Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
E6 Pertemuan Pertama


__ADS_3

Malam itu Mawar tidak bisa tidur, ia hanya menutup matanya dan berebah. Pintu kamarnya terbuka. Mawar tercekat. Ia tidak berani melihat siapa yang masuk. Apa pembeli itu hendak meniduriku? Apa ia hendak meminta apa yang ia inginkan?


Kecurigaan Mawar tidak terjadi. Pria itu sekali lagi hanya memandang Mawar. Air matanya menetes lagi. Ia tahu Mawar bukan istrinya yang telah meninggal tetapi ia melihat sosok istrinya saat melihat Mawar.


Pria itu pergi. Entah mendapat kekuatan dari mana, Mawar diam-diam membuntuti pria itu. Sampai akhirnya mereka tiba di depan kamar pembelinya.


“Siapa di sana?” Pria itu memang sudah merasa diikuti. 


Mawar menunjukkan dirinya. Entah hukuman apa yang akan ia dapatkan. 


“Mendekatlah.” Pria itu meminta Mawar mendekati dirinya. Mawar sekarang berada dalam jarak yang sangat dekat. Topeng pria itu tiba-tiba terlepas. Menunjukkan luka bakar di wajahnya. Mawar tercekat.


Pria itu terburu-buru masuk ke dalam kamarnya. Mawar telah melihat wajah buruknya.


Mawar bingung harus berbuat apa. Meminta  maaf? Ia takut. Mawar memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia berjalan dan berjalan tetapi tidak menemukan jalan pulang.


Aku di mana sekarang? Di mana kamarku? Rumah yang terlalu besar dan kamar yang di desain serupa membuat Mawar bingung. Ia membuka pintu kamar pria lain. Tapi dengan segera menutupnya saat melihat pria lain itu sedang berganti pakaian. 


“Masuklah,” ucap pria itu.


 “Kamu tersesat?” tanya Prince.


“Iya.” 


“Aku akan tunjukkan di mana kamarmu berada.” Prince menuntun Mawar sampai ke kamar Mawar.

__ADS_1


Bagaimana ia bisa tahu kamarku?


“Aku sudah selesai melaksanakan tugasku.” Prince hendak pergi.


“Sebentar. Apa kita bisa bicara?” Mawar ingin mendapat jawaban atas pertanyaannya.


“Apa kamu mengenal pemilik rumah ini?”


“King? Kami teman dari kecil," jawab Prince.


“Tuan King itu seperti apa?”


“Dia baik.”


“Baik saja?”


“Tuan King. Tetapi wajahnya ...”


“Tanpa luka bakar itu, ia memang lebih tampan dari aku.”


“Luka bakar itu karena apa?” tanya Mawar.


“Kamu lihat rumah kecil di sana?” Prince menunjuk rumah kecil di dekat taman.


“Istri King terjebak di sana. Entah apa yang terjadi, rumah itu terbakar. King gagal menyelamatkan istrinya yang sedang mengandung.”

__ADS_1


Mawar menangis mendengar berita sedih itu. “Kasihan Tuan King."


“Tak perlu bersedih King sudah bisa move on.”


“Tuan King sudah menikah lagi?” tanya Mawar.


“Tidak. Ia menyukaimu.”


“Tuan King suka sama aku?” Mawar tidak percaya.


“King selalu melihatmu saat kamu berada di taman. Saat malam juga ia akan diam-diam melihatmu di kamarmu. Apa itu tidak bisa dibilang suka?”


Perasaan Mawar bercampur aduk. Ia memutuskan untuk masuk ke kamar lalu tidur. 


Di luar kamar.


“Keluar. Tunjukkan dirimu. Sampai kapan kamu mau sembunyi terus.” Prince tahu King membuntuti dirinya dan Mawar. King keluar dari persembunyiannya.


“Aku sudah memberitahukan kepadanya jika kau menyukainya. Sepertinya ia juga tidak membencimu. Ia memilih wajahmu daripada wajahku yang tampan ini. Sekarang giliranmu untuk mendekatinya dengan berani. Kalau terlalu lama nanti ia bisa terperangkap dengan pesonaku baru tahu rasa.”


Keesokkan harinya. 


Saat Mawar hendak ke taman, King sudah berada di depan kamar Mawar. “Aku akan menemanimu. Aku akan menemanimu. Aku akan menemanimu.” King melatih ucapannya berulang kali. Ia sangat gugup. Keringat menetes di pelipisnya. 


Pelayan membuka pintu kamar untuk Mawar.

__ADS_1


“Tuan ...” Pelayan itu memberi hormat untuk King.


“Aku akan menemanimu.” King mengatasi kegugupannya. Tangan Mawar menggandeng tangan King. Mereka berjalan menuju ke taman.


__ADS_2