BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 111


__ADS_3

Tibalah akhir pekan. Omar dan Jasmine memutuskan untuk menghabiskan waktu dirumah saja. Mereka enggan untuk keluar rumah.


Omar sedang duduk santai di gazebo dekat taman belakang rumahnya sambil menikmati pemandangan kolam ikan beserta isinya.



Zahra datang menghampirinya dengan membawa sepiring kecil cake yang baru saja sibuatnya.


"Sayang cobain nih cake buatan Mama, hasil karya ekperimen Mama yang baru" Zahra menyerahkan piring cake yang dia bawa kepada Omar.



Omar mulai menyicipinya.


"Enak?" tanya Zahra.


"Enak Ma, rasa apa ini. Sepertinya baru kali ini aku memakannya?" tanya Omar balik.


"Mama kasih nama Cake Bayam Sehat" jawab Zahra.


"Sayur bisa dibuat jadi cake ya Ma?" Tanya Omar takjub.


"Bisa donk sayang asal komposisinya pas, rasanya enak dan sehat. Target pasarnya untuk anak-anak yang tidak suka makan sayur" ungkap Zahra.


"Wah pas banget tu Ma. Aku rasa akan banyak yang suka. Selain anak-anak suka, para orangtua juga pasti akan memilih makanan yang seperti ini untuk anak mereka" dukung Omar.


Omar kembali menikmati cake yang ada dipiring.


"Mar ada yang ingin Mama bicarakan pada kamu" ucap Zahra memulai pembicaraan.


"Tentang apa Ma, sepertinya serius sekali?" tanya Omar penasaran.


"Tentang Adik kamu" balas Zahra.


"Ada apa dengan Oryza, dia sakit?" tanya Omar lagi.

__ADS_1


"Dia sehat-sehat aja. Omar ... jangan pura-pura gak tau ah.. kemana arah pembicaraan Mama. Ini tentang hubungannya dengan August" ungkap Mamanya.


"Ma..." panggil Omar lembut.


"Dengar Mama ya... Biar Mama yang berbicara lebih dulu" ucap Zahra.


Omar diam dan mengalah, membiarkan Mamanya untuk bercerita.


"Kami sebagai orangtua selalu berfikir tentang kebahagiaan anak-anaknya. Walah hati kami sakit, badan kami letih semua tidak jadi masalah. Asalkan kami bisa melihat anak-anak kami bahagia. Melihat tawa kalian semua luka dan lelah kami sebagai orangtua hilang. Sebentar lagi kamu akan menjadi orangtua. Pada saat itu kamu akan mengerti rasanya" ucap Zahra panjang.


"Tentang menikah, Mama tidak pernah memberikan standart yang tinggi kepada para menantu Mama. Mama hanya meminta tiga syarat. Soleh, bertanggung jawab dan pekerja keras. Tak peduli siapa dia, keluarganya, latar belakangnya dan pekerjaannya. Kalau anak-anak Mama mendapat pasangan yang lebih dari syarat Mama, Mama anggap itu adalah bonus buat kalian. Seperti kamu, mendapat istri yang solehah, cantik, baik, lemah lembut, keibuan, latar belakang keluarganya juga baik, punya beberapa usaha. Itu adalah bonus yang besar untuk kamu Omar. Syarat dari Mama sudah cukup. Istri kamu solehah, baik dan bertanggung jawab, dia juga pekerja keras. Kamu beruntung mendapatkannya" Puji Zahra.


"Begitu juga Oryza. Mama harap dia juga seberuntung kamu dalam mendapatkan pasangan. August pria yang baik, walau tingkat kesolehannya masih dalam proses tapi dia pria yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Kamu tau kan bagaimana seriusnya dia dalam bekerja. Bonusnya untuk kita, kita sudah mengenal dia sejak lama dan juga keluarganya. Mama bisa hidup dengan tenang jika mempunyai menantu seperti Jasmine dan August sayang... Mama bisa menyerahkan anak-anak kesayangan Mama hidup bersama orang yang tepat dan mencintai kalian. Tidak adalagi kebahagiaan yang lebih besar dari itu" sambung Zahra.


"Beberapa hari yang lalu August menemui Mama, dia berbicara sangat serius kepada Mama. Dia mencoba meyakinkan Mama untuk mendapatkan restu Mama. Mama sebagai orangtua merestui mereka sayang. Sekarang Oryza sudah mulai dewasa dan sudah banyak berubah. Dia tidak manja seperti dulu lagi. Apa kamu tidak bisa merasakannya?" tanya Zahra.


Omar terdiam mendengar cerita Mamanya.


"Mama tau kegalauan kamu dan juga ketakutan-ketakutan kamu. Oryza bukan anak kecil lagi. Usianya sudah lebih dua puluh tahun. Tahun ini akan masuk dua puluh satu tahun. Sudah dewasa dari segi umur. Dari segi agama juga sudah pantas untuk menikah. Mengenai kuliahnya, August berjanji tidak akan menghalangi Oryza kuliah. Dia akan mendukung kuliah Oryza sampai selesai. Dia berjanji tidak akan memberatkan Oryza dengan tugas-tugas rumah tangga. Kamu kenal baik August kan? Kalau dia sudah berjanji, dia pasti tidak akan ingkar. Hanya satu permintaannya pada kita. Jangan halangi atau cegah Oryza untuk hamil. Dia ingin secepatnya memiliki anak Sayang... Karena anak itu adalah ikatan dalam pernikahan. August berjanji jika Oryza hamil dia akan menjaga Oryza dengan baik sebisa mungkin tidak akan mengganggu kuliahnya" terang Zahra dengan panjang.


Zahra menarik nafas panjang.


"Ma... aku akan merestui mereka setelah aku berbicara dengan Oryza. Aku ingin melihat dan bertanya langsung padanya tentang keseriusannya menikah dengan August" pinta Omar.


"Terimakasih sayang.. terimakasih kamu sudah memberi kesempatan untuk adik kamu mengutarakan keinginan hatinya. Mama akan panggil adik kamu sekarang ya" ucap Zahra bahagia.


Zahra segera berjalan menuju kedalam rumah memanggil Oryza di dalam kamarnya. Sementata Omar mencoba mencerna setiap perkataan Mamanya. Sepertinya tidak bagus untuk tetap berkeras hati dan menentang hubungan mereka. Tapi aku mau lihat bagaimana keseriusan Oryza ingin menikah dengan Jin iprit itu. Batin Omar.


"Oza sayang" panggil Zahra.


"Ya Ma, masuk aja Ma" balas Oryza dari dalam kamar.


Zahra membuka pintu kamar anak gadisnya dan melihat Oryza sedang duduk di sofa kamarnya sedang memangku laptop diatas pahanya.


__ADS_1


"Sayang... Kakak kamu ingin berbicara dengan kamu" ucap Zahra.


Sontak Oryza langsung duduk karena terkejut.


"Ma..." ucap Oryza.


"Gak apa-apa sayang. Kalau kakak kamu bertanya jawab saja dengan jujur dan apa adanya. Ikuti kata hati kamu. Ini jalan hidup kamu, perjuangkanlah sekuat tenaga agar kamu tidak menyesal kelak" nasehat Zahra sambil membelai lembut kepala Oryza.


Oryza segera bangkit dari temoat tidurnya.


"Samperin kakak kamu, saat ini dia sedang duduk di gazebo belakang" ucap Zahra.


"Baik Ma" jawab Oryza.


Oryza berjalan menuju gazebo dengan jantung yang berdetak kencang.


"Kata Mama, kakak memanggil Oza" ucapnya pada kakaknya.


"Duduk Za, kakak mau ngobrol sama kamu" pinta Omar


Oryza duduk tepat didepan kakaknya. Walau ada rasa takut tapi Oryza berusaha tersenyum dan menghadapinya. Dia harus kuat demi masa depannya, demi hidupnya dan demi cintanya.



"Kamu serius mau menikah?" tanya Omar.


"Iya Kak" jawabnya singkat.


"Menurut kamu apa artinya pernikahan?" tanya Omar tiba-tiba.


Deg.... mati aku. Pertanyaan kakak udah ngalahin dosen saat sidang meja hijau. Aku harus jawab apa. Tolong aku authooooor....


Teriak batin Oryza


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2