
Sheila dengan ditemani Jasmine menemui kedua orangtuanya menyampaikan keputusannya. Dia bersedia menikah dengan Kevin.
Seluruh keluarga senang mendengar berita itu tapi tidak dengan Kevin. Dia meminta waktu untuk berbicara berdua dengan Sheila.
Disinilah mereka saat ini sedang duduk berdua ditaman Rumah Sakit.
"Sheil fikirkan baik-baik keputusan kamu. Aku tidak mau kamu terpaksa menikah denganku. Aku tidak bisa Sheil. Saat ini jujur... keluargaku sedang mengalami masalah dan musibah yang sangat besar dan maaf aku belum bisa menceritakannya pada kamu sekarang. Aku tidak mau menambah permasalahan ini semakin rumit dengan pernikahan kita. Aku tidak mau membawa kamu masuk dalam permasalahan keluargaku" ungkap Kevin.
"Maaf kalau jujurku ini menyakiti hati kamu. Saat ini aku memang belum mempunyai perasaan pada kamu tapi Jasmine mengingatkan aku tentang masalah jodoh. Benar dia katakan, mungkin kamu adalah jodoh aku. Sekuat apapun aku menolaknya hal ini pasti akan terjadi. Aku serahkan semua hanya pada Allah, kalau memang ini jalan hidup yang DIA berikan untukku aku ikhlas menjalaninya. Setidaknya niat baik kita menikah untuk memenuhi permintaan orangtua kita. Permintaan Papa kamu dan permintaan Papaku. Biarlah apa yang akan kita hadapi didepan sana kita fikirkan dan hadapi bersama" balas Sheila.
"Benarkah Sheil? Kamu bisa menerima aku? Kamu tidak terpaksa kan?" tanya Kevin serius.
Sheila tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Vin, aku bersedia dan ikhlas menikah dengan kamu" jawab Sheila.
"Alhamdulillah, terimakasih Sheil kamu mau menerima aku sebagai suami kamu. Aku janji tidak akan mempermainkan pernikahan ini. Karena prinsipku menikah cukup sekali" tegas Kevin.
Mereka sudah bisa tersenyum sekarang dan kembali menemui keluarganya. Kevin dan Sheila sepakat untuk menikah hari ini.
Sontak membuat keluarga jadi sibuk mempersiapkan segala keperluam untuk pernikahan mereka di Rumah Sakit.
Omar mengurus izin dari Rumah Sakit untuk melaksanakan akad nikah di dalam ruangan Reynhard. Reynhard sudah dibawa keruangan rawat inap yang paling luas di rumah sakit ini. Omar sengaja meminta ruangan super vvip untuk tempat Reynhard dirawat.
August mencari kadi nikah yang nanti akan menikahkan Kevin dengan Sheila. Sementara para wanita mencari gaun pernikahan untuk Sheila dan Kevin serta memanggil makeup artis untuk merias Shiela.
__ADS_1
Walau pernikahan ini dadakan tetapi mereka ingin semuanya maksimal. Semua berbahagia atas pernikahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Tepat Jam 4 sore setelah selesai shalat Ashar berjamaah acara akad nikah Kevin dan Sheila dilaksanakan.
Didepan Reynhard yang sedang terbaring lemah Kevin menjabat tangan Wardhana untuk mengucapkan ijab kabul.
"Sah?" tanya tuan kadi.
"Sah..." jawab semua saksi yang hadir diruangan tersebut.
"Alhamdulillah..." ucap mereka semua bersamaan.
Setelah selesai akad tuan kadi pun pulang. Kini hanya tinggal tiga keluarga yang ada disana. Keluarga Reynhard, Wardhana dan Omar.
Kevin dan Sheila menyalam tangan Reynhard meminta restu.
"Papa... jangan bicara seperti itu" balas Kevin.
"Sekarang kita semua yang ada disini adalah keluarga jadi dihadapan kalian semua Papa akan mengakui semua kesalahan dan dosa besar yang telah Papa lakukan" ucap Reynhard.
Semua yang ada diruangan itu terkejut dan terlihat menegang mendengar perkataan Reynhard. Apakah tiba saatnya mereka mendengarkan cerita kejadian terbunuhnya Papa Omar yang sebenarnya.
"Sena istriku sebelumnya aku minta maaf padamu. Sebelum menikah denganmu aku sudah mencintai wanita lain. Papa menjodohkan Fath dengan kakakku Richard, tidak ada yang mengetahuinya kalau aku diam-diam juga mencintai Fatimah. Enam belas tahun perasaan itu aku simpan sampai pada saat siang itu aku datang kerumah Kakak ingin mengantarkan berkas yang akan ditandatangani Kak Rich. Aku mencari keruang kerjanya tapi dia tidak ada, aku berjalan melewati kamar mereka. Tanpa sengaja aku melihat Fath sedang tertidur dari balik pintu yang terbuka. Perasaan yang telah lama aku simpan tak terbendung lagi. Dengan rayuan setan yang membujukku aku masuk ke kamar mereka dan mendekati Fath yang sedang tertidur. Fath terbangun dan terkejut melihat kehadiranku dikamar mereka. Dia menjerit dan mengusirku. Tapi setan sudah menguasai akal fikiranku, aku hendak memperkosanya. Fath menjerit dan saat itu Kak Rich masuk ke dalam kamar melihat kejadian itu. Dia sangat marah padaku dan kami berkelahi. Aku tersudut dan dikuasai nafsu setan. Aku melihat ada pisau buah yang terletak diatas meja dikamar Kak Rich, aku meraihnya. Pisau itu berhasil direbut Kak Rich tapi kami tetap berkelahi hingga tanpa sengaja aku juga tidak tau bagaimana mengatakannya pisau itu sudah menembus perut Kak Rich. Aku ketakutan dan menjauh. Fath datang memeluk Kak Rich yang sedang sekarat dan membawa Kak Rich dalam pangkuannya tanpa sadar dia memegang pisau itu tepat pada saat Omar datang. Dan setelah itu seperti yang kamu lihat Omar. Kamu salah sangka pada Mama kamu. Oryza pingsan dan kamu marah besar sampai tidak terkendali. Om penakut, Om jahat.. Om kejam.. semua tuduhan kamu benar. Om tidak berani mengakui kesalahan Om. Pisau sudah terlanjur dipegang Fath dan kamu termasuk saksi yang melihat itu. Om menutupi semua bukti yang akan mencurigai perbuatan Om. Saat kamu sedang ditenangkan oleh Bi Iyem di ruang keluarga Om menghapus semua rekaman cctv hari itu dan Om mengarang cerita tentang perselingkuhan Mama kamu. Fath yang saat itu sedang syok tidak bisa membela diri semua bukti mengarah kepadanya. Om membujuknya untuk membantunya mencari cara meringankan hukumannya tapi Om tidak bisa. Bukan... Om takut kalau nanti kesalahan Om akan diketahui. Akhirnya Om membiarkan Fath menerima hukuman seberat itu. Selama lima belas tahun ini Om mencoba menebus kesalahan Om pada kalian. Walau Om tau itu tidak akan bisa membayarnya. Dengan penuh kasih sayang Om besarkan kalian berdua, Om sekolahkan kalian, Om obati semua penyakit dan luka hati kalian karena peristiwa itu dan Om turuti semua keinginan kalian. Om serahkan semua yang menjadi hak kalian. Tidak ada sedikitpun harta Papa kalian yang Om ambil termasuk rumah kalian. Om tidak pernah menjualnya Omar. Rumah itu masih tetap terawat rapi. Sena tau dimana aku simpan semua berkasnya." Ungkap Reynhard dengan suara yang masih lemah.
"Aku meminta maaf pada kalian semua. Sena sekali lagi maafkan aku. Saat ini kamulah cintaku, hanya kamu yang ada dihatiku" ucapnya pada istrinya.
__ADS_1
"Fatimah... maafkan aku telah membuat kamu dan anak-anak kamu melewati waktu yang sangat sulit untuk kalian. Maafkan aku sudah menghancurkan hidup kalian" ucapnya kepada Zahra.
"Omar dan Oryza maafkan Om sudah merebut kebahagiaan kalian, merenggut keberadaan Papa dan Mama kalian selama lima belas tahun ini. Menyakiti dan melukai perasaan kalian" ucapnya kepada Omar dan Oryza.
"Terakhir Kevin dan Renata. Maafkan Papa sayang.. sudah membuat kalian kecewa. Papa tidak bisa menjadi contoh yang baik sebagai orangtua. Tapi satu yang pasti Papa sangat menyayangi kalian" tangis Reynhard pecah.
Semua menangis mendengarkan permohonan maaf Reynhard.
"Dosaku sangat besar, kuharap maaf dari kalian bisa meringankanku untuk segera menemui Sang Pencipta. Maafkan aku....." Reynhard tak sadarkan diri.
Tiiiiiiiiiiiit.... bunyi monitor yang ada disamping Reynhard.
"Mas"
"Papa"
"Om"
"Reynhard"
Panggil mereka semua....
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG