BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 38


__ADS_3

"Gila Bos, sepertinya istri kamu mau membunuh kita dengan masakannya" ucap August.


"Masakannya Mar peuuudaaaas aaah banget" sambung Kevin.


Omar hanya diam berusaha menetralkan lidahnya yang kepedasan.


Dalam sekejap salad buah pun kandas karena bisa mengademkan lidah mereka yang kepedasan.


"Btw kog Jasmine tidur dikamar tamu Mar, bukan dikamar kamu?" tanya Kevin.


"Iya, kami tidur dikamar yang terpisah" jawab Omar santai.


"What? Gila kamu, kalau keluarganya atau keluarga kita tau apa yang mereka fikirkan Mar tentang pernikahan kalian?" pekik Kevin terkejut.


Kevin dan August saling pandang, percuma donk usaha mereka menyatukan pasutri ini saat malam pengantin. Gagal sudah rencana mendapatkan ponakan kalau pasutri ini hanya satu malam saja tidur seranjang.


"Ya jangan sampai mereka taulah, awas kalau kalian membocorkannya. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian" ancam Omar.


August menelan suapan salad buah terakhir didalam mulutnya.


"Kenapa kalian tidur terpisah Bos, kalian kan sudah sah menikah jadi sudah tidak ada masalah lagi kalau kalian berbagi segalanya sekarang, termasuk berbagi tempat tidur?" tanya August.


"Kalian kan tau aku alergi sama wanita" jawab Omar polos.


"Tapi kan itu tidak berlaku dengan Jasmine Bos, buktinya kamu baik-baik saja berdekatan dengan dia" ucap August.


"Tetap saja aku tidak suka dekat-dekat dengan wanita dan Jasmine juga setuju dengan keinginanku. Dia juga tidak mau satu kamar denganku. Pernikahan ini kan hanya diawali atas dasar tanggung jawab saja bagi Jasmine sedangkan untukku pernikahan ini hanya karena ancaman Om Rey, demi nama baik keluarga dan perusahaan. Bukan karena cinta atau apalah namanya. Yang jelas kami tidak akan ikut campur dalam urusan pribadi. Urus masalah sendiri dilarang saling mencampuri tapi didepan umum kami akan bertingkah layaknya pasangan suami istri biasa" ungkap Omar.


"Pernikahan apa ini, pakai perjanjian segala. Pernikahan aneh" ejek Kevin.


"Biarin yang jalani aku kog, kenapa kamu yang sirik" balas Omar.


"Siapa yang sirik. Segila-gilanya aku pada wanita, aku tidak akan mempermainkan pernikahan seperti kalian. Karena aku akan menjalani pernikahan dengan serius makanya aku puas-puasin dulu main. Kalau tiba saatnya aku akan menjalani pernikahan dengan sebaik-baiknya" ucap Kevin.


Omar terdiam dan malas membalas kata-kata Kevin karena jauh dilubuk hatinya membenarkan semua omongan Kevin hanya saja dia tidak mau mengakuinya.


Hatinya masih belum bisa berdamai dengan wanita. Masih sulit menerima kehadiran wanita asing dalam hidupnya kecuali wanita-wanita yang sudah dekat dari dulu dengan dia.


"Aku harap ini tidak berjalan lama bos dan semoga kalian bisa sama-sama menerima pernikahan ini dengan ikhlas dan menjalankannya dengan baik" August memberi semangat sambil menepuk bahu Omar.

__ADS_1


"Sudahlah, sudah malam. Kita pulang Gus. Sampaikan ucapan terimakasih kami pada Jasmine atas jamuan makan malamnya" ucap Kevin malas.


Mereka keluar dari apartemen Omar dan pulang menuju apartemen mereka masing-masing.


Kini tinggal Omar sendiri duduk di depan TV sambil mencoba mencerna semua nasehat teman-temannya.


Salahkah aku sudah mempermainkan sebuah pernikahan? Aku belum bisa menerima dengan lapang dada hadirnya seorang wanita dalam kehidupanku. Walau kehadiran Jasmine tidak membuat alergiku pada wanita kumat tapi tetap saja sangat sulit menjalani pernikahan ini seperti rumah tangga normal lainnya. Batin Omar.


Omar mengusap kepalanya dengan kasar. Kebingungan dan hatinya bergejolak. Dia tidak tau harus berbuat apa saat ini.


Dengan langkah putus asa dia berjalan menuju kamarnya. Membersihkan diri dan berganti pakaian kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Dalam keadaan perut kenyang mata mulai tidak bisa dikendalikan apalagi dengan tubuh yang letih butuh istirahat sebentar saja matanya sudah menutup dan lelap tertidur.


Lagi-lagi Omar bermimpi sedang bertamasya dengan Jasmine dan seorang anak laki-laki kecil yang tampan. Mereka piknik dibawah pohon rindang yang terletak ditaman bunga yang luas.


Anak laki-laki kecil itu berlarian kesana kemari dengan sangat ceria sampai diujung taman kakinya tersandung dengan tubuh seorang wanita paruh baya.


Omar menatap wajah wanita itu dari kejauhan, dia sangat terkejut mengenali wajah wanita yang sedang bersama anak laki-laki kecil itu.


Wanita itu membawa anak laki-laki kecil itu menjauh dari jangkauan Omar dan Jasmine. Omar berteriak kencang.


Sudah dua kali dia bermimpi buruk seperti ini. Biasanya dia selalu mimpi buruk dengan penggalan cuplikan masa lalu dengan wanita itu tapi belakangan ini mimpi buruknya berganti dengan cerita lain bersama wanita yang sangat dia benci seumur hidup.


Astaga mimpi itu lagi. Ucap Omar pelan.


Omar keluar di balkon kamarnya kemudian mengambil sebatang rokok, membakarnya dan menghisapnya dalam-dalam. Setelah itu menghembuskan asapnya kelangit dimalam yang cerah ini.


Mengapa bayang-bayang wanita itu tidak pernah hilang dan selalu menghantui hidupnya bahkan sampai kedalam mimpinya.


Tidak bisakah dia hidup dengan tenang dan melupakan semuanya. Omar sudah tidak peduli dengan hidup wanita itu. Dia tidan mau bertemu dengan wanita itu lagi dimasa depan. Biarlah dia menghilang selamanya dari hidup Omar.


Malam semakin larut, Omar kembali masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk tidur kembali.


***


"Duh perutku sakit banget Gus dari tadi pagi" ucap Kevin.


"Aku juga sama Vin, aku rasa karena makanan kita tadi malam" sambung August.

__ADS_1


"Apa Jasmine menaruh racun ya dimakanan itu?" tanya Kevin kesal.


"Tidak mungkin Vin, dia juga ikut makan bersama kita kan? Kalau dia menaruh racun pasti dia kena juga" jawab August.


Omar masuk kedalam ruangan kerjanya.


"Ngapain kalian kumpul diruanganku?" Tanya Omar.


Kevin dan August saling pandang sambil menahan mules diperut mereka, rasanya perut mereka seperti berputat-putar.


"Oh iya Gus, suruh OB cari obat diare. Dari tadi pagi aku sudah lebih tiga kali ke kamar mandi. Sebenarnya hari ini aku berniat gak masuk tapi aku ingat belum memeriksa berkas yang kamu letakkam dimejaku kemarin" perintah Omar.


"Kamu sakit perut juga Bos?" tanyq August.


"Iya, kalian juga sama?" Omar balik bertanya.


"Iya bro, aku dan August juga sudah mules-mules dari tadi pagi. Aku rasa karena makanan yang kita makan tadi malam ini" jawab Kevin.


"Sialan wanita itu sudah mengerjai kita" umpat Omar.


"Bagaimana keadaan dia pagi ini? Apa dia mengalami hal yang sama dengan kita?" tanya Kevin.


"Dia baik-baik aja tadi pagi dan terlihat sangat segar" jawab Omar.


"Gilaa dia benar-benar ingin membunuh kita dengan masakannya. Enak sih tapi pedas banget. Tapi herannya kenapa dia bisa baik-baik saja ya, dia kan juga makan makanan yang sama dengan kita tadi malam" ucap Kevin heran.


"Aku rasa dia memang pecinta makanan pedas" jawab August.


"Bisa jadi, kalau tidak dia pasti merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan" sambung Omar.


Akhirnya ketiga pria ini tidak bekerja hari ini. Mereka hanya duduk lemas diruang kerja Omar sambil bergantian bulak-balik keluar masuk kamar mandi. Bahkan mereka samoai rebutan masuk kamar mandi tapi herannya tidak ada yang mau balik keruangannya masing-masing padahal Omar sudah mengusir mereka.


Sampai habis jam kerja mereka pulang ke apartemen mereka masing-masing dengan badan lemas tak bertenaga.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2