
"Menurut kamu apa artinya pernikahan?" tanya Omar tiba-tiba.
Deg.... mati aku. Pertanyaan kakak udah ngalahin dosen saat sidang meja hijau. Aku harus bisa menjawab pertanyaan kakak dengan benar agar kakak yakin dengan kesungguhanku untuk menikah dengan kak August.
"Menikah adalah menyempurnakan separuh agama Kak" jawab Oryza dengan benar, Omar tidak menyangka adiknya itu akan menjawab pertanyaannya dengan jawaban itu.
"Kamu sudah mempunyai persiapan?" tanya Omar lagi.
"Sudah, seperti yang kakak lihat aku berusaha untuk memperbaiki diri. Menjadi wanita yang lebih baik lagi kedepannya" balas Oryza.
Yah benar jawab Oryza, sekarang dia memang terlihat lebih solehah. Batin Omar.
"Apa yang kamu bayangkan mengenai pernikahan?" Omar seperti mengintrogasi seorang tertuduh yang telah melakukan kejahatan.
"Beribadah Kak, karena apapun yang aku lakukan kelak untuk suamiku semua adalah ibadah. Asalkan aku ikhlas menjalaninya aku akan mendapatkan pahala" jawabnya dengan hati-hati.
Baiklah sejauh ini jawaban kamu bagus Za. Batin Omar.
Omar terlihat sedang berfikir keras.
"Apa yang membuat kamu yakin untuk menikah?" Omar bertanya lagi.
"Kak... aku tau kakak sangat menyayangiku. Tapi kakak tidak akan bisa selalu menjagaku dan berada disisiku. Kakak mempunyai keluarga kecil kakak. Kejadian di hotel kemarin menyadarakanku bahwa aku membutuhkan seseorang yang akan menjagaku dengan baik seumur hidupnya. Dan hatiku memilih Kak August" ungkap Oryza.
"Mengapa kamu memilihnya Za, bukankah kamu sudah mengenalnya sejak kecil. Tidak kah kamu menganggap dia sama seperti kakak. Ya sebagai kakak kamu?" desak Omar.
"Dulu iya kak, tapi sekarang aku sudah semakin dewasa, aku sadar tidak akan mungkin menganggap pria asing mmm.. maksud aku pria yang tidak mempunyai hubungan darah denganku sebagai kakak. Dan tidak mungkin juga dia menjagaku dengan alasan aku ini adiknya. Kami tidak bersaudara dan kami boleh menikah kak. Agama tidak melarangnya kan?" jawab Oryza.
"Seiring berjalannya waktu rasa itu hadir kak. Awalnya aku kira hanya aku saja yang mempunyai perasaan itu, aku menyimpannya. Karena aku takut akan ditolak olehnya. Seperti yang kakak selalu bilang, aku takut kak August hanya menganggapku sebagai seorang adik. Hanya seorang adik. Tapi peristiwa di hotel itu membuat Kak August mengungkapkan perasaannya padaku. Aku sangat bahagia kak ternyata dia juga menyukaiku dan mencintaiku sebagai seorang wanita bukan sebagi seorang adik. Cintaku berbalas" Oryza terlihat sedih.
"Dia pria yang baik kak, menghormatiku sebagai wanita. Kalau dia ingin mempermainkan aku tak mungkin dia mau mengajakku menikah. Kakak yang lebih mengerti dan mengetahui siapa kak August sebenarnya, bagaimana sifatnya dan semua kelebihan yang dia miliki" airmata Oryza mulai menetes.
"Please kak, restui kami. Aku akan bahagia menikah dengan restu kalian. Aku tau kakak sangat menyayangiku, pasti kakak akan menyerahkanku pada pria yang benar dan baik kan? Apa Kak August kurang baik dimata kakak? Apa dia tidak pantas menjadi suamiku?" tanya Oryza.
Pertanyaan adiknya itu sebenarnya sudah ada jawabannya dihati Omar sejak beberapa waktu hari yang lalu. Hanya saja dia masih ragu dan ingin melihat sebesar apa perasaan dan perjuangan Oryza dan August untuk menyatukan cinta mereka.
"Oryza.... coba kamu hubungi August. Kakak ingin bertemu dan berbicara berdua dengannya" perintah Omar.
__ADS_1
Sontak Oryza tersentak, alangkah bahagianya hatinya mendengar kakaknya berkata begitu. Itu artinya Omar sudah memberikan lampu kuning untuk hubungan mereka.
"Terimakasih kak... terimakasih.. aku menyayangi kakak. Sangat menyayangi kakak" Oryza langsung memeluk Omar sambil terisak.
Omar membalas pelukan adiknya. Kini adiknya memang sudah dewasa, sudah waktunya dia melepaskan adiknya dan mengantarkannya pada pria yang tepat untuk menjadi suaminya.
"Aku ke kamar dulu ya Kak, aku akan menelpon Kak August dan menyuruhnya datang" pamit Oryza.
Oryza langsung berlari masuk kekamar sangkin bahagianya sudah mendapat restu dari kakaknya.
Dia segera meraih hpnya dan menghubungi August.
"Assalamu'alaikum calon istri" sapa August dengan ceria.
"Wa'alaikumsalam. Kak August, kakak segera datang kesini ya. Kak Omar ingin bertemu kakak. Cepat..." teriak Oryza girang.
"Oke... oke... aku akan kesana. Sabar ya" jawab August.
Telepon terputus. August segera bersiap menuju rumah Omar. Dari nada suara Oryza, August dapat membaca bahwa Omar sudah merestui hubungan mereka.
Tiga puluh menit waktu yang dia tempuh untuk sampai kerumah Omar. August langsung memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam rumah Omar mencari sahabatnya itu
"Assalamu'alaikum Tante" sapa August pada Zahra saat memasuki ruang keluarga.
"Lho August datang toh. Mau cari Oryza atau..." tanya Zahra.
"Omar Tante, aku mau ketemu Omar setelah itu baru Oryza" Potong August.
"Oooh .. Omar ada di belakang dekat kolam ikan" jawab Zahra.
"Aku kesana dulu ya Tante" pamit August.
August berjalan menuju tempat Omar bersantai siang itu.
"Cepat sekali kamu sampai?" sindir Omar.
"Takut kakak iparku ngambek dan membatalkan niatnya" goda August.
"Dasar" balas Omar.
__ADS_1
Mereka duduk bersama di gazebo itu dan mulai berbicara santai, seolah perang dingin beberapa minggu ini tidak pernah terjadi.
"Gus kamu tau kan apa yang aku dan Oryza alami sejak kecil? Bagaimana masalah keluarga kami dan bagaimana keadaan Oryza setelah kejadian Papa meninggal. Dia sangat kecil Gus, adikku sudah melihat sesuatu yang sangat menyakitkan saat dia masih kecil sehingga yah.. kamu taulah kelanjutannya" Mata Omar mulai berkaca-kaca.
"Setelah itu aku melarikan diri keluar negeri, meninggalkan dia sendiri disini bersama keluarga Om dan Tanteku. Aku jahat Gus sebagai kakak, aku egois hanya memikirkan perasaanku sendiri juga lukaku. Aku lupa ada hati yang lebih terluka dari aku sampai dia tak sanggup menerimanya sehingga dia melupakan kejadian itu. Selama aku diluar negeri dia pasti kesepian Gus tapi dia bertahan. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan ceria" airmata Omar mulai mengalir.
"Saat itu aku gagal melindungi adikku. Adik kecilku yang sangat aku sayangi. Saat aku sudah mulai bisa menguasai diriku aku pulang ke Indonesia dan aku sibuk dengan pekerjaan. Lagi-lagi aku lalai sebagai seorang kakak. Aku melupakannya dan membiarkannya sendirian. Aku hidup dengan duniaku sendiri tanpa memperdulikannya. Tapi dia tidak pernah mengeluh ataupun marah padaku Gus. Adikku itu sangat mengerti aku. Aku tau dia sering merindukanku. Aku melihat dari tatapannya tapi aku mengacuhkannya. Aku terlalu banyak bersalah padanya dan aku belum bisa membayar rasa bersalahku itu kepadanya" isak Omar.
August mengerti perasaan Omar saat ini dan dia tidak menyalahkan Omar mengapa Omar sangat berat memberikan restu untuknya menikahi adik kesayangan Omar.
"Tadi saat aku menanyakan tentang kamu aku melihat binar bahagia dari matanya Gus. Dia sangat senang dan bahagia. Dia memelukku Gus. Adikku sayang tidak tau kalau aku kakaknya ini sudah banyak bersalah padanya. Tanpa beban dia mengucapkan terimakasih padaku. Harusnya aku yang meminta maaf padanya. Maaf atas perbuatanku selama ini yang mengabaikannya" Omar menyeka airmatanya.
August hanya diam mendengarkan curahan hati Omar.
"Kini dia sudah dewasa Gus, dia memohon padaku untuk merestui kalian. Dengan berani dia mengatakan kepadaku kalau dia mencintaimu. Aku harus bagaimana Gus? Adikku jatuh cinta kepada kamu? Adik kecilku kini sudah dewasa. Dia meminta restu kepadaku untuk menikah? Hatiku sangat sakit jika aku menolak permintaannya. Aku akan menyakitinya lagi. Aku akan menjadi kakak yang jahat lagi Gus" Omar terisak.
"Mar... aku yakin Oryza mengerti keadaan kamu dan alasan kamu mengapa sangat berat memberikan restumu padaku. Aku sangat yakin Oryza tau kamu sangat menyayanginya" jawab August.
"Mungkin dengan memberikan restuku pada kalian aku berharap bisa membayar kesalahanku padanya. Tolong jaga dia Gus, dia adikku satu-satunya. Selama lima belas tahun dia mengalami masa sulit dan menyakitkan. Tolong bahagiakan dia. Hanya padamu aku bisa menggantungkan harapanku. Cintai dan sayangi adikku dengan jiwa ragamu. Tolong Gus" pinta Omar.
"Terimakasih Mar atas restu yang kamu berikan. Aku janji akan menjaga dan mencintainya seumur hidupku. Aku akan membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia didunia ini. Seperti janjiku kemarin aku janji padamu dia akan tetap kuliah, aku tidak akan membebaninya dengan urusan rumah tangga. Tapi aku tidak janji untuk tidak membuatnya hamil. Aku sangat menginginkannya Mar. Menginginkan kehadiran anak dari wanita yang sangat aku cintai. Maaf" pinta August.
"Aku tau... aku mengerti dan aku tidak akan mempersoalkannya lagi. Yang penting kebahagian adikku. Jika dia bahagia aku akan bahagia. Dan aku memberikan tanggung jawab itu kepada kamu" balas Omar.
"Terimakasih Mar... Terimakasih" August memeluk erat sahabatnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
Omar membalas pelukan August sambil menyeka airmatanya. Mereka tidak tau ada tiga wanita yang sedang berpelukan sambil berurai airmata mendengar pembicaraan mereka.
"Alhamdulillah Omar sudah merestui kalian Za" ucap Zahra sambil memeluk anak gadis tersayangnya.
.
.
BERSAMBUNG
Oke Readers... sudah bisa tidur dengan tenang kan???
Jangan ada yang nangis ya....
Tinggalkan jejak kalian
__ADS_1