
Begitulah kehidupan pernikahan Ariel dan Vincent. Karena menginginkan Mozart mempunyai tanggal lahir yang sama dengan pemilik nama yang asli, mereka melakukannya sesering mungkin. Di kamar tentunya.
Sampai akhirnya Ariel dinyatakan hamil dan diperkirakan akan melahirkan akhir Januari.
“Fiuh. Kita berhasil. Mozart sudah ada di sini. Hari ini sudah jatuh temponya.” Vincent bersyukur Mozart sudah ada di perut Ariel.
“Apa ada yang mau kamu makan?”
“Tidak ada.” Entah kenapa nafsu makan Ariel berkurang.
“Kamu harus makan yang banyak. Di perut kamu sudah ada Mozart.”
“Iya.” Ariel menjawab lemah. Ia hanya ingin berebah.
“Aku akan minta vitamin ke dokter juga tablet penambah nafsu makan.”
“Nanti aku jadi gembrot.”
“Nggak pa pa. Itu nggak ngaruh di aku. Langsing atau gemuk, aku tetap mencintaimu.” Vincent meraba-raba perut Ariel.
“Mozart nggak boleh rewel di perut Mama.”
“Iya, Papa.” Vincent menjawab sendiri dengan nada yang berbeda.
“Papa mau bertamu sebentar. Maaf jika Papa mengganggu Mozart. Mozart jangan lupa tutup mata. Papa nggak lama kok. Sebentar aja.” Vincent meraba Ariel. Ia meminta ijin terlebih dahulu. “Aku boleh bertamu?”
__ADS_1
“Tentu saja boleh.”
Begitulah terkadang Vincent bertamu dalam waktu singkat supaya tidak mengganggu Mozart. “Terima kasih Mozart. Nanti Papa datang lagi. Jangan bosan sama Papa.”
...***...
Kandungan Ariel semakin membesar. Vincent mengambil libur panjang untuk menemani Ariel.
Tanggal 25 Januari, semua keperluan persalinan Mozart sudah siap. Ariel akan menjalani operasi Caesar tanggal 27 Januari untuk kelahiran Mozart.
“Mozart. Ini Papa. Papa sudah nggak sabar pengen ketemu Mozart.”
Ariel merasakan sesuatu yang basah di bawah sana. “Kak, maaf. Sepertinya air ketubanku pecah.”
“Eh?” Mozart merasakan air di tangannya.
“Hai Mozart. Ini Papa.”
“Terima kasih sudah melahirkan Mozart," ucap Vincent ke Ariel.
“Maaf, Kak. Mozaart lahirnya di tanggal 25. Harusnya aku menahannya sampai tanggal 27.”
“Mozart bisa mati jika menunggu dua hari lagi. Nyawamu juga terancam. Aku sudah sangat bersyukur Mozart lahir selamat. Kamu juga dalam kondisi baik.”
Mozart menangis. Vincent dengan hati-hati menggendong Mozart dan memberikan Mozart ke Ariel untuk menyusu.
__ADS_1
“Mozart ini seperti Kakak. Ia tidak mau melepasnya.” Ariel menatap Mozart.
“Semakin lama semakin bagus. Ia akan cepat besar.”
Ariel dan Mozart sudah diperbolehkan untuk pulang. Jika Mozart sulit tidur, Vincent akan memainkan piano dengan nada tenang supaya Mozart mudah tidur.
“Mozart tidur yang nyenyak, ya. Papa sama Mama mau bikin Beethoven. Lahirnya harus bulan Desember. Papa sama Mama harus ngebut lagi.”
Dan mereka memulai lagi marathon mereka.
Dua bulan kemudian kabar menggembirakan datang. Ariel mengandung lagi. Dan perkiraan lahirnya di bulan Desember. “Ariel. Kita berhasil. Tidak sia-sia kita begadang sampai pagi.”
Ariel hanya bisa tersenyum. “Habis Beethoven siapa lagi? Bach? Chopin? Schubert?”
“Bach lahir tanggal 31 Maret. Chopin lahir 1 Maret. Schubert lahir 31 Januari. Habis
Beethoven kita bisa ngebut bikin Schubert. Habis itu kita bisa istirahat sebentar. Lalu kita ngebut lagi bikin Bach sama Chopin. Kita harus menargetkan anak kembar.”
Ariel mencubit pipi Vincent.
“Sakit ...” Vincent mengelus pipinya yang dicubit Ariel.
“Kakak yang enak. Aku yang nggak enak. Aku mau cuti melahirkan selama tiga tahun. Kakak harus pakai pengaman selama itu.”
“Semakin cepat semakin baik. Biar sekalian kita besarin sama-sama. Kalau nunggu tiga tahun, kita harus jagain anak-anak dari awal lagi.”
__ADS_1
“Perkataan Kakak ada benarnya. Tapi untuk sekarang kita fokus ke Beethoven dulu.”
End.