
Tuhan tolong bantu aku menyelamatkannya.. Aku tidak mau kehilangan dia. Tolong bantu aku... Doa August tak henti di dalam lift.
Bagitu pintu lift terbuka August langsung berlari menuju kamar yang mereka tuju.
"Cepat buka pintunya" desak August tidak sabaran.
"Sebentar Pak" ucap salah satu pria.
Braaaak....
Pintu berhasil dibuka dan August berang melihat pemandangan yang sedang terjadi dihadapannya.
Pria itu sudah berada diatas tubuh Oryza yang sudah hampir telanjang. Gaun Oryza sudah naik sampai ke perut menampilkan kaki putih mulus.
Oryza merintih dan menangis memohon ampunan. Dia berusaha untuk menolak semua perbuatan pria itu.
"Tolong... aku mohon jangan lakukan ini" tangis Oryza.
"Brengsek kamu" August menarik pakaian pria itu dari belakang dengan sangat kuat sehingga pria itu terlempar dan terjatuh ke lantai.
"Siapa kalian? mengapa kalian bisa masuk kesini?" tanya Pria itu marah.
"Beraninya kamu menyentuh wanitaku. Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya. Mati kamu" ucap August penuh emosi.
August memukul Rakha dengan membabi buta. Tak kenal ampun, August bagaikan banteng ngamuk yang tidak ada bisa menghentikannya.
Kedua security yang ikut bersamanya tidak bisa melerai perkelahian itu. Sangat sulit menghentikan amukan August.
Pukulan dan tendangan terus diterima Rakha hingga dia babak belur. Wajahnya kini sudah berdarah, pakaiannya sudah tak berbentuk lagi.
August benar-benar seperti singa yang senang marah dan mengamuk.
"Pak sudah Pak, jangan main hakim sendiri. Biar kami bawa anak ini ke kantor polisi" cegah security.
"Tidak dia harus mati. Dia sudah menyentuh wanitaku" ucap August.
Oryza membenahi pakaiannya yang sudah tak beraturan. Kemudian dia berusaha menguasai keadaan dan mengatasi syoknya. Oryza melihat August sedang memukul Rakha.
"Kak August hentikan.." cegah Oryza.
Karena emosinya memuncak August tidak mendengar teriakan Oryza.
Oryza memeluk tubuh August dari belakang. Sontak August terkejut dan menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Sudah kak sudah... tolong kamu hentikan. Aku sudah tidak apa-apa. Dia belum sempat memperkosaku" isak Oryza.
August melepaskan pelukan Oryza kemudian dia berbalik dan memeluk Oryza.
"Syukurlah kamu selamat. Aku tidak terlambat, aku sangat takut sesuatu terjadi padamu Oryza" ucap August.
Dua security itu langsung membekuk Rakha dan membawanya kepihak yang berwajib. Kini hanya tinggal August dan Sheila berdua di dalam kamar dan saling berpelukan.
"Terimakasih kak, Kakak sudah menyelamatkan aku dua kali" ucap Oryza sambil terisak.
"Aku.. aku tak tau apa yang akan terjadi jika aku tak sempat menyelamatkanmu Oryza. Rasanya jantungku hampir berhenti berdetak dan aku sulit bernafas. Aku tidak bisa kehilanganmu. Maafkan aku.. Aku tidak bisa menganggapmu sebagai adikku. Mungkin aku salah.. Maafkan aku yang sudah mencintaimu. Aku tidak bisa kehilangan kamu Oryza" ucap August masih memeluk Oryza.
Oryza terkejut sekaligus bahagia mendengar kata-kata August.
"Kak... aku juga mencintai kakak. Berulang kali kucoba menghilangkan rasa ini. Aku takut kakak menolak perasaanku. Kakak hanya menganggap aku anak kecil yang dulu sering mengikuti kemanapun kakak dan kak omar pergi. Aku yang selalu mengganggu dan meminta kakak untuk menggendongku. Aku takut kakak hanya menganggapku sebagai seorang adik saja" ungkap Oryza.
"Tidak sayang.. Kini aku menyadari perasaan itu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Bisa gila aku jika sesuatu terjadi padamu" tegas August.
Mereka sudah bisa bernafas lega dan tersenyum bahagia. Ternyata mereka menyimpan perasaan yang sama.
"Oryza aku tak bisa menunggu lama. Usiaku sudah semakin bertambah. Aku tidak mau semakin tua dan tidak pantas lagi bersanding denganmu di pelaminan. Jadi sekarang aku bertanya padamu. Maukah kau menikah denganku?" tanya August.
"Aku mau kak tapi aku masih kuliah. Apakah Mama dan Kak Omar menyetujui hubungan kita?" Oryza balik bertanya.
August melepaskan Jas yang dia pakai. Kini dia hanya memakai kemeja yang lengannya digulung sampai siku.
"Minum dulu agar kamu lebih tenang. Mari kita fikirkan secara jernih agar kita menemukan jalan keluarnya" August memberikan segelas minuman kepada Oryza.
Oryza menyambut dan meminumnya.
Tak lama Hp Oryza berbunyi, dia meraih tasnya dan mengeluarkan hp dari dalam tasnya.
"Kak Jasmine menelepon kak?" ucap Oryza panik.
"Jangan panik, angkat dan ceritakan semua. Lebih baik kita jujur dari pada harus sembunyi" tegas August.
"Halo Mbak Jasmine" sapa Oryza memulai pembicaraan.
"Za.. kakak mencari kamu dari tadi tapi kakak tidak menemukan kamu. Tadi kakak melihat ada seorang pria yang cidera dibawa polisi. Dua security memberikan keterangan kalau pria itu baru saja mencoba melakukan percobaan pemerkosaan. Dan saat ditanya siapa nama korbannya mereka menyebut nama kamu. Benar Za, kamu dimana sekarang? Kami semua sangat cemas?" tanya Jasmine dengan suara panik.
__ADS_1
"Benar Kak. Aku sekarang ada dikamar 456. Alhamdullah aku selamat Kak" jawab Oryza.
"Baiklah kami akan segera kesana. Kamu tunggu disitu ya" ucap Jasmine.
Kemudian telepon terputus.
"Jasmine berkata apa?" tanya August.
"Mereka mendengar berita pemerkosaan di hotel ini kak dan mereka mendengar kalau korbannya adalah aku. Sekarang mereka sedang kemari kak. Kita harus bagaimana?" desak Oryza.
"Kamu tenang saja. Nanti kakak yang akan bercerita pada mereka" jawab August.
Tak lama kemudian Omar, Jasmine, Zahra dan Kevin sudah sampai ke kamar yang disebutkan Oryza tadi.
August membuka pintu dengan tenang.
"August" ucap mereka bersamaan.
"Ya.. Aku disini menyelamatkan Oryza" jawab August.
Zahra berlari masuk dan memeluk putrinya.
"Alhamdulillah, syukurlah kamu selamat sayang..." Zahra menangis memeluk Oryza.
"Iya Ma.. untung Kak August datang tepat waktu. Aku bisa diselamatkannya. Kalau dia telat sedikit saja aku tidak tau apa yang akan aku alami Ma" tangis Oryza kembali pecah.
"Sekali lagi terimakasih Gus, kamu sudah dua kali menyelamatkan adikku" ucap Omar.
"Sudah kewajibanku melindungi wanita yang aku cintai Mar" jawab August tegas.
"Apa maksud kamu?" tanya Omar bingung.
"Tante, Omar izinkan aku melamar Oryza malam ini. Aku ingin menikahinya. Aku tak ingin hal ini terjadi lagi untuk yang ketiga kalinya dan aku takut aku tidak bisa menjaga dan menyelamatkannya. Jadi aku ingin dia tetap berada di sisiku. Izinkan aku menikahinya" August meminta izin.
"Tapi bagaimana bisa Bro, Oryza adik Omar yang artinya adik kita juga. Bagaimana bisa kamu mempunyai perasaan itu padanya?" tanya Kevin penasaran.
"Rasa itu hadir sendiri tanpa dapat kucegah. Setiap aku melihatnya aku merasa nyaman dan saat aku berjauhan dengannya aku merasa sepi. Bahkan tadi saat aku melihat dia dalam bahaya rasanya aku hampir mati. Jantungku rasanya berhenti dan aku kesulitan bernafas. Aku sangat takut kehilangan Oryza. Bagiku dia bukan seperti adik lagi tapi dia adalah wanita dewasa yang pantas aku nikahi. Aku mencintainya Omar, Kevin" ungkap August serius.
Oryza sangat tegang melihat wajah Omar yang dingin dan tanpa ekapresi. Biasanya kalau seperti ini kakaknya itu sedang emosi dan marah.
"Tidak... aku tidak menyetujuinya"
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG