violet dengan hanya nama saja. Itu sangat tidak sopan.


“Saya mau ke tempat T. Apa Bapak tahu di mana tempatnya?” Violet memberi tahu tujuan pertamanya.

__ADS_1


“Saya tahu saya sering ke sana mengantar Tuan Agus.” Supir itu langsung meralat. “Saya sering mengantarkan tamu hotel ke sana.”


Mobil melaju ke tempat tujuan.


__ADS_2