
Seperti biasa Jasmine sampai di Toko Kue jam 1 siang.
"Assalamu'alaikum Mbak cantik" sapa Rike karyawannya.
"Wa'alaikumsalam Ke" jawab Jasmine tidak semangat.
"Mbak masih sakit? Mbak terlihat tidak bersemangat dan lesu?" tanya Rike.
"Aku masih gak enak badan" jawab Jasmine.
"Kalau kamu masih sakit seharusnya kamu tetap dirumah aja Mine, jangan datang ke toko dulu" Sheila menyamperi Jasmine yang baru masuk ke toko.
"Udah lebih baik kog Sheil. Aku ke atas dulu ya" ucap Jasmine.
"Mbak diatas ada tamu yang sudah menunggu Mbak. Mereka sudah menunggu lebih sejam Mbak. Kami sudah bilang kalau Mbak biasanya datang jam 1 tapi mereka ngotot akan menunggu Mbak" lapor Rike.
"Siapa?" tanya Jasmine penasaran. Gak biasanya dia kedatangan tamu seperti ini.
"CEO Barrakh Corp" bisik Sheila.
Seketika tubuh Jasmine menegang. Sebenanrnya dia belum sanggup untuk bertemu dengan mereka tapi dia bukan tipe orang yang suka lari dari masalah. Seberat apapun masalah yang dia hadapi pasti akan diselesaikannya
"Baiklah. Aku akan ke atas menemui mereka" jawab Jasmine.
"Perlu bantuan?" Sheila menawarkan bantuannya.
"Gak perlu Sheil, aku bisa sendiri ngadepin mereka" tolak Jasmine.
Jasmine naik ke lantai atas menuju ruang kerja merangkap ruang istirahatnya. Jasmine membuka pintu ruangannya, dia melihat tiga orang pria sudah duduk di sofa yang ada diruangannya, mereka sedang menunggu kedatangan pemilik ruangan ini.
"Maaf kalian lama menunggu. Mengapa tidak mengabariku lebih dulu kalau kalian akan datang kesini" ucap Jasmine dengan nada dingin. Sebenarnya dia malas berbasa basi.
"Tidak masalah Jasmine" Jawab Kevin yang langsung berdiri saat melihat kedatangan Jasmine.
Jasmine melihat satu persatu wajah tiga pria di hadapannya. Kevin dengan wajah bersalahnya, sementara dua pria lagi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.
"Jasmine kedatangan aku kesini untuk memohon maaf kepadamu atas perbuatanku kemarin. Aku sangat menyesal" ucap Kevin.
"Apakah penyesalanmu bisa membalikkan kesucianku?" tanya Jasmine mulai emosi.
"Maaf... aku benar-benar menyesal. Aku tidak memikirkan dampak kedepannya. Saat itu aku hanya iseng ingin mengerjai kalian. Kamu tau lah zaman sekarang, dan bagiku itu adalah hal biasa" kilah Kevin.
"Hal biasa kamu bilang? Hal biasa menurut kamu tapi tidak bagiku. 27 tahun aku menjaga kesucianku dan nama baik keluargaku hanya karena keisenganmu dengan secepat itu semua hilang" Jasmine mulai menangis terisak.
__ADS_1
"Maaf... Aku mengaku salah" Kevin semakin bersalah.
"Ehm... sekarang semua telah terjadi. Kita tidak bisa memutar waktu kembali ke masa lalu. Sekarang yanh harus kita fikirkan gimana hari esok. Aku akan bertanggung jawab dan akan menjaga nama baik keluarga kamu. Aku bersedia menikah denganmu" ucap Omar tegas tapi wajahnya tetap datar.
Gila pria ini, melamar seorang wanita dengan ekspresi wajah seperti itu. Apa menurutnya hal seperti ini tidak penting? umpat Jasmine dalam hati.
"Aku tidak bisa memutuskannya secepat itu" jawab Jasmine.
"Sekali lagi maaf Jasmine sepertinya kamu memang harus segera memutuskan. Aku kehilangan hpku tadi malam saat aku mabuk di club. Aku merasa bersalah pada kalian sehingga tadi malam aku melepas penatku dengan mabuk-mabukan di club. Mungkin pada saat aku lengah ada seseorang yang mencuri hpku. Aku takut pencopetnya memanfaatkan semua isi di memory hpku. Foto kalian kemarin siang banyak tersimpan di situ" ucap Kevin.
"Apa?" Teriak Jasmine terkejut.
"Oleh sebab itu untuk menutupi semua itu aku mengajak kamu menikah" sambung Omar.
Jasmine tidak tau harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa menangis terisak.
"Aku beri kamu waktu seminggu. Minggu depan aku akan mendengarkan jawaban kamu. Bagaimana? Mengenai kerjasama kita di acara ulang tahunku semua masih tetap berjalan. Apa yang terjadi dengan kita tidak ada hubungannya dengan kerjasama yang telah kita sepakati" tegas Omar.
Omar meninggalkan ruang kerja Jasmine diikuti oleh August. Kini hanya tinggal Jasmine dan Kevin berdua di dalam ruangan itu.
"Aku mohon kamu mau menerima penawaran Omar, Jasmine. Dia pria yang bertanggung jawab dan tidak akan main-main dengan perkataannya. Kamu bisa mempercayakan masa depan kamu padanya. Dia berbeda denganku, hanya kamu satu-satunya wanita yang pernah dekat dan tidur dengannya" Kevin berusaha meyakinkan Jasmine untuk melancarkan rencana mereka.
Jasmine hanya diam mendengar perkataan Kevin.
Jasmine terduduk lemas di kursi kerjanya. Dia menundukkan kepalanya diatas meja berlandaskan kedua tangannya. Dia menangisi nasib buruk yang sedang menghampiri hidupnya.
Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Beri aku kekuatan agar aku bisa menghadapi semua ini. Doa Jasmine.
Lima belas menit berikutnya Sheila masuk keruangan Jasmine.
Tok.. Tok.. Tok...
Pintu ruangan Jasmine diketuk dari luar.
"Boleh aku masuk?" tanya Sheila dari luar.
Jasmine menghapus airmatanya dan membenahi tampilannya. Dia tidak ingin Sheila curiga dengan keadaannya.
"Masuk Sheil" perintah Jasmine.
Sheila membuka pintu dan masuk kedalam.
"Kamu menangis?" tanya Sheila penasaran.
__ADS_1
"Nggak. Aku lagi flu berat Sheil" jawab Jasmine bohong.
Lagi-lagi aku harus bohong. Aku benci menjadi seperti ini. Batin Jasmine.
"Ada apa para petinggi Barrakh Corp datang?" tanya Sheila sambil duduk di sofa.
"Membahas tentang konsep kue yang akan kita buat di acara tersebut" jawab Jasmine.
"Waow... kita berhasil mendapatkan proyek besar itu?" tanya Sheila dengan semangat.
Jasmine hanya menganggukkan kepalanya.
Proyek besar yang dibayar dengan kesucianku. Tangis Jasmine dalam hati.
"Kenapa kamu gak semangat Mine? Bukankah ini berita besar? Kita belum pernah mendapat pesanan partai besar seperti ini" tanya Sheila penasaran.
"Aku lagi gak enak badan Sheil. Konsep kue tart sudah dipilih mereka. Kalau daftar cake dan jumlah pesanan mereka nanti akan menyusul mereka kirimkan. Tolong sampaikan pada anak-anak. Mulai minggu depan kita akan semakin sibuk mempersiapkan semua bahan dan kebutuhan untuk acara tersebut. Dan pada saat acara itu berlangsung toko akan kita tutup. Kita semua di undang ke acara itu" perintah Jasmine.
"Waoooow... anak-anak pasti akan senang mendengar kabar ini. Mereka pasti akan membuat pesta besar dan anak-anak pasti akan senang menghadiri acara seperti itu" Sheila semakin bersemangat.
Jasmine memaksakan senyumannya pada Sheila.
"Aku turun ya. Aku akan sampaikan berita ini pada mereka" Kamu makan dulu trus minum obat. Kalau masih belum sehat mending kamu pulang saja Mine" ucap Sheila lembut pada sahabatnya.
"Aku makan dan istirahat disini saja. Tolong jangan ganggu aki dulu ya" pinta Jasmine.
"Oke... nanti aku bilang sama anak-anak dibawah" jawab Sheila.
Sheila melangkah keluar meninggalkan Jasmine sendiri.
Jasmine memakan hidangan makan siangnya yang telah disiapkan setelah itu dia merebahkan tubuhnya disofa empuk diruangannya yang telah dia sulap menjadi tempat tidur dadakan untuk dia beristirahat.
Kepalanya seperti mau pecah memikirkan permasalahan yang saat ini sedang dia hadapi. Jasmine masih bingung mengambil keputusan yang akan dia putuskan.
Semua akan dia pasrahkan kepada Allah dan berharap Allah akan memberi petunjuk padanya untuk mengambil keputusan yang tepat.
Semoga itu adalah keputusan yang terbaik dalam hidupnya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1