BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 49


__ADS_3

Tok...tok..tok..


"Mbak Jasmine memanggil saya?" tanya Zahra.


"Iya Bu, silahkan masuk" jawab Jasmine.


Zahra masuk keruang kerja Jasmine. Jasmine sangat gelisah tadi malam menahan rasa penasarannya. Fellingnya mengatakan pasti ada sesuatu antara Zahra dengan suaminya.


Terbukti saat kemarin malam Omar menjemput Jasmine ke toko kue, sebenarnya Jasmine sengaja meminta Omar menjemputnya, padahal pakai jasa mobil online dia bisa pulang.


Tapi semenjak beberapa keanehan yang ditunjukkan Zahra ketika mendengar nama Omar Barrakh dan sikap Zahra ketika bersama Oryza menambah rasa penasaran Jasmine.


Begitu dia sampai di Toko Kue, Jasmine segera mengecek CCTV yang ada di toko. Jasmine melihat sesuatu yang mencurigan tadi malam. Saat dia dan suaminya pergi meninggalkan toko Jasmine melihat hasil rekaman video di dapur.


Zahra menangis menatap kepergian mereka. Sontak ini menjadi tanda tanya besar dalam hati Jasmine dan dia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Hari ini dia harus mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang menari-nari dalam kepalanya.


"Duduk Bu Zahra" Jasmine mempersilhkan Zahra duduk.


Zahra bingung apa maksud Bos nya ini memanggilnya.


"Ibu bisa melihat kearah layar monitor komputer saya?" tanya Jasmine to the point.


Zahra melihat video yang menampilkan sosok dirinya sedang menangis di dapur menatap kepergian Bos dan suaminya kemarin malam dari toko kue.


"Bisa ibu jelaskan apa yang terjadi dengan Ibu saat itu?" tanya Jasmine penasaran.


"Saya sedang menangis Mbak" jawab Zahra.

__ADS_1


"Kenapa Ibu menangis menatap kepergian saya dan suami saya? Saya sudah mengecek video yang lain. Saat saya akan pulang ibu tidak pernah menangisi kepergian saya tapi tadi malam ada Mas Omar bersama saya dan Ibu menangis melihat kami pergi. Saya rasa Ibu sedang menangisi suami saya. Benarkan Bu?" ungkap Jasmine.


"Benar Mbak" Zahra tidak bisa mengelak lagi.


"Mengapa Ibu menangisi suami saya?" Jasmine mulai mengintrogasi.


"Saya teringat anak saya" jawab Zahra tertunduk.


"Apakah anak Ibu mirip suami saya?" Jasmine semakin penasaran.


Zahra menganggukkan kepalanya dan tertunduk.


"Saya rasa bukan hanya sekedar mirip ya Bu. Boleh saya menebak kalau Bu Zahra ada hubungan dengan suami dan adik ipar saya?" jebak Jasmine.


Zahra sontak mengangkat kepalanya dan menatap wajah Jasmine dengan mimik wajah terkejut.


"Saya ingat betul waktu pertama kali Ibu mendengar nama suami saya, Ibu menjatuhkan loyang kue kan? Trus sikap Ibu aneh ketika bertemu Oryza. Saya juga merasa heran cake yang Ibu buat sangat disukai suami dan adik ipar saya. Mereka seperti merindukan sesuatu saat memakan cake itu. Tatapan mata mereka sendu. Dan terakhir rekaman CCTV ini yang memperkuat semuanya. Apa hubungan Ibu dengan suami dan adik ipar saya? Maaf apakah Bu Zahra mertua saya?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibkr Jasmine.


"Ba.. bagaimana Mbak Jasmine bisa berkata seperti itu?" tanya Zahra.


"Setiap melihat tatapan mata Ibu melihat ataupun mendengar nama suami dan adik saya disebut, tatapan Ibu sama seperti tatapan mereka saat makan cake buatan Ibu. Tatapan penuh kerinduan dan kesedihan. Aku bisa merasakan itu. Ayolah Bu Zahra jawab pertanyaan saya dengan jujur. Saya sudah hampir gila memikirkan semua ini. Pertanyaan ini terus berputar-putar dikepala saya belakangan ini terlebih tadi malam saya tidak bisa tidur dengan nyenyak" tanya Jasmine penuh harap.


Tiba-tiba Zahra menangis.


"Mengapa Ibu menangis? Apakah benar apa yang selama ini saya fikirkan?" tanya Jasmine semakin penasaran.


Zahra menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya Allah... Ibu, mertua saya?" tanya Jasmine tak percaya. Dia segera memeluk Zahra yang sedang menangis. Bagaimana pun Zahra adalah mertuanya itu artinya sama saja Zahra adalah orangtuanya.


"Bagaimana ini bisa terjadi Bu, kemana Ibu selama ini dan mengapa kalian terpisah?" tanya Jasmine sambil menangis.


Jasmine ikut larut dengan tangisan Zahra yang memilukan hati membuatnya ikut menangis mendengar suara tangisan Zahra.


"Saya... saya tidak bersalah, saya difitnah. Mereka memisahkan saya dengan anak-anak saya. Mereka membenci saya huhhuhu....." ucap Zahra sambil tersedu.


"Tenang... tenang bu... Ibu tenang dulu baru kita bisa berbicara. Aku akan membantu Ibu, percayalah aku ini menantu Ibu, anak Ibu juga" ucap Jasmine sambil terus memeluk Zahra.


Zahra mulai menenangkan hatinya. Tangisannya perlahan mulai mereda.


"Sudah sebulan aku mengenal Ibu, aku yakin Ibu wanita yang baik dan bertanggung jawab. Aku percaya pada Ibu. Perasaanku mengatakan ada sesuatu kesalahpahaman antara kalian dan aku ingin membantu menyelesaikannya. Ibu tau sudah lebih empat bulan saya mengenal Omar dan kami menikah juga sudah hampir tiga bulan. Dia selalu berwajah dingin dan datar. Entah mengapa dia benci berdekatan dengan wanita. Saat aku bertanya mengapa denganku bisa? dia jawab karena aku istrinya. Tapi sejak malam pertama kami dia tidak pernah menyentuhku. Dan karena Ibu adalah mertuaku aku akan jujur dan mengungkapkan sebuah rahasia pada Ibu tentang pernikahanku" Jasmine mengungkapkan rahasia pernikahannya pada Zahra, hanya kepada Zahra dia baru berani bercerita. Selama ini dia menyimpan rapat rahasia pernikahannya kepada orang lain termasuk Papa dan Mamanya.


"Aku menikah karena dijebak Kevin. Kami diberi obat tidur saat aku datang ke perusahaan Barrakh Corp. Aku dan Omar tidur dalam satu ranjang. Aku kira saat itu kehormatanku sudah hilang sehingga Mas Omar mau bertanggung jawab dan menikahiku. Tapi ternyata saat malam pengantin kami kembali dikerjain oleh Kevin dan August. Mereka memberikan obat perangsang pada minuman kami sehingga terjadilah hal itu pada kami dimalam pertama kami. Dan paginya aku tersadar ternyata aku masih suci sebelum menikah sama Mas Omar tapi aku tidak menyesali kejadian malam itu karena saat itu Mas Omar sudah sah menjadi suamiku. Aku selalu berfikir mengapa Kevin dan August tega melakukan itu pada Omar sahabat mereka. Hampir tiga bulan aku hidup bersama Mas Omar aku mengetahui satu hal, Mas Omar tidak suka berdekatan dengan wanita tapi aku masih penasaran mengapa denganku tidak. Aku yakin jawabannya yang mengatakan karena aku istrinya tidak sepenuhnya benar pasti ada sesuatu hal yang lain biarlah hal itu aku cari tau lain kali. Yang jelas aku mengerti mengapa Kevin dan August setega itu pada Omar. Agar Omar bisa berubah, bisa menyentuhku dan terbiasa hidup dengan wanita. Tiga bulan aku menyadari dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaanku disisinya, walau sejak malam pertama kami dia belum pernah menyentuhku lagi" Jamine berhenti sebentar.


Zahra mendengarkan setiap penjelasan Jasmine menantunya.


"Tiga bulan aku hidup dengannya aku semakin mengenal sifatnya. Dia tidak pernah menceritakan Mamanya, dia hanya mengatakan kalau Papanya sudah meninggal tapi tidak pernah sedikitpun bercerita tentang Ibu. Aku pernah bertanya pada Oryza, dia bilang Mas Omar akan marah jika mengingat atau menyebut nama Ibu. Tapi Oryza bilang waktu itu dia masih kecil dan tidak ingat apa-apa. Aku jadi bertanya-tanya apa yang terjadi. Bisakah Ibu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jasmine dengan lemah lembut.


Zahra kembali menangis mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu.


Kemudian Zahra mulai bercerita kepada Jasmine kejadian hari itu tepatnya lima belas tahun lalu saat Papa Omar meninggal dunia.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2