BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 83


__ADS_3

"Silahkan duduk Om" Omar mempersilahkan Reynhard duduk di sofa dalam ruang kerjanya.


"Ada apa Mar, sepertinya pembicaraan kamu memang serius?" tanya Reynhard penasaran.


"Iya Om. Ini tentang kematian Papa" ucap Omar.


Reynhard terlihat terkejut mendengar pertanyaan Omar.


"Mengapa tiba-tiba kamu ingin membahasnya? Bukan dari dulu kamu paling marah ada orang yang membahas atau menyinggung tentang kematian Papa kamu?" ucap Reynhard.


"Aku ingin berdamai dengan masa lalu Om. Aku ingin sembuh dari rasa takut dan alergiku pada wanita" jawab Omar mencoba merahasiakan tujuan dari pertanyaannya sebenarnya.


"Bukannya alergi kamu tidak kambuh saat bersama dengan istri kamu?" tanya Reynhard lagi.


"Iya Om. Tapi rasanua sangat merepotkan kalau setiap ketemu wanita aku harus mual bahkan muntah. Rasanya sangat menyakitkan. Sekarangkan aku sudah dewasa Om. Aku rasa sekarang aku sudah kuat menghadapinya sekarang" jawab Omar.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Reynhard lembut pada ponakannya.


"Bagaimana kejadian sebenarnya, mengapa Papa sampai terbunuh. Dan apakah benar memang Mama pelakunya?" tanya Omar.


"Sepertinya kamu memang sudah benar-benar kuat menerimanya Mar. Bahkan sekarang kamu sudah bisa memanggil Mama pads Fath. Bukannya dari dulu kamu selalu menyebutnya dengan kata wanita itu?" tanya Reynhard.


"Apapun yang telah dia lakukan dan apapun kesalahannya dia tetap Mamaku Om, wanita yang telah melahirkan aku dan Oryza" jawab Omar.


"Ooh Fatimah Zahra. Anak kamu sekarang sudah menjadi pria dewasa yang kuat" gumam Reynhard.


Reynhard tampak sedang berfikir keras dan menarik nafas panjang.


"Baiklah Om akan menceritakan kejadian yang Om ketahui" ucap Reynhard.

__ADS_1


Omar mulai bersiap untuk mendengarkan semua penjelasan Omnya.


"Saat itu Om datang kerumah kalian karena ada berkas yang lupa ditanda tangani Papa kamu. Om berjalan masuk kedalam rumah mencari Papa kamu menuju ke ruang kerjanya. Om terkejut, Om seperti baru melihat sosok tubuh seorang pria keluar dari ruang kerja Mas Richard dengan tergesa-gesa kemudian menghilang entah kemana. Om tidak jadi mengejarnya karena Om mendengar teriakan Fath dari kamar mereka dan segera berlari menuju kamar Mas Richard dan mendengar suara tangisan Fath memanggil- manggil nama Mas Richard. Om segera membuka kamar Papa dan Mama kamu dan Om melihat Mas Richard sedang meregang nyawa diatas pangkuan Fath. Om melihat sebuah pisau tertancap diperut Mas Richard. Dan Fath sedang memegang pisau yang ada diperut papa kamu. Kemudian kamu datang dan melihat dengan mata kepala kamu sendiri. Om juga tidak tau pasti apa yang terjadi. Om menceritakan semua yang Om lihat saat itu kepada polisi mereka memeriksa semua bukti-bukti tetapi mereka tidak menemukannya. Rekaman cctv dan sidik jarinya semua hilang Mar. Fath juga bungkam dan tidak mau menyebut siapa nama pria itu. Satu-satunya saksi hanya Oryza tetapi dia pingsan dan melupakan kejadian itu. Berdasarkan pemeriksaan polisi Mama kamulah satu-satunya yang bersalah. Karena terdapat sidik jarinya dipisau yang tertancap diperut Papa kamu" ungkap Reynhard.


Omar terlihat sedang berfikir terlihat dari keningnya yang mengkerut.


"Apa tidak ada pelayan yang melihat atau mengenali siapa pria itu Om?" tanya Omar.


"Semua sudah diintrogasi polisi Mar. Tidak ada seorang pun yang melihatnya. Sepertinya Mama kamu menyembunyikannya" jawab Reynhard.


Mereka terdiam beberapa saat, sedang berfikir dengan fikirannya masing-masing.


"Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan lagi? Agar kamu merasa lebih puas dan lega?" tanya Reynhard.


"Mmm... sepertinya itu saja Om. Nanti kalau saya memikirkan sesuatu boleh kan saya bertanya lagi pada Om?" tanya Omar balik.


"Boleh. Kapan saja kamu ingin menanyakannya Om siap menjawabnya Mar" jawab Reynhard.


"Kalian anak-anak Mas Richard, Kakak kandung Om. Itu artinya kalian juga anak-anak Om. Om satu-satunya saudara Papa kamu. Kalau bukan Om siapa lagi" ungkap Reynhard.


"Iya Om. Sekali lagi terimakasih. Hanya itu yang bisa aku ucapkan" balas Omar.


"Baiklah kalau tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan. Om pulang dulu ya. Oh iya jangan lupa bawa Jasmine ke dokter, siapa tau ucapan Kevin tadi benar. Jasmine sedang hamil. Om pasti senang sekali akan mendapatkan cucu dari kamu. Sepertinya Kevin belum bisa diharapkan, dia masig asik main-main" ucap Reynhard.


"Mengenai Sheila aku rasa dia serius Om. Karena Sheila adalah sahabat Jasmine. Dia pasti tidak akan bermain-main dengannya. Kalau dia tidak suka pasti sudah dari dulu dia menolak perjodohan itu" sambung Omar.


"Om harap begitu Mar. Om tidak mau kerjanya hanya mempermainkan hati wanita saja" timpa Reynhard.


"Kalau untuk masa depan Kevin selalu serius Om. Itu yang selalu dia bilang dan aku percaya itu. Makanya dia tidak mau memilih salah satu teman wanitanya untuk menemui Om dan mengenalkannya sebagai calon istrinya. Kevin mempunyai standar yang tinggi dalam memilih kriteria wanita yang akan dia jadikan istri. Menurutku Sheila adalah wanita yang tepat. Dia wanita yang baik dan sholehah. Semoga Sheila bisa membantu Kevin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi" ungkap Omar.

__ADS_1


"Amin. Semoga saja apa yang kamu bilang terkabul Mar. Om pergi dulu ya, salam buat Jasmine. Kapan-kapan ajak dia main kerumah. Sejak dia keguguran Om dan Tante tidak pernah bertemu dengannya lagi" pinta Reynhard.


"Baik Om. Nanti kalau Jasmine sudah lebih baik akan saya ajak kerumah Om" balas Omar.


Reynhard berlalu meninggalkan ruang kerja Omar.


Omar merenung mencoba mengingat dan membandingkan cerita Reynhard dengan cerita Mamanya.



Sepertinya ada yang aneh tapi aku belum bisa memutuskannya. Aku harus mencari informasi yang lain lagi. Tapi kemana dan pada siapa ya? Jawaban Om Rey masih sama seperti ceritanya dulu saat Papa meninggal dunia. Apa yang harus aku katakan pada Mama? Dia pasti akan kecewa mendengar ceritaku ini.


Mama sepertinya mempunyai harapan yang besar padaku untuk menemukan bukti dan membersihkan nama baiknya.


Biarlah cerita ini kusembunyikan dulu dari Mama sambil aku mencari jalan dan bukti dari yang lain. Semoga dalam waktu dekat aku menemukan jalan lain dalam mencari jawaban yang sebenarnya atas kematian Papa. Batin Omar.


Tiba-tiba Kevin dan August masuk bersamaan keruangan Omar.


"Haa.. untung kamu datang Gus. Tolong jadwalkan sore ini pertemuan dengan dokter kandungan Gus. Aku curiga Jasmine bukan masuk angin biasa" ucap Omar.


"Benarkan apa yang aku bilang tadi, jangan-jangan Jasmine hamil" timpa Kevin.


"Jasmine hamil lagi Bos?" tanya August terkejut.


"Mampu* lo jin siap-siap aja mengabulkan permintaan tuan putri Jasmine" ledek Kevin.


Mati gue... Ucap August dalam hati.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2