Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
I1 Harus Pindah Ke Desa


__ADS_3

Di kota. Di suatu ruang tamu di sebuah rumah. Ada keluarga yang sedang menonton TV.


“Yah, lihat. Mereka lucu-lucu, ya.” Sang ibu melihat lima bersaudara yang masih anak kecil memainkan alat musik bersama. Ada yang bermain piano, biola, celo, flute dan menjadi konduktor.


Sang ayah mematikan TV.


“Ayah ...” Sang ibu dan sang anak protes. Mereka masih ingin melanjutkan menonton.


“Apa yang ayah bicarakan ini sangat penting. Ki, besok kamu tidak usah masuk sekolah,” kata sang Ayah.


Kiran merasa senang. Ia tidak begitu menyukai sekolah yang sering memberikan PR dan mengadakan ujian. “Kita mau liburan, Yah? Ke mana?”


“Kamu yang akan pergi ke desa tempat teman Ayah. Kamu akan tinggal di sana,” jawab Sang Ayah.


“Eh? Ke desa?” Kiran adalah anak kota. Di desa apa ada wifi?


“Ayah juga harus jelaskan tentang Dafa,” ucap ibu Kiran.


“Kamu tinggal di sana dan akan menikah dengan Dafa, anak teman Ayah.”


“APA? Tapi Kiran masih SMA dan sudah punya pacar, Yah.”

__ADS_1


“Putuskan pacarmu sekarang juga.”


Kiran meminta bantuan dari ibunya. “Ibu ... Tolong aku.”


“Kiran, kamu tahu sendiri jika Ayah itu keras kepala. Apa yang ia mau harus kita turuti. Ayah sudah berjanji dengan temannya sejak mereka masih SMP bahwa mereka akan menikahkan anak mereka. Kebetulan anak Ayah perempuan dan anak teman Ayah laki-laki. Kamu mau lihat fotonya?” Ibu Kiran tidak bisa berbuat apa-apa.


“Tapi sekarang bukan jaman Siti Nurbaya, Bu. Kiran nggak suka dijodoh-jodohin.” Mata Kiran terlihat berkaca-kaca.


“Ki, Ayah hanya ingin menepati janjinya,” ucap sang Ibu.


Kiran menangis. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia tak mau berpisah dengan pacarnya. Ia menelpon pacarnya. “Ayah memintaku untuk tinggal di desa.”


“Kapan-kapan aku ke sana untuk menjengukmu.”


Kiran merasa senang. 


Keesokkan harinya. Sang Ayah dan sang ibu mengantar Kiran sampai di stasiun kereta api. “Yah, Kiran takut pergi sendirian.”


“Nanti ada Dafa yang akan menjemputmu di tujuan.”


“Hati-hati, ya Kiran.” Sang Ibu melambai dari luar kereta api.

__ADS_1


Mereka lalu berpisah. Kiran ingin tidur di kereta api tetapi kondisi kereta api yang penuh membuatnya takut dengan pencopet. Kiran berusaha untuk tidak tidur.


Beberapa jam kemudian ia tiba di statiun tujuan. Kiran keluar dan menuju gerbang depan. Ia melihat ke sekitarnya. Kata ayah akan ada yang datang menjemput.


Kiran melihat ada seorang remaja pria yang sedang membawa papan bertulis namanya. Kiran mendekati remaja itu. “ Apa kamu Dafa?”


Remaja pria itu mengangguk. Ia membantu membawa koper lalu mengantar Kiran menuju rumahnya. 


Di dalam mobil muatan, Kiran hendak meminjam ponsel Dafa. Ponsel miliknya telah disita oleh ayahnya. Ia ingin mengecek media sosial miliknya. Melihat komentar yang ditinggalkan oleh follower-nya. “Apa aku boleh pinjam handphonemu?”


Dafa memberikan ponsel miliknya. 


Apa ini? Kiran melihat hp jadul yang hanya bisa digunakan untuk sms dan telepon saja. “Kamu nggak punya smartphone?”


“Ada di rumah. Tapi cuma bisa dipakai sms sama telpon aja.”


Akhirnya mereka tiba di rumah Dafa. Rumah khas pedesaan tapi luas dan rapi. Dafa meletakkan koper Kiran di kamar lalu ia memberikan pakaian ganti untuk Kiran.


“Ganti bajumu dengan ini lalu ikut aku.”


Kiran melakukan apa yang disuruh Dafa. Ia mengganti pakaiannya dan mengikuti Dafa.

__ADS_1


Mereka tiba di rumah kaca. “Sekarang kita akan memetik stroberi yang sudah matang. Petik seperti ini supaya stroberinya lebih tahan lama.”


__ADS_2