Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
F3 Melamar Dirinya


__ADS_3

“Sesekali tidak apa-apa. Kalau kita makan yang enak, kita akan merasa senang. Kalau kita senang, kita akan cepat sembuh.” Sandra berkelit.


Jamie masih menemani Sandra. Mereka menonton acara komedi sekarang. Jamie tertawa.


“Kakak terlihat tampan saat tertawa. Senyum Kakak manis.” Sandra jadi teringat Jonathan. Sandra mengeluarkan air matanya.


Jamie mengambilkan tisu.


"Terima kasih, Kak. Aku keinget Jonathan."


Tak terasa waktu berlalu. Ibu Sandra datang dan Jamie pamit pulang. 


“Terima kasih, Kak sudah menemaniku. Besok datang lagi, ya.”


“Nak ...” Ibu Sandra belum berkenalan.


“Jamie. Nama saya Jamie, Tante.”


”Nak Jamie, terima kasih sudah menemani Sandra.” Ibu Sandra ikut berterima kasih.


Jamie pulang ke rumahnya. Sedangkan Sandra dan ibunya membicarakan tentang Jamie. 


“Kamu ketemu Jamie di mana?”


“Di atap rumah sakit.”

__ADS_1


“Sandra, kamu baik-baik saja?”


Air mata Sandra menetes. Ia tidak baik-baik saja. Kehilangan Jonathan membuat dirinya rapuh. Ibu Sandra memberi pelukan erat untuk putrinya.


Keesokkan harinya Jamie datang lagi. 


“Kakak tidak bekerja hari ini?”


“Aku sudah melamar pekerjaan. Aku sedang menunggu panggilan.”


Sandra senang ada yang menemani dirinya di rumah sakit. Terasa sepi karena tak ada Jonathan lagi.


“San, kamu sakit apa?”


“Tumor.”


“Tidak bisa.”


Suasana menjadi hening seketika. Jamie bingung harus berkata apa. Jika hanya penyakit biasa seperti flu, batuk ringan, pilek mungkin ia bisa mengatakan “Semoga cepat sembuh”. Tapi bagaimana dengan penyakit tumor yang tidak bisa disembuhkan.


“Aku sewaktu-waktu bisa meninggal. Saat ini aku sedang menunggu malaikat maut. Aku berharap malaikat yang mencabut nyawaku setampan Kakak. Biar aku bisa meninggal dalam damai,” kata Sandra.


Jamie tersenyum. “Haruskah aku mati terlebih dahulu supaya aku bisa jadi malaikat maut buatmu?”


“Kak, jangan bicara yang aneh-aneh. Perkataan itu doa. Aku cabut ucapan Kakak.”

__ADS_1


Sandra tahu apa yang terjadi kemarin di atap rumah sakit. Ia tahu Joshua hendak menjatuhkan dirinya. Ia sengaja jatuh supaya perhatian Jamie teralih ke dirinya.


“Orang yang hidup ingin mati. Orang yang sekarat ingin hidup. Kadang dunia itu aneh, ya. Kak. Apapun masalah Kakak. Apapun kekhawatiran Kakak. Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. Neraka sudah penuh sesak. Jangan membuatnya semakin sesak. Mana apinya besar di sana. Kakak pasti kepanasan. Gelombang udara panas lebih dahsyat di sana. Apalagi nggak ada AC di sana.”


Jamie mentertawakan keputusan bodohnya kemarin.


“Kakak nggak gila, kan? Apa kecelakaan kemarin membuat otak Kakak jadi miring?” Sandra melihat Jamie yang tidak berhenti tertawa.


“Aku masih normal kok.” Jamie mengetuk kepalanya ringan dengan kepalan tangannya.


Setiap hari Jamie mengunjungi Sandra. Ia memberi tahu Sandra jika ia mendapatkan pekerjaan.


“Selamat Kak. Aku turut senang walaupun aku nggak ada yang temenin lagi.”


“Nanti kalau jam istirahat, aku telepon kamu.”


“Jangan lupa juga habis gajian pertama, Kakak harus traktir aku. Aku sudah sering mentraktir Kakak, kita harus gantian.”


"Iya. Iya."


Walaupun sudah bekerja, Jamie tetap mengunjungi Sandra setelah pulang dari tempat kerja. Ia memberitahu kegiatannya di tempat kerja yang baru.


“Ada yang lucu hari ini. Bos aku itu tubuhnya kan besar dan macho. Tapi ia langsung berteriak saat ada kecoa numpang lewat di dekatnya. Semua yang lihat ketawa.”


*Bos dimaksud Jamie di sini adalah Arman, ayah Kai. Ceritanya bisa dibaca di bagian D.

__ADS_1


Sandra dan Jamie tertawa lagi. Jauh di lubuk hatinya Sandra juga menginginkan kehidupan yang normal. Bukan hanya berada di rumah sakit.


Saat Jamie datang lagi, ia melamar Sandra. Sandra ingin menerima lamaran Jamie, tetapi ia tahu ia punya banyak keterbatasan.


__ADS_2