
Sudah dua minggu ini Himeka sibuk menyiapkan segala keperluan persiapan butiknya. Banyak design yang dibuat Himeka. Himeka tidak bekerja sendiri, sekarang dia sudah mempunyai beberapa pekerja. Namun sebagian dari mereka memang sudah lama yang menjadi asisten Himeka, seperti Santy, Viani dan Valea. Bahkan mereka juga ikut andil dalam festival kemarin.
Devano yang sedianya ingin membantu Himeka menyiapkan pembukaan butiknya, ia terpaksa tidak bisa membantu Himeka lebih jauh lagi. Pasalnya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di perusahaan cabang Bandung. Selain itu, CEO Bramanthy Grup juga dikabarkan akan kembali ke tanah air minggu depan.
"Maafkan aku ya, Me."
Kini Himeka dan Devano berada pada panggilan yang menampakkan video mereka. Atau biasa mereka sebut dengan video call. Tampak Devano masih berada di ruang kerja nya sedangkan Himeka terlihat sedang ruang kerja butiknya.
"Iya, Dev tidak apa-apa. Pekerjaan kamu jauh lebih penting. Lagian kamu sudah membantu aku banyak. Butik ini juga kalau bukan kamu yang bantu aku cari lokasi juga mungkin sampai saat ini aku belum nemu tempat yang cocok." jawab Himeka yang diakhiri dengan senyum manisnya.
"Oh ya, rencananya kapan ini mau grand openingnya?" tanya Devano
"InsyaAllah, kalau tidak ada halangan, tiga hari lagi, Dev. Doakan ya semoga lancar."
"Iya, tanpa kamu minta pun, pasti akan aku doakan."
Jawab Devano sembari melonggarkan dasinya
"Ku usahakan untuk bisa menghadiri grand opening butik kamu." lanjut Devano
"Iya, Dev. Terimakasih."
***
Himeka berjalan menyusuri ruangan di lantai dua. Di lantai ini tempat para pekerja bekerja menciptakan sebuah karya dari design yang dibuat sendiri oleh Himeka. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tiga hari lagi sudah mulai pembukaan butik, jadi paling tidak harus ada beberapa sample baju yang sudah dipajang saat pembukaan nanti.
Himeka merasa puas dengan talenta dan kinerja para pekerjanya. Mereka seolah paham dengan apa yang dikehendaki oleh Himeka.
"Meka.... " sapa Rianti dan Andini dengan heboh
Dua sahabatnya datang bersamaan. Mereka turut senang melihat Himeka yang sudah mulai bangkit dari keterpurukan sejak ditinggalkan almarhum suaminya di keabadian. Mereka percaya bahwa butik ini sebagai titik awal kehidupan sahabatnya untuk menjadi lebih baik lagi.
"Ya ampun kalian" jawab Himeka seraya membentangkan tangannya menyambut pelukan dari dua sahabatnya.
"Kapan Rianti kamu sampai di Surabaya?" tanya Himeka. Rianti saat ini sibuk dengan novel terbarunya yang segera dirilis.
"Tadi pagi, Ka. Terus langsung janjian sama Andini ke sini. Yah, mumpung si bu dokter cantik ini lagi nggak ada jadwal praktik hari ini. "
"Kapan ini Ka grand openingnya? " tanya Andini
"InsyaAllah tiga hari lagi. Kalian pasti datang kan?"
"Iyalah Ka, tanpa kamu minta pun, kita pasti datang. Iya kan An?" jawab Rianti yang diakhiri dengan menunjuk Andini dengan dagunya
Andini hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban iya.
__ADS_1
"Oh ya sejauh mana ini persiapan kamu Ka?" tanya Rianti
"Yah udah sekitar 85% udah siap lah. Sudah banyak desing juga sudah rampung dikerjakan. Palingan cuma menata display aja. InsyaAllah lusa sudah bisa siap 100%." ujar Himeka penuh semangat
"Alhamdulillah. Semoga lancar terus ya Ka." Doa Andini untuk Himeka
"Aamiin" Himeka dan Rianti kompak mengaamiinkan pernyataan Andini
"Yuk kita ke cafe sebelah yuk, sekalian kita makan siang." ajak Rianti
"Ayok."
Setelah memesan makanan, mereka pun duduk di salah satu bangku yang menghadap ke jalan raya. Sahabatnya memuji pemilihan lokasi butik Himeka yang dirasa sangat strategis.
***
Bramanthy Grup Bandung
"Pak Devano, rapat segera dimulai 5 menit lagi." seorang sekretaris cantik mengabarkan jika akan ada rapat
"Iya, Nita. Saya akan segera menuju ke ruang rapat." jawab Devano.
Devano berjalan menuju ke cermin besar. Ia mematut diri di depan cermin. Setelan jas warna abu-abu bercorak garis, sangat serasi di tubuhnya. Ia selalu berpenampilan rapi di setiap kesempatan. Wajah bulenya sangat mendukung penampilannya.
***
Senja mulai memamerkan cahaya jingganya. Lalu lintas mulai padat, karena jam segini waktunya para pekerja kantoran pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan Himeka. Ia melajukan kuda besinya perlahan membelah keramaian padatnya lalu lintas.
Sebelum ia pulang ke rumahnya, ia mampir ke salah satu tempat les musik untuk anak-anak. Ia ingin memberikan les musik kepada putri semata wayangnya. Walaupun usia Navya masih 4tahun namun tidak ada salahnya kalau ia belajar musik sejak dini.
Segera ia membelokkan kemudinya ke deretan ruko di sebelah kiri jalan. Bina Music Kids, itulah nama les musik tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya ia segera masuk, dan menuju ke meja informasi. Ia meminta brosur dan menanyakan tentang jenis alat musik apa yang cocok untuk dipelajari anak sesuai Navya. Akhirnya setelah berkonsultasi, Himeka memilih piano untuk Navya. Setelah melakukan pendaftaran dan kesepakatan kapan mulai masuk, Himeka pun melanjutkan perjalanannya ke rumah.
***
Klakson menggema di depan rumah bernomorkan E-07. Terlihat dari arah dalam seorang laki-laki paruh baya berlari membukakan pintu gerbang untuk majikannya.
"Bunda.... " teriak Navya berlari karena mengetahui bundanya telah datang.
"Awas nduk, ojo mlayu-mlayu. (awas nduk, jangan lari-lari)" kata Mak Tum mengingatkan
Himeka segera menyambut Navya dan mensejajarkan tubuhnya hendak menerima pelukan dari sang buah hati.
"Assalamu'alaikum, sayang" sapa Himeka sembari memeluk putrinya
"Waalaikumsalam, Bunda." jawab Navya
__ADS_1
"Lihat, Bunda bawa apa." kata Himeka seraya menunjukkan brosur dari tempat les musik tadi kepada putrinya.
"Apa ini, Bunda." Navya yang belum bisa membaca pun masih belum mengerti dengan apa yang ditunjukkan oleh bundanya.
"Ini gambar apa?" tanya Himeka sambil menunjukkan sebuah benda dalam brosur tersebut.
"Piano."
"Pinter. Navya suka menyanyi kan?"
"Suka, Bunda"
"Nah, gimana kalau Navya belajar piano, jadi nanti kalau Navya mau menyanyi, Navya bisa sambil memainkan piano."
"Mau, Bunda." Navya menjawab dengan antusias. Terlihat matanya berbinar menandakan ia sungguh menyukai apa yang menjadi keputusan Bundanya.
"Minggu depan Navya mulai belajar piano, ya."
"Yeii, Vya mau belajar piano." Navya melompat girang.
"Makasih, Bunda." lanjut Navya seraya mencium pipi kanan sang bunda
"Ya sudah ayo masuk. Bunda mau mandi dulu. Bunda bau asem."
"Iya, Bunda." Navya patuh dan segera menggandeng tangan Himeka untuk turut serta masuk ke dalam rumah.
.
.
.
Maafkan author yang lama banget gak update ya.
Semoga kita semua diberikan kesehatan.
Aamiin 🥰🥰🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa..
Makasih,,
love love love sekotak martabak💕
Salam Ketjup Basah💋
__ADS_1