
Siska mulai sibuk mengurus berbagai hal. Papan nama pengantin Ellen & Adly berubah nama menjadi Ellen & Arman. Sudah tidak ada nama Adly lagi sebagai nama pengantin pria.
Hari H pernikahan.
Ellen mengenakan gaun pengantinnya dan sedang menunggu di ruang pengantin. Dalam hati ia menolak pernikahan ini. Ia ingin menikah dengan Adly tetapi nyatanya ia akan menikah dengan Arman. Ellen ingin melarikan diri.
Tetapi ia harus menikah karena bayi dalam perutnya. Anaknya butuh nama ayahnya di akte kelahirannya. Ia tak ingin anaknya disebut anak haram karena ibunya tidak menikah.
Kenapa? Kenapa kau harus ada? Gara-gara kamu mama harus menikah dengan orang yang tidak mama cintai. Ellen ingin menyalahkan bayinya. Tetapi sekali lagi bayinya tidak bersalah. Ia bisa saja menggugurkan bayinya tetapi rasa bersalah akan selalu mengikuti hidupnya.
Tamu undangan mulai hadir. Mereka terlihat bingung saat membaca nama pengantin.
“Arman? Bukannya ini pernikahan Adly, anak sulung keluarga Adinata.”
“Mungkin salah ketik.”
__ADS_1
“Masa bisa salah ketik. Adly, kan beda jauh dari Arman.”
Tamu undangan mulai bergosip. “Menurut gosip yang beredar pengantin wanitanya hamil dengan adik calon suaminya.”
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Siapa tahu pengantin wanitanya itu serakah. Mau menguasai semua anak Adinata.”
“Jangan bergosip yang tidak-tidak. Kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Ellen memasuki aula pernikahan dengan ditemani oleh Alan. Ia masih meneteskan air matanya. Bukan air mata kebahagiaan tetapi air mata kesedihan. Bukan Arman yang ia inginkan untuk mengucapkan janji suci bersama tetapi Adly.
Ellen hanya bisa menangis. Ia berjalan dengan punggung yang bergetar. Sejak ia mengetahui dirinya hamil, ia hanya bisa menangis. Ia gagal menikah dengan Adly yang langsung pergi ke luar negri saat dipastikan Ellen akan menikah dengan Arman.
Alan dan Siska memahami sikap Adly. Pria mana yang mau melihat pernikahan wanita yang ia cintai. Apalagi pria itu adalah adik kandungnya sendiri.
__ADS_1
Ellen terpaksa menjawab “Ya.” Untuk janji pernikahan mereka. Awalnya ia menolak untuk melanjutkan pesta. Ia ingin membatalkan pernikahannya tetapi atas bujukan dari Siska ia melanjutkannya.
Ellen hanya bisa menjulurkan tangannya dengan hati yang terpaksa saat cincin kawin dipasangkan di jari manisnya. Bukan kamu yang aku inginkan untuk memasang cincin di jariku.
Setelah janji suci, berlanjut ke resepsi pernikahan. Tamu undangan merasakan ada yang tidak beres dengan Ellen. Tidak seperti pengantin wanita yang terlihat bahagia dengan pernikahannya. Ellen selalu terlihat sembab dan menangis. Membuat mereka bertanya-tanya.
Berbeda dengan Arman, ia terlihat bahagia. Ia berhasil menikah dengan Ellen walau dengan cara yang licik. Satu persatu tamu menyelamati pengantin.
Acara resepsi selesai.
Arman membawa Ellen ke rumah baru mereka. Rumah yang Adly beli untuk tempat tinggal mereka setelah menikah dengan Ellen.
Ellen hanya diam mematung. Kenangannya dengan Adly mulai muncul. Saat mereka memilih perabotan rumah, saat mereka menata interior setiap ruangan dan saat Adly memeluk dan menciumnya. Saat mereka hendak ... Tetapi Ellen menolak dan disertai permintaan maaf dari Adly.
“Kita tak boleh melekukannya sebelum menikah. Kita harus menjaga kekudusan pernikahan kita.” Ellen menolak.
__ADS_1
“Maafkan aku.” Adly meminta maaf karena meminta lebih.