Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
C3 Berdoa Yang Terbaik


__ADS_3

Emi tiba di apartemen Violet. Ia terlihat begitu canggung.


“Emi, selamat datang di keluarga kami. Kenalkan. Saya Violet, kakak ipar Steven. Ini Mas Agus, kakak Steven.” Violet memperkenalkan dirinya.


Emi terlihat bingung. Steven dan Agus sangat tidak mirip. Badan Agus kecil dan mungil sedangkan Steven tinggi dan berisi.


“Kamu bingung, ya. Aku dulu juga bingung. Mereka satu ayah beda ibu. Ibu Steven orang Amerika,” terang Violet.


“Tapi jangan pakai bahasa Inggris ke Steven. Ia nggak bisa bahasa Inggris.” Agus berkelakar.


“Yang ngomong juga nggak bisa bahasa Inggris.” Steven membela dirinya.


Violet lalu menggandeng tangan Emi dan membawanya ke kamar tamu. Violet berjalan pelan karena ia sedang hamil besar dan menunggu persalinannya. “Maaf, ya jalanku lambat.”


“Nggak pa pa, Kak.”


Mereka tiba di kamar tamu. “Sementara ini kamu tinggal bersama kami. Apa kamu bawa baju ganti?”


“Tidak. Tadi kak Steven langsung mengantar saya ke sini.” Emi sampai sekarang masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Satu persatu kejadian berlangsung begitu cepat dalam beberapa jam ini. Dari perselingkuhan kekasihnya lanjut ke reporter lalu pesta pernikahan.

__ADS_1


“Kamu pakai bajuku aja. Sepertinya ukuran kita sama. Ukuran sebelum aku hamil maksudnya.” Violet menuju ke lemari pakaiannya. Pakaian sebelum ia mengandung sudah ia simpan karena ukuran tubuhnya agak membengkak saat mengandung.


“Bawa ini dan ini ke kamarmu. Kalau ada yang kurang bilang saja.” Violet memberikan pakaiannya.


“Terima kasih, Kak.”


Sementara itu di ruang lain. Agus menginterogasi sang adik. Ia merasa dikhianati. Ia tak tahu menahu soal Emi padahal mereka tinggal bersebelahan.


“Apa maksudnya ini?”


“Kak, aku tak ada hubungan apa-apa dengan Emi. Sungguh. Sumpah.”


“Sumpahmu tidak bisa dipercaya.” Agus tak ingin dibohongi lagi oleh Steven.


“Aku cuma bantu bersihin mascaranya Emi. Itu saja, Kak. Terserah Kakak mau percaya atau tidak.”


“Baiklah. Aku percaya. Lalu bagaimana dengan pesta pernikahan. Kamu setuju? Emi setuju?”


“Aku tidak tahu dengan Emi. Tapi aku terpaksa menikah dengan Emi. Kalau tidak, aku tidak akan mendapat harta ayah.”

__ADS_1


Violet memesan makanan untuk mereka berempat. Emi masih terlihat malu-malu.


“Makan yang banyak. Jangan malu-malu. Kalau kurang kita bisa pesan lagi atau minta Mas Agus masak.” Violet menaruh lauk di piring Emi.


Selesai makan, mereka masuk ke kamar masing-masing. Sedangkan Steven pulang ke apartemennya.


Di ranjang.


Violet menjulurkan kakinya. Perutnya sudah begitu besar.


“Jingga, ini Papa.” Agus mengelus-elus perut besar Violet. Jingga yang masih berada dalam perut menendang. “Jingga tau, ya Papa ada di sini.”


“Apa Mas setuju dengan pernikahan Steven? Aku merasa ada yang aneh. Steven pasti cerita ke kita jika ia naksir cewek atau berpacaran. Tapi ini malah tiba-tiba mau menikah. Dua hari lagi.”


“Ini karena ancaman Ayah. Steven takut kehilangan warisannya.” Agus menceritakan yang sebenarnya. “Kalau dipikir-pikir kisah Steven mirip kisah kita juga. Ketemu langsung menikah.”


“Betul juga. Kenapa Mas dulu bisa ada di gedung pernikahanku?”


“Aku dulu itu lagi stuck. Nggak ada ide yang muncul. Iseng-iseng aku ke acara kondangan biar dapat makanan gratis. Eh malah dapat bonus istri.”

__ADS_1


Violet dan Agus hanya bisa tersenyum mengenang masa lalu.


“Semoga Steven itu jodohnya Emi.” Mereka berdoa yang terbaik untuk Steven.


__ADS_2