Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
C5 Suka Atau Tidak?


__ADS_3

Semua menyambut Jingga, bayi yang baru saja dilahirkan Violet. Ayah Agus tak berhenti menggendong Jingga. Ia sudah menunggu kehadiran Jingga dari sejak setahun yang lalu. Ia sempat kecewa ketika tahu berita yang sebenarnya tentang berita kehamilan Violet yang tidak benar tetapi saat Violet benar-benar hamil, ia senangnya bukan main.


“Cucu Kakek.” Ayah Agus bermain dengan Jingga. “Stev, kamu sama Emi juga harus cepat-cepat kasih ayah cucu. Mumpung ayah masih kuat gendong anak bayi.” Ayah Agus tahu seiring umurnya yang semakin bertambah, kekuatannya perlahan akan menurun.


“Steven belum berpikir ke arah sana. Stev harus kumpul uang banyak-banyak dulu.” Salah satu alasan yang Steven keluarkan.


“Nanti ayah bantu kalau tentang uang.”


Di apartemen Steven.


Emi masih mengenakan gaun pengantinnya. Ia kesulitan membuka keseluruhan resleting. Steven melihatnya. Ia membantu membuka resleting. Ia bisa melihat punggung mulus Emi.


“Terima kasih, Kak.” Emi ingin masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya tetapi gaunnya terlalu lebar.


“Apa Kakak bisa keluar sebentar? Aku mau ganti baju.” Emi merasa sungkan. Jika saja mereka benar-benar suami dan istri mungkin tidak masalah ia membuka bajunya di depan Steven tetapi saat ini Emi masih merasa canggung.


Selesai mengganti pakaiannya Emi membuka pintu kamar. “Kak, aku sudah selesai. Kakak bisa masuk sekarang.”


Steven mengganti pakaiannya. Ia langsung pergi setelah sebelumnya berpamitan. “Aku ada jadwal syuting mendadak.” Steven berbohong. Ia hanya mengemudikan mobilnya ke arah mana ia mau. Ia bingung harus bagaimana dengan Emi.


Tidak mungkin ia berbicara tentang perceraian di hari pertama mereka menikah. Tetapi Steven tahu ia tak bisa terus menghindar.


...***...


Violet dan Jingga sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Emi bekerja menjadi asisten sementara menggantikan asisten Steven yang sedang sakit.

__ADS_1


Di lokasi syuting.


Emi membawakan air untuk diminum buat Steven saat selesai syuting. Ia juga memegangi kipas angin kecil supaya Steven tidak kepanasan. “Duduklah. Kamu pasti capek.” Steven menepuk bangku di sebelahnya. Tetapi Emi tetap diam.


Steven menarik tangan Emi dan akhirnya Emi duduk di sebelah Steven. Mereka memang suami istri tetapi suasananya terlalu canggung bagi mereka berdua.


“Apa ada yang Kakak butuhkan?” Emi ingin menjauh dari Steven.


“Apa kau tidak menyukaiku?” Steven memang merasa jika Emi agak menjaga jarak.


“Tidak.”


“Berarti kamu suka sama aku?"


“Tidak.”


“Apa kamu menyesal menikah denganku?”


“Tidak.”


“Kenapa selalu jawab satu kata saja.”


Apa aku harus jawab yang panjang-panjang? Batin Emi.


Steven melanjutkan syutingnya. Akhirnya mereka bisa pulang ke rumah. Steven ingin meminta nasehat dari Violet tentang Emi. Kali ini Steven tahu diri, ia menekan bel pintu. Violet membukakan pintu.

__ADS_1


“Kakak iparku tersayang.” Steven memeluk erat Violet yang akhirnya membuat dirinya dipelototi Agus.


“Kakak ipar aku mau curhat.”


“Emi di mana?”


“Di sebelah.”


“Ajak dia ke sini. Mas Agus baru aja belajar satu resep baru. Tenang saja. Aman, kok. Rasanya juga enak. Sudah aku cicipin tadi.” Violet hendak menuju ke apartemen sebelah untuk mengajak Emi makan bersama.


“Tunggu sebentar Kakak ipar. Aku harus bicara terlebih dahulu dengan Kakak ipar.” Steven menceritakan unek-unek di kepalanya.


“Menurut Kakak ipar, Emi itu suka sama aku atau tidak?” tanya Steven.


“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya Emi tidak membencimu,” jawab Violet. “Kamu sendiri bagaimana? Suka?”


“Suka.”


“Mau aku bantu tanyakan ke Emi?”


“Tidak usah. Boleh. Tidak usah. Boleh.” Steven bingung.


“Baiklah. Nanti habis makan aku tanya ke Emi.” Violet mengajak Emi untuk makan malam bersama. Setelah makan malam, Steven bermain dengan Jingga.


Sedangkan Violet berbicara dengan Emi. “Em, Kakak mau tanya. Em suka sama Stev?”

__ADS_1


__ADS_2