
"Tolooong.. Kak August toloooong..." teriak Oryza.
Omar mendobrak pintu kamar Oryza saat mendengar Oryza berteriak minta tolong.
"Sayang... kamu kenapa?" tanya Zahra memeluk anaknya yang masih berbaring. Peluh mengalir dari wajahnya yang terlihat ketakutan.
"Aku mimpi buruk Ma... pria itu ingin memperkosaku" isak tangis Oryza mulai terdengar.
"Tenang Za... itu hanya mimpi buruk. Kamu minum dulu ya trus coba wudhu dan shalat malam. InsyaAllah nanti tidur kamu kembali nyenyak" nasehat Jasmine.
"Syukurlah hanya mimpi, kakak kira sesuatu yang buruk terjadi sama kamu" Omar bernafas lega ternyata adiknya hanya mimpi buruk.
"Kalau begitu Mama temani kamu tidur dikamar ini. Kalian kembali saja ke kamar, istirahat. Sudah larut malam" Zahra menyuruh Omar dan istrinya kembali ke kamar mereka.
"Baiklah kami balik ke kamar ya Ma" ucap Jasmine.
Omar dan Jasmine kembali kekamar mereka.
"Tuh sayang kamu lihat sendiri kan bagaimana keadaan Oryza. Posisi kamu sebagai penjaganya sudah tergeser. Saat ini sudah ada seorang pria yang akan menjaganya bahkan di dalam mimpi sekalipun Oryza tetap memanggil nama August. Apa kamu masih tetap pada pendirian kamu, tidak menyetujui hubungan mereka? Kalau mereka berbuat dosa kamu yang akan disalahkan karena menghalangi niat baik mereka. Mereka ingin segera halal dimata Allah sayang. Tolong fikirkan lagi sayang" Jasmine berbicara dengan lembut.
Omar terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sudahlah sayang jangan difikirkan sekarang. Pelan-pelan saja. Sekarang kita tidur dulu ya, aku ngantuk banget" ucap Jasmine.
*******
Kevin berangkat honeymoon selama seminggu, itu artinya hanya Omar dan August yang berkerja di kantor mengurus perusahaan.
Omar masih mendiamkan August. Dia tidak banyak mengajak August berbicara hanya hal-hal penting yanh perlu dibahas saja baru dia bertanya kepada August.
August sebenarnya tidak suka dengan keadaan ini. Dia merasa canggung berada didekat Omar. Belum pernah selama perjalanan persahabatan, mereka perang dingin selama ini.
Hal ini harus segera diselesaikan. Sudah hampir seminggu Omar seperti menjauhi dan menjaga jarak dengannya.
"Mar bisa kita bicara sebentar?" tanya August.
__ADS_1
Omar tau hal ini pasti akan terjadi. Tidak mungkin dia mengelak terus dari August.
"Bicaralah" ucap Omar.
"Aku serius ingin menikah dengan Oryza Mar. Aku mencintainya" tegas August.
"Oryza masih kecil, dia belum selesai kuliah" jawab Omar.
"Aku janji setelah menikah Oryza akan tetap kuliah Mar" janji August.
"Aku tidak mau kuliahnya terganggu alasannya karena sibuk rumah tangga" tolak Omar.
"Aku janji tidak akan membebaninya dengan urusan rumah tangga. Dia hanya fokus menyelesaikan kuliahnya" August berusaha meyakinkan.
"Aku tidak mau kuliahnya tertunda karena alasan dia hamil dan melahirkan kemudian sibuk mengurus anak" Omar berdiri dan berlalu meninggalkan August.
"Aku janji Oryza tidak akan ham.... Akh.. Omaaar" teriak August kesal karena Omar tidak mau menyelesaikan pembicaraan mereka.
Sial... bagaimana mungkin aku mencegah Oryza hamil kalau sudah menikah. Ingat bro usia kita sama, tiga puluh tahun. Kalau aku menunda punya anak sampai Oryza tamat kuliah bisa-bisa aku semakin tua. Nanti anakku bukan memanggil ayah lagi padaku, malah memanggilku Opa. Gumam batin August.
Omar menghempaskan nafasnya secara kasar.
****
Di rumah keluarga Omar Barrakh.
"Mbak..." panggil Oryza.
"Hemm..." Jasmine sedang santai duduk disofa sambil menonton TV dan menikmati potongan buah yang disajikan Bi Iyem.
"Aku mau pakai jilbab. Ajarin donk Mbak gimana cara memakainya" pinta Oryza.
Jasmine menghentikan kegiatannya kemudian menatap Oryza.
"Kamu serius?" tanya Jasmine.
__ADS_1
"Serius Mbak" jawab Oryza.
"Apa alasan kamu sehingga kamu ingin memakai jilbab?" tanya Jasmine. Dia ingin mengetes keseriusan adik iparnya itu untuk memakai jilbab.
"Aku sadar Mbak menutup aurat wajib bagi wanita. Jilbab dapat menjauhkan kita dari pandangan-pandangan pria hidung belang. Aku masih sangat trauma dengan kejadian di hotel itu. Mungkin tidak semuanya salah Rakha. Aku juga bersalah karena tidak menutup auratku. Aku tidak mau menambah beban Papa dan Kak Omar nanti di akhirat karena aku tidak menutup aurat dan juga aku tidak mau suamiku juga menanggung bebannya" ucap Oryza malu.
Jasmine tersenyum menatap Oryza, sepertinya ada yang berubah pada adik iparnya itu. Oryza sekarang terlihat lebih dewasa.
"Yang paling utama aku ingin berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi Mbak. Bisa menjaga diri dengan baik dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi" tegas Oryza.
"Kamu serius ingin menikah dengan August?" tanya Jasmine.
Dengan malu-malu Oryza menganggukkan kepalanya.
"Iya Mbak" jawabnya.
"Kamu siap menikah muda? melepas semua masa remaja kamu. Disaat teman-teman kamu masih bisa jalan sana jalan sini, bermain dan berkumpul bersama , bebas melakukan apapun yang kamu inginkan. Kalau kamu menikah langkah kamu akan terbatas. Kamu tidak bisa kemanapun tanpa izin suami. Kamu akan sibuk mengurus rumah tangga kamu" tanya Jasmine.
Oryza terdiam dan menunduk.
"Menikah itu tidak seindah yang dibayangkan Oza... Mungkin yang difikiran kamu hanya mikir cinta. Tapi cinta saja tidak cukup. Cinta harus dibarengi dengan kesabaran dan kesadaran. Itu Cinta orang dewasa bukan cinta remaja yang taunya hanya ingin bermanja-manja dan sayang-sayangan saja. Kalau kita menikah akan ada tanggung jawab besar yang harus kita pikul. Hidup bersama dengan orang yang berbeda, menyatukan kebiasaan dan keinginan yang berbeda. Latar belakang kehidupan dan pemikiran yang berbeda. Okelah kamu sudah mengenal August sejak kamu kecil tapi itu baru kulit luarnya. Kamu tidak tau kan apa kebiasaannya, sifatnya, apa yang dia suka dan tidak suka begitu juga sebaliknya. Tidak mudah menyatukan dua hati yang berbeda Za. Butuh kekuatan yang besar dan juga kesabaran. Coba kamu fikirkan perkataan Mbak ini baik-baik. Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru. Sembari kamu belajar memantapkan hati untuk berhijab. Apapun keputusan kamu Mbak akan mendukung dan pelan-pelan Mbak akan membantu kamu mendapatkan restu dari Mas Omar" nasehat Jasmine.
"Terimakasih Mbak" Mata Oryza terlihat berkaca-kaca.
"Sekarang kami belajar dulu yang banyak, setelah hati kamu mantap untuk berhijab, Mbak akan mengajak kamu berbelanja hijab yang banyak untuk kamu berserta pernak-perniknya setelah itu akan Mbak ajari bagaimana cara memakai hijab yang benar ya" Jasmine tersenyum lembut menatap adik iparnya itu.
"Sekali lagi terimakasih Mbak Jasmine" Oryza memeluk erat tubuh Jasmine.
Banyak nasehat yang Oryza dapatkan hari ini. Persiapan memantapkan hati untuk berhijab dan menikah muda.
Benar kata Mbak Jasmine aku jangan terlalu gegabah mengambil keputusanku. Hanya karena cinta yang sedang membara aku menyetujui ajakan Kak August untuk menikah tanpa aku mempersiapkan diri untuk hal itu.
Tunggu aku ya Kak August, aku akan mempersiapkan diri menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku harap kamu bisa menerima segala kekuranganku dan siap membimbingku menjadi istri solehah. Batin Oryza.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG