BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 79


__ADS_3

Kini hanya tinggal Omar dan Mamanya yang tinggal berdua diruangan itu. Untuk beberapa waktu mereka hanya saling diam dan saling menatap.


Zahra memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Dia sudah tak sabar ingin berbincang-bincang dengan putra kesayangannya.


"Apa kabar kamu Nak?" tanya Zahra.


"Baik" jawab Omar singkat.


"Pekerjaan kamu baik?" tanya Zahra lagi.


"Semuanya berjalan lancar" ucap Omar.


"Mama turut bersedih dengan apa yang menimpa Jasmine kemarin. Mungkin semua itu salah Mama. Kalau seandainya Mama tidak datang ke apartemen kamu sore itu mungkin kamu tidak akan marah pada Mama dan Jasmine sehingga menyebabkan Jasmine keguguran. Mama minta maaf" Mata Zahra mulai berkaca-kaca. Airmatanya sudah siap mengalir.


"Semua sudah jalannya. Mungkin belum rezeki kami memiliki anak secepat itu" balas Omar.


Zahra mulai bercerita dihadapan Omar.


"Mama sangat senang bisa bekerja di Toko Kue Jasmine. Disana Mama bisa menyalurkan hobby Mama memasak cake dan roti. Ketepatan waktu itu Mama melihat di Toko Kuenya sedang menerima lowongan kerja. Jadi Mama melamar sebagai karyawan disitu. Saat melamar Mama di tes memasak cake dan Mama masak cake kesukaan kamu. Ternyata Jasmine dan seluruh karyawan disana menyukai cake buatan Mama dan Mama diterima bekerja disana. Mama sangat senang sekali bekerja disana. Jasmine Bos yang sangat baik. Pemilik toko yang ramah dan sayang pada semua karyawannya. Dia tidak membeda-bedakan para karyawannya. Sampai Mama mendengar kalau dia sedang hamil muda dan dia menyebutkan nama suaminya. Mama tidak menyangka kalau kamulah suaminya. Mama sangat senang sekali mengetahui kalau kamu sudah menikah dan Jasmine lah istri kamu. Kamu sangat beruntung mendapatkannya. Dia istri yang cantik, baik dan sholehah" ungkap Zahra.


Omar hanya diam mendengar cerita Mamanya sambil terus menatap Mamanya yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


"Jasmine mengajak Oryza ke toko kue untuk belajar membuat kue yang Mama buat. Kata Jasmine, Oryza dan kamu sangat menyukainya. Untuk pertama kali Mama melihat Oryza setelah lima belas tahun. Mama tidak mengenalinya. Dulu dia sangat kecil sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Terimakasih sayang kamu sudah menjaga adik kamu dengan baik" Airmata Zahra mulai mengalir.


"Kemudian kamu datang ke toko kue untuk menjemput Jasmine, saat itu Mama tidak berani memunculkan wajah Mama dihadapan kamu. Mama hanya sembunyi di dapur dan melihat kamu dari kejauhan. Putra Mama sudah menjadi lelaki yang tampan dan gagah. Sudah menjadi suaminya yang kuat dan menyayangi istrinya. Terimakasih sayang kamu sudah hidup dengan bahagia sampai sekarang. Rasa bersalah Mama pada kalian karena sudah meninggalkan kalian selama lima belas tahun terobati sudah dengan melihat kalian tumbuh menjadi anak-anak yang kuat dan sehat" ucap Zahra sambil terisak.


"Ternyata Jasmine mencurigai sikap Mama, dia bertanya kepada Mama mengapa Mama menangis saat melihat kamu. Mama tidak bisa berbohong lagi. Mama menceritakan semuanya tentang kita, tentang keluarga kita. Tentang apa yang kita alami sehingga kita menjadi seperti ini" Zahra meraih kotak tisu yang ada di atas meja.


"Mama tau ini mungkin sangat berat buat kamu. Sangat berat untuk kamu terima tapi tolong dengarkan Mama. Mama tidak berharap lebih kamu cukup dengarkan perkataan Mama.." Zahra menghapus airmatanya dengan tisu yang ada didalam genggaman tangannya.


"Mama tau, tak pantas rasanya Mama mengucapkan kata ini. Tapi Mama tetap ingin sekali mengatakannya pada kamu dan Oryza. Maafkan Mama sayang... Mama sudah meninggalkan kalian, Mama sudah menelantarkan kalian. Mama sudah melukai hati dan perasaan kalian. Mama sudah membuat hidup kalian cacat dan berantakan. Mama sudah melewatkan setiap waktu dalam pertumbuhan kalian. Mama tidak ada disaat kalian sakit, kalian sedih bahkan disaat kalian bahagia. Mama tidak pernah lagi memasak sesuatu untuk kalian, menemani kalian belajar dan bermain. Maafkan Mama yang sudah melewatkan begitu banyak waktu bersama kalian" Zahra kembali menangis.


"Maafkan Mama sayang... Maafkan Mama yang telah membuat hidup kalian tidak lengkap lagi. Maafkan Mama yang tidak bisa mempertahankan kalian untuk tetap bersama Mama. Maafkan Mama yang tidak bisa menyelamatkan diri Mama sendiri agar Mama bisa tetap bersama kalian, membesarkan dan mengurus kalian" Zahra menangis terisak.


"Mama tidak tau harus bagaimana Mama bisa menebus semuanya. Menebus waktu yang telah Mama lewatkan bersama kalian. Membalas malam-malam panjang tanpa memeluk kalian" ucap Zahra.


Sontak Omar terkejut melihat apa yang Zahra perbuat.


"Omar... Maafkan Mama. Mama salah telah meninggalkan kalian, Mama salah tidak merawat dan membesarkan kalian. Mama salah tidak bisa membela diri dan membuat kita berpisah. Tapi Mama tidak bersalah atas apa yang dituduhkan kepada Mama. Tolong percaya kepada Mama nak... Bukan Mama yang membunuh Papa. Semua terjadi begitu saja dan sangat cepat. Semua kecelakaan sayang..." ungkap Zahra.


Zahra kemudian menceritakan semua yang terjadi siang itu saat dia sedang sendirian dikamar dan saat pria itu datang sampai akhirnya suaminya meninggal. Oryza kecil menyaksikan kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.


Saat itu Zahra hanya bisa memeluk suaminya. Suaminya yang sedang meregang nyawa. Hingga suaminya meninggal dalam pangkuannya.

__ADS_1


Satu kesalahannya, tanpa dia sengaja dia memegang pisau yang sedang menancap diperut suaminya. Tepat saat Omar datang dan melihat semuanya. Hingga membuat Omar berang dan marah. Omar telah salah sangka.


Cerita Zahra persis sama seperti yang Jasmine ceritakan. Omar tidak tau apakah yang dia dengar itu benar atau salah. Dia tidak dapat memutuskannya.


Hasil pemeriksaan polisi Zahra dinyatakan bersalah. Bukti satu-satunya adalah sidik jari Zahra yang ada di pisau yang tertancap diperut suaminya. Bukti yang lain telah berhasil dimusnahkan oleh pria itu dan saksi satu-satunya hanya Oryza. Tapi Oryza melupakan kejadian saat itu. Zahra tidak mungkin menyalahkan putri kecilnya. Putri kesayangannya yang syok melihat kejadian itu dan akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan Omar.


Zahra dihukum dua puluh tahun penjara dan karena kebaikannya selama dipenjara dia mendapatkan potongan lima tahun. Sehingga hukumannya berkurang menjadi lima belas tahun penjara.


Zahra terus menangis sambil terisak dengan posisi duduk dan berlutut dihadapan Omar. Mungkin dengan cara seperti ini dia dapat menebus semua kesalahannya pada anak-anaknya.


Walau dia sadar itu tidak akan dapat mengobati luka hati anak-anaknya selama lima belas tahun ini. Tapi biarlah untuk kali ini saja dia mencoba meyakinkan hati putranya. Setidaknya dia sudah mempunyai kesempatan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Kini semua keputusan ada ditangan putranya Omar Barrakh, apakah dia mau percaya dan memaafkannya.


Omar berdiri dari kursinya.


"Mama...." panggil Omar.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Tisu mana tisu... yang baca siapkan tisu ya...


__ADS_2