
Pria itu melihat wajah Mawar dan mulai menitikkan air matanya. Air mata itu jatuh mengenai wajah Mawar. Mawar terbangun. Pria itu segera pergi meninggalkan kamar. Ia tak ingin keberadaannya diketahui oleh Mawar.
Mawar mengelap air yang jatuh di wajahnya. Ia mendongak ke atas. Atapnya bocor? Tapi Mawar tidak mendengar suara hujan. Ini keringat setan?
Karena takut, Mawar meringkuk lagi. Ia menutup matanya rapat-rapat. Ia akhirnya bisa tidur dengan tenang.
Keesokkan harinya.
Mawar bangun dengan segarnya. Sudah lama ia tidak tidur di kasur yang empuk. Ia hanya tidur di lantai yang beralaskan tikar di rumah Rosa. Mawar memeluk bantal yang dilapisi sarung bantal dengan bahan kain yang lembut.
Terbiasa bangun pagi membuat Mawar juga bangun pagi hari ini. Ia membuka pintu ruang pakaian di kamarnya dan mendapati banyak pakaian. Mawar melihat-lihat lagi ruang pakaian yang seperti butik itu.
Semuanya masih baru. Masih ada labelnya.
Mawar membaca harga yang tertera. Harganya sekitar gaji Mawar selama lima tahun menjaga Kai. Belum lagi tas berjajar rapi.
Ini harganya pasti lima puluh ribu. Mawar melihat label itu. Apa!? Ia terkejut. Harganya satu juta? Mawar melihat lagi. Nolnya ada sembilan. INI SATU MILYAR? Tas sekecil ini.
__ADS_1
Mawar menjauhkan tangannya dari tas itu. Ia takut merusak tas mewah itu dengan memegangnya. Merusak berarti membeli. Ia tak punya uang sebanyak itu. Uangnya saat ini nol. Ia tidak mendapat bagian dari hasil penjualan dirinya.
“Apa Nyonya butuh bantuan?” Seorang pelayan datang untuk membantu Mawar.
“Tidak. Ini semua punya siapa?” Mawar merasa ia tidak seharusnya berada di kamar ini.
“Semua ini milik Nyoya.”
Mawar menampar dirinya. Ia tidak percaya. Sakit ... ini bukan mimpi?
“Ini ... semua ... milikku?” Mawar hendak memastikannya lagi.
“Seperti apa pembeliku itu? Apa ia kakek-kakek?”
“Pembeli?” Pelayan itu tidak mengerti.
“Maksud saya Tuan pemilik rumah ini," ucap Mawar.
__ADS_1
“Saya juga belum pernah bertemu dengan Tuan.”
“Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?”
“Lima tahun, Nyonya.”
Sudah bekerja lima tahun dan masih belum bertemu dengan pemilik rumah ini? Aku harus menunggu berapa tahun supaya bisa ketemu pembeliku? Bukankah ini hal baik. Kalau bisa kami tidak bertemu selamanya. Aku takut diapa-apakan olehnya. Mawar membayangkan hal yang tidak-tidak.
“Maaf Nyonya. Sebentar lagi Anda dijadwalkan untuk berada di taman. Anda harus mengganti pakaian Anda.” Pelayan itu memilihkan pakaian untuk Mawar.
Untuk ke taman aja harus ganti baju sebagus ini? Aku ke warung beli roti aja cuma pakai piyama.
Mawar melihat midi dress bercorak bunga beserta sepatu flat berwarna peach dengan hiasan pita.
Mawar bisa mencium aroma baju baru, sepatu baru. Ia bersyukur bisa memakai sesuatu yang baru hari ini. Selama ini ia sering mengenakan sepatu bekas yang terkadang solnya sudah rusak dan berlubang bagian ujungnya.
Selesai berganti pakaian, Mawar dipandu untuk menuju ke taman. Mawar baru saja tiba kemarin. Ia tidak mungkin tahu letak taman.
__ADS_1
Mawar takjub melihat berbagai bunga yang bermekaran di taman. Ia serasa berada di surga. Nikmati semuanya. Kamu tidak tahu sampai kapan ini akan bisa kamu rasakan.
Mawar tidak sadar jika pria yang memasuki kamarnya tadi malam mengawasinya dari kejauhan.