Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
Kedatangan Mertua 2


__ADS_3

Suara burung berkicau riang. Ayam jago pun berkokok bersautan. Mereka tak mau kalah menyambut datangnya sinar mentari pagi.


Suasana pagi ini terlihat lebih cerah daripada kemarin. Tidak ada kabut yang menyelimuti pagi. Namun hal tersebut berbanding terbalik dengan suasana hati anak manusia yang masih bergulung di bawah selimut. Ia seolah enggan menyambut datangnya pagi.


Ia masih berduka. Kepergian almarhum suaminya membuatnya sangat terpukul. Di usianya yang tergolong sangat muda, ia merasa belum siap menyandang status janda. Namun ia pun tak kuasa untuk melawan predestinasi Sang Maha Kuasa.


Terdengar suara pintu diketuk dan derit pintu terbuka bergantian. Rianti melangkah pelan memasuki kamar Himeka. Ia menuju jendela besar di kamar Meka. Ia membuka tirai jendela agar sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar.


Semalam Rianti tidak tidur di sini, ia tidur di kamar Navya. Setelah membacakan buku cerita untuknya, ia pun berbaring di sebelah Navya dan tertidur di sana.


"Meka ayo bangun." Rianti mengguncang pelan tubuh Himeka untuk membangunkannya.


Himeka mengerjapkan mata. Cahaya matahari membuatnya sedikit silau. Setelah berhasil membuka mata, ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sambil tangannya memeluk guling.


Terlihat wajahnya yang sangat kacau. Bukan hanya karena ia baru bangun tidur, melainkan matanya yang terlibat sembab dengan wajah yang pucat. Menandakan bahwa ia telah menangis semalaman.


"Navya udah bangun?" tanya Himeka dengan suara parau khas orang bangun tidur.


"Tadi ketika aku ke sini sih Vya masih tidur." jawab Rianti sembari menyodorkan gelas berisi air putih hangat.


Tangan Himeka terulur menerima menerima gelas tersebut. Namun ia tak lekas meminumnya, ia menatap gelas tersebut dengan mimik wajah sendu


"Biasanya Mas Dana yang selalu memberikanku air putih hangat setiap pagi."


Kebiasaan Himeka adalah minum segelas air putih hangat di pagi hari setelah bangun tidur. Dan selama ini suaminya yang selalu memberikannya minuman tersebut.


Rianti tak memberikan tanggapan sepatah kata pun. Ia hanya mendudukkan diri di tempat tidur di dekat Himeka. Tangannya tergerak mengelus pelan pundak Himeka, seolah menyalurkan kekuatan.


Perlahan Himeka mengangkat gelasnya dan mulai meminumnya. Setelah dirasa cukup, ia segera meletakkan gelas yang masih tersisa separo itu di naci dekat tempat tidur.


"Himeka, maaf. Kayaknya hari ini aku harus segera pergi ke Bandung. Karena novel aku akan segera launching dalam waktu dekat. Jadinya ada yang harus aku selesaikan disana." ujar Rianti. Rianti adalah seorang penulis novel yang karyanya sudah banyak dibukukan.


"Iya, Ti. Semoga sukses selalu untuk semua karya kamu ya." jawab Himeka dengan ulas senyum di wajahnya.


"Ya sudah aku mau ke bawah dulu ya. Siapa tau Mak Tum butuh bantuan ku menyiapkan sarapan pagi." Himeka hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Rianti segera melangkahkan kakinya keluar kamar Himeka. Ketika baru sampai anak tangga ketiga ada seseorang memanggilnya.


"Tante." panggil Navya sambil tangan kanannya mengucek mata dan tangan kirinya memeluk boneka hello kitty kesayangannya.


"Iya, Sayang." jawab Rianti mendekat.


"Bunda mana, Tan?"


"Bunda masih baru bangun tidur, Sayang. Mungkin sekarang bunda lagi mandi." jawab Rianti dengan di akhiri dengan senyum


"Vya, ayo ikut tante ke bawah," lanjutnya sembari menggandeng tangan mungil Navya


"Iya, Tan. Tante buatin Vya susu yang enak ya."


"Iya, Sayang."


Ketika mereka akan berjalan menuju ke dapur, pandangan Navya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di teras belakang rumah sambil memegang koran di tangannya.


"Kakek. Selamat pagi, Kek." seru Navya dan langsung berhambur di pangkuan seraya mencium pipi kiri sang kakek.


"Selamat pagi juga cucu cantik kakek." jawab kakek sambil mencubit pipi Navya, gemas.


Ia berjalan di pojok kanan dekat kolam ikan. Ia meraih toples isi makanan ikan dan membuka tutupnya. Tangannya terulur mengambil makanan ikan dan perlahan menaburkannya ke dalam kolam. Ikan-ikan berenang kegirangan menyambut makanan yang ditaburkan oleh majikannya.


"Navya." panggil Himeka.


"Iya, Bunda." jawab Navya dengan mata yang masih tertuju pada ikan-ikan di dalam kolam yang sedang asyik menyantap makanannya.


"Ini susunya diminum dulu." kata Himeka seraya mengulurkan segelas kecil penuh berisi susu rasa vanila kesukaan putrinya.


Segera Navya pun meneguknya hingga tak bersisa. Terlihat sisa-sisa susu disudut bibir mungilnya.


"Ya sudah sekarang Vya mandi sama Mbak Rina dulu ya." kata Himeka sambil mengusap ujung bibir Navya membersihkan sisa susu.


"Iya, Bunda." jawab Navya seraya mencium pipi kanan bundanya dan segera berlari ke arah Mbak Rina berdiri.

__ADS_1


Himeka membereskan toples isi makanan ikan dan menyimpannya kembali di rak dekat kolam ikan. Setelahnya ia berjalan ke arah Pak Dhirga dan duduk di kursi di samping Pak Dhirga.


Tahu menantunya duduk di sampingnya, segera Pak Dhirga melipat koran yang dipegang dan menyimpannya di rak koran tak jauh dari tempat ia duduk.


"Nduk, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Pak Dhirga sembari melepas kacamata.


"Belum tahu, Pa." jawab Himeka dengan diiringi gelengan kepala


"Bagaimana kalau kalian ikut papa aja tinggal di Jogja?"


Lagi-lagi Himeka menggeleng. "Maaf, Pa. Meka gak bisa. Meka masih tetap ingin tinggal di sini. Di sini Meka merasa dekat dengan Mas Dana."


Bagaiamana pun ia tidak ingin berpisah jauh dengan almarhum suaminya. Di Surabaya ia merasa dekat dengan almarhum suaminya karena ia bisa sewaktu-waktu mengunjungi makamnya.


"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Papa juga tidak bisa memaksa." kata Pak Dhirga sambil melipat koran yang tadi ia baca dan meletakkannya di rak sebelah kanannya.


Himeka mengangguk dan mengulas senyum di bibirnya. Ia bersyukur mempunyai mertua seperti Pak Dhirga yang selalu tulus menyayanginya. Beliau menganggapnya sebagai putrinya sendiri.


"Nduk, kamu tidak usah khawatir. Untuk biaya hidup kalian biar papa yang menanggungnya."


"Terimakasih, Pa."


"Atau kalau kamu bersedia, kamu bisa ikut bantu Papa. Ada posisi kosong yang bisa kamu tempati."


Himeka menggelengkan kepalanya. Bukan ia malas bekerja, namun ia belum ada pengalaman untuk bekerja di kantoran.


"Maaf, Pa, untuk saat ini Meka ingin seperti ini dulu."


.


.


.


Tinggalkan jejak like, komennya ya teman-teman.

__ADS_1


Jangan lupa rate 5 dan favoritkan juga, biar kalian tidak ketinggalan update dari author receh ini 🤗


Salam ketjup basah💋


__ADS_2