Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
H8 Lamaran Saat Konser


__ADS_3

Ariel hendak meminta penjelasan saat mereka tiba di hotel tempat mereka menginap. Ngomong tidak ya.


Di satu sisi Ariel merasa malu. Tapi di sisi lain ia penasaran. Apa tubuh polosnya telah dilihat oleh Vincent.


“Tuan ...”


“Iya?”


“Tidak ada apa-apa.” Ariel tidak berani.


“Sungguh tidak ada apa-apa?”


“I ... ya ....”


“Baiklah aku mau tidur. Bangunkan aku saat makan malam tiba. Kamu juga harus beristirahat.”


“Iya, Tuan.” Ariel lalu tidur.


Hari-hari mereka dihabiskan untuk latihan, makan, tidur sesekali wawancara dengan wartawan setempat bahkan reporter TV.


Ariel mengecek penampilan Vincent. Tuan Vincent nggak boleh terlihat buruk. Ariel menata rambut Vincent. Ia ingin Vincent terlihat sempurna. 


“Berapa kali kamu akan menyentuh rambutku.”


“Sampai seribu kali akan tetap saya lakukan. Saya ingin Tuan terlihat sempurna.” Ariel masih menyentuh rambut Vincent.


Vincent akan menjadi tamu sebuah acara talkshow yang disiarkan secara live. Talkshow dimulai dari penampilan Vincent yang bermain piano secara live. Host talkshow memuji permainan piano Vincent.


“Mungkin Anda sering mendengar pujian ini. Tetapi permainan piano Anda benar-benar bagus.”


“Terima kasih.”

__ADS_1


“Saya juga mendapatkan fakta jika tiket pertunjukkan piano Anda selalu terjual habis.”


“Awalnya tidak terjual habis. Tetapi akhir-akhir ini iya.”


“Dan saya mendapat berita terbaru dari kehidupan pribadi Anda. Apa betul Anda sedang merencanakan pernikahan?”


“Betul.”


“Siapa wanita beruntung itu? Sepertinya kita sudah mendapatkan fotonya.” Wajah Ariel terpampang nyata di layar LED di belakang tempat duduk mereka.


“Nama wanita itu Ariel dan menurut kabar kalian sudah tidur sekamar?”


“Itu benar.”


“Anda menikahinya karena ia hamil?”


Ariel menyentuh perutnya. Ini lemak perut. Bukan bayi.


Eh? Berusaha apanya. Batin Ariel.


“Baiklah kita akan membicarakan tentang pertunjukkan Anda yang akan datang ...” Presenter membahas hal lain.


Talkshow berakhir. Berita kehamilan Ariel jadi tersebar luas. Foto-foto menunjukkan bukti bahwa perut Ariel sudah membesar.


“Diperkirakan bayi dari pianist genius Vincent akan lahir lima bulan lagi.”


“Menantikan kelahiran anak pianis genius Vincent.”


Begitu judul artikel online dengan menunjukkan foto Ariel dan Vincent yang mesra.


“Apa-apan berita ini. Kenapa semua foto menyorot perut buncitku? Ini namanya body shaming.” Ariel merasa kesal.

__ADS_1


“Makanya diet. Jangan. Nanti kalau kamu terlalu kurus badanku sakit.”


“Apa hubungannya antara badan kurusku dan Tuan sakit?” tanya Ariel.


“Ada,” Abu hendak menjawab tapi Vincent memberi tanda untuk tidak melanjutkan.


Mereka tiba di hotel.


Hari pertunjukkan.


Vincent terlihat gagah dengan jas penguin yang ia kenakan. Ia berjalan dituntun oleh Ariel mendekati piano. Vincent duduk dan mulai bermain. Pemain musik lain mulai mengikuti.


Ariel menutup kedua matanya. Ia sedang menghayati permainan piano Vincent. Pertunjukkan berlangsung selama beberapa saat. Dan ahirnya pertunjukkan selesai.


“Ada sesuatu yang mau saya katakan kepada seseorang yang begitu saya cintai." Vincent berbicara ke penonton.


Tatapan para penonton menuju ke arah Ariel.


Vincent meraba sakunya dan membuka kotak kecil berwarna biru berisi cincin. “Maukah kau menikah denganku?”


Ariel bingung. Apa lamaran itu ditujukan padaku?


Vincent menghadap ke penonton saat melamar Ariel.


“Mau ... Mau ...” Para penonton bersorak mendukung.


Ariel berjalan maju mendekati Vincent. “Aku mau ...”


Penonton bersorak. Vincent meraba kotak yang ia pegang mengambil vincin dan memasangkannya ke jari manis Ariel.


“Cium ... Cium ...” sorak penonton.

__ADS_1


Vncent meraba wajah Ariel dan menciumnya.


__ADS_2