
“Alice.” Julia meminta Alice untuk kembali. Tapi Alice sudah keburu pergi.
Bagas tersenyum nakal. “Jadi, kamu maunya cuma main di kamar mandi. Pantas nggak mau aku ajak di ranjang. Bagas membuka pakaiannya.
Astaga. Julia menutup kedua matanya. Ia tak pernah melihat tubuh polos seorang pria sebelumnya. Kakinya lemas. Ia menutup kamar mandi rapat-rapat saat Bagas mendekat.
Bagas mengetok pintu kamar mandi pelan-pelan. “Jangan menggodaku seperti ini.”
Aku tak mau kehilangan keperaw**anku karena hal ini. Membuat Julia berpikir ulang. Irene itu sudah jebol berkali-kali dengan Victor dan dengan Bagas. Tak ada yang salah dengan melayani suami.
Tidak. tidak boleh. Julia mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan.
“Irene, aku juga mau mandi. Badanku kotor.” Bagas mengetuk pintu kamar mandi.
Julia segera keluar dari kamar mandi. Ia masuk ke ruang pakaian dan memakai baju di sana.
Fiuh. Aku selamat.
“Irene, aku juga mau dimandiin seperti Alice,” pinta Bagas tetapi Julia tidak mendengarnya.
“Ya, sudahlah. Mandi sendiri.” Bagas masuk ke dalam kamar mandi.
Julia tahu setiap tindakan ada konsekuensinya.
“Kenapa kau tidak pernah mau aku sentuh?” tanya Bagas yang sudah membersihkan dirinya sendirian di kamar mandi.
“Karena ... Aku ...” Julia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
“Aku bukan Irene. Aku bukan istrimu.” Julia mengatakan kebenaran.
“Ha ... Ha ... Ha ...” Bagas tertawa. “Kalau bohong itu yang benar. Kamu itu istriku.” Bagas mengambil ipad yang berisi foto pernikahan mereka.
“Wanita di sebelahku ini kamu. Wajahnya, tubuhnya itu kamu.”
Julia juga tahu jika wajah itu dan tubuh itu pemiliknya adalah Irene. Tetapi aku bukan Irene.
“Kalau kamu bukan Irene, kamu siapa?”
“Aku Julia. Aku masih ...” Julia bingung harus melanjutkannya atau tidak.
“Aku masih ...” Bagas ingin Julia melanjutkan perkataannya.
“Aku masih peraw**.”
Irene masih peraw**? Bukannya ia sudah tidur dengan Victor?
“Aku sungguh-sungguh. Aku Julia. Aku bukan Irene.”
“Mungkin karena kecelakaan kamu jadi lupa ingatan.”
Tapi aku itu Julia. “Apa aku boleh mendatangi rumahku?”
“Rumahmu di sini.”
“Rumahku ada di jalan ... Aku mau ke sana.”
__ADS_1
“Baiklah. Besok aku antar kamu ke sana. Aku juga penasaran.”
Keesokkan harinya.
Bagas mengantar Julia mendatangi rumah yang sekiranya ia tinggali. Tetapi rumah itu kosong. Julia bertanya ke tetangga sebelahnya. “Kak Andrew.”
Andrew yang tidak mengenal Irene bingung kenapa Irene tahu namanya.
“Kak Andrew, ini aku Julia.”
“Eh, mana mungkin Julia secantik ini. Atau ini memang Julia yang habis operasi plastik?”
“Ini beneran aku Kak.” Julia membisikkan sesuatu. “Aku tahu di mana Kakak menyimpan buku-buku dewasa milik Kakak. Mau aku adukan ke ibu Kakak. Tante ...”
Andrew membungkam mulut Julia. “Apa kamu Julia? Tapi Julia ...”
“Ada apa denganku, Kak.”
“Julia mengalami kecelakaan. Ia koma.”
“Kak, antar aku ke sana.”
Bagas mengantar Julia dan Andrew ke rumah sakit tempat Julia dirawat. Julia melihat tubuhnya yang terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan dan selang infus di tangan.
Julia menangis.
Bagas tahu Julia berkata yang sesungguhnya.
__ADS_1
Tetapi bagaimana ia bisa kembali ke tubuhnya sendiri. Apa ia harus mengalami kecelakaan lagi. Dan bagaimana dengan Irene sekarang? Rohnya ada di mana?