BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 28


__ADS_3

Waktu bergulir cepat tanpa terasa tiga minggu hampir berlalu. Besok Omar dan Jasmine akan melangsungkan akad nikah.


Sudah tiga minggu juga mereka tidak pernah bertemu lagi, kalau memang ada keperluan mendadak Omar hanya mengirim pesan itupun sangat jarang sekali.


Malam ini hari terakhir Jasmine tidur dikamarnya, dia sangat sulit menutup matanya. Fikirannya sangat kacau menghadapi hari esok. Semakin dekat hari H hatinya semakin galau dengan beragam pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya.


Jasmine shalat malam dan berdoa panjang, meminta kepada Allah.


Kuatkan aku ya Allah. Kuatkan hatiku untuk tetap berada dijalan ini. Beri aku kekuatan untuk mencari ridhoMU, berbakti kepada suamiku dan melayaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Beri aku kesabaran untuk menghadapi sifatnya yang dingin. Tumbuhkan rasa saling menyayangi dan mengasihi antara kami.


Walau pernikahan ini diawali dengan sebuah kesalahan maafkan ke khilafan kami. Jadikan dia imam dan pemimpinku kelak bersama-sama melangkah dijalanMU. Berikan kesabaran yang luas padanya, hati yang hangat dan penuh kelembutan. Teduhkan mata ini jika memandangnya wajahnya, tentramkan hati ini jika menatap matanya dan jauhkan dari hasutan setan yang menyulut amarah dan emosi dihatiku dan hatinya.


Satukan hati kami dalam janji suci sebuah pernikahan. Jauhkan dari orang-orang yang memusuhi kami dan menginginkan keburukan terjadi pada kami. Ya Rabb, malam ini aku berserah padaMU. Kupasrahkan hidupku untuk menjadi istrinya jika memang ini takdir yang KAU tuliskan untukku. Kokohkan rumah tangga kami sampai maut memisahkan. Aamiin....


Tanpa terasa airmata Jasmine jatuh perlahan. Malam ini dia akan membenahi niatnya menikah. Dia akan menerima pernikahan ini sebagai ibadah dan akan menjalaninya dengan serius dan ikhlas.


Setelah selesai shalat barulah Jasmine bisa istirahat dan tertidur.


***


Malam ini Kevin dan August menemani calon pengantin pria yang besok akan melepaskan masa lajangnya. Mereka mengadakan pesta lajang kecil-kecilan.


Kevin dan August tau Omar menjalankan pernikahannya besok adalah karena terpaksa dan tekanan dari Papa Kevin.


"Omar, malam ini izinkan aku mengutarakan sesuatu sebagai sahabatmu bukan sebagai bawahanmu dikantor. Kita sudah berteman lebih dari 15 tahun. Aku sangat mengetahui luka hatimu akan masa lalu. Tapi takdir setiap orang berbeda-beda. Aku mohon sebelum kau menikah tolong perbaiki niatmu untuk menikahi Jasmine. Cobalah buka hatimu setidaknya hanya kepada satu wanita ini. Aku tidak perduli kau membenci semua wanita dimuka bumi ini tapi tidak dia yang akan kau jadikan istrimu besok. Sangat sulit hidup dengan seseorang yang tidak kau suka. Aku tidak memaksamu untuk memaafkan masa lalu tapi cobalah berdamai dengan itu. Agar hidupmu tenang. Aku ingin kau bahagia Omar" nasehat August.


Omar tau saat ini August berbicara sebagai sahabatnya sehingga dia tidak membantah ataupun marah mendengar kata-kata August.


"Iya Bro, aku juga sama. Walau aku seperti ini, yah kalian taulah aku tidak pernah serius terhadap wanita tapi perlu aku tegaskan, Jasmine wanita yang berbeda. Kau beruntung mendapatkannya, cobalah perlahaaaan saja beri celah dia masuk didalam hatimu. Lupakan masa lalu. Saatnya kau raih kebahagianmu sekarang. Sudah cukup lima belas tahun kau terus terjebak dan terkurung dalam kesedihan masa lalu. Lepaskan semua bebanmu dan kepedihanmu setidaknya mulailah pernikahanmu dengan awal yang baik agar hasilnya kelak juga baik. Satu bulan kau mengenalnya, aku merasa sudah banyak perubahan yang positif padamu. Mungkin kau tidak menyadarinya, kini kau sudah tau bagaimana cara memperlakukan dia walau hanya pura-pura di depan umum tapi kamu sudah pintar dan nyaman berada di dekatnya. Kamu sudah dekat dengan keluarganya. Aku harap kau bisa mendapatkan pengganti keluargamu dan mendapatkan kehangatan ditengah-tengah mereka" sambung Kevin.

__ADS_1


Omar berbaring di sofa kamarnya menghadap dinding kaca. Dia menatap langit mencoba menyelami perkataan dari kedua sahabatnya.


"Tapi tidak semudah itu aku menerimanya. Kalian tau, akh...." Omar mengusap kasar wajarnya.


"Cobalah dulu untuk mempercayainya. Wanita tidak sama semua Mar, aku yakin dia tidak seperti Mamamu. Kita kan sudah memeriksa semua datanya dengan lengkap, dia wanita baik-baik" Kevin mencoba meyakinkan Omar.


"Apa aku bisa?" tanya Omar yang sebenarnya pertanyaan itu dia tujukan pada hatinya.


"Kamu bisa, aku yakin kamu bisa. Kamu harus percaya kekuatan jodoh. Aku yang selama ini tidak mau menjalin hubungan serius saja percaya akan takdir dan jodoh Mar. Lihatlah buktinya alergimu hilang setiap kau berada didekatnya. Kau sekarang sudah santai dan nyaman kan dekat dengannya?" tanya Kevin.


"Aku ingat waktu kita kuliah di luar negeri ada wanita yang mencoba ingin mendekati kamu. Itu alergi terparah yang pernah aku lihat pada dirimu. Berhari-hari kau muntah dan akhirnya kau sakit selama tiga hari. Trus waktu kau baru menduduki jabatan sebagai CEO, bertemu dengan salah satu client kita yang ternyata mempunyai niat untuk menjebakmu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dikamar bersamamu karena kau terus muntah berada didekatnya" August mengingatkan.


"Sejak itu kau semakin menjauhi setiap wanita yang baru kau kenal kecuali Oryza, Mamaku, adikku dan para pekerja wanita yang ada dirumah kita. Bahkan Papa harus mempertahankan hampir semua pelayan wanita yang dulu bekerja dirumahmu agar tetap bekerja dirumah kita supaya kau tetap nyaman berada dirumah" ucap Kevin.


"Jangan simpan rasa dendam yang berlebihan, hidupmu tidak akan bahagia. Kami sangat ingin kau bahagia agar kami juga bisa melangkah dengan tenang menuju masa depan kami. Kami juga ingin berkeluarga" sambung August.


"Ya tentu donk aku ingin menikah. Umurku juga sudah tiga puluh tahun. Aku punya jabatan dan harta, untuk apa semua itu kumiliki kalau tidak akan kuwariskan untuk anak-anakku kelak. Dan bagaimana aku bisa punya anak kalau aku tidak mencari calon ibunya segera" cerocoa August.


"Ini benar-benar dirimu kan August? Aku merasa kau seperti orang lain yang sedang kemasukan roh" Kevin merasa ketakutan.


"Kau ingat dulu janji kita saat melihat Omar sakit karena wanita bule yang mendekatinya saat kita kuliah diluar negeri. Kita berjanji akan membiarkan Omar yang menikah lebih dulu dari kita, setelah dia mendapatkan pasangannya dan bahagia baru kita akan memikirkan masa depan kita" August menatap wajah Kevin.


"Iya aku ingat" jawab Kevin.


"Ini hampir tiba saatnya, besok Omar akan menikah dan kuharap kau bahagia Mar dengan pernikahanmu. Setelah itu baru aku merasa tenang sudah ada seseorang yang akan bersamamu dalam suka dan duka. Baru aku bisa meraih masa depanku" ucap August.


"Aku tidak tau mengenai janji kalian itu, mengapa baru sekarang kalian mengatakannya padaku?" tanya Omar.


"Aku saja baru ingat sekarang Mar" jawab Kevin.

__ADS_1


"Saat itu kau sedang sakit dan setelah itu aku dan Kevin tidak pernah membahas hal itu lagi tapi aku masih ingat jelas akan janji itu" August menjelaskan.


"Bahagialah kawan, kita sudah seperti saudara. Lebih lima belas tahun ini kita menjalani kehidupan bersama-sama. Saatnya kini kau melangkah bersama pasanganmu berjalan menuju masa depan. Kita punya jalan yang berbeda-beda. Cukup sampai disini kami akan mendampingimu. Mulai besok ada seseorang yang akan selalu bersamamu dalam suka dan duka. Kita hanya akan bertemu di kantor. Setelah kau menikah tentu kami tidak akan sebebas dulu keluar masuk apartemenmu" August mengingatkan.


"Aku yang akan menikah besok tapi mengapa aku merasa seperti aku yang akan ditinggalkan?" ucap Omar.


"Kau tidak sendiri, kami akan selalu ada disaat kau membutuhkan, hanya saja kami akan menghormati posisi istrimu dirumah ini. Kami tidak bisa seperti dulu berada di apartemenmu" balas August.


"Yah benar, mulai besok Jasmine akan menjadi kakak ipar kami. Istri dari saudara tertua kami" goda Kevin.


"Hah kalian..." Omar tak dapat berkata-kata lagi.


"Sekarang kau istirahat dan tidur agar besok segar saat bangun pagi. Masak mau jadi pengantin dengan wajah kusam dan kusut. Sayang ketampananmu akan memudar" nasehat Kevin.


"Kami tidur dikamar tamu ya" ucap August.


Kevin dan August keluar dari kamar Omar. Mereka meninggalkan Omar sendiri dikamarnya agar dia bisa beristirahat dengan tenang.


.


.


BERSAMBUNG


Teman-teman mana nih suaranya. Tetap dukung aku ya, agar lebih semangat upnya.


Jangan lupa like dan commentnya...


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2