
Omar dan Jasmine sudah sampai di apartemen Omar. Barang-barang Jasmine sudah diantar melalui jasa pengantar yang di pesan orangtuanya kemarin. Sehingga mereka hanya tinggal terima beres saja.
"Ini kamar kamu" ucap Omar.
Jasmine menatap wajah Omar terkejut. Dia tidak menyangka akan menjalani rumah tangga seperti ini. Sebenarnya Jasmine memang belum siap untuk berbagi ranjang dengan Omar tapi dia tidak pernah membayangkan rumah tangga yang akan dijalani dengan cara begini. Suami istri pisah kamar.
Tetapi egonya muncul, tidak mungkin dia yang meminta untuk tinggal sekamar dengan Omar, bisa-bisa Omar berfikiran kalau dia ingin menggoda Omar.
Tidak...tidak... memang lebih baik begini, aku bisa menata hati dan menjaga tubuhku. Aku tidak akan menyerahkan seluruh hidup dan tubuhku sebelum aku bisa memastikan dia memang pantas untuk mendapatkannya. Lagian bisa ke geeran tuh pria berwajah datar kalau aku menanyakannya. Batin Jasmine.
"Jadi kita punya kamar sendiri-sendiri kan?" tanya Jasmine.
"Tentu saja, kamu jangan terlalu berharap Jasmine. Aku tidak bisa bisa berdekatan dengan wanita" jawab Omar dengan sedikit penekanan.
"Cih siapa juga yang mau berdekatan denganmu. Kejadian tadi malam aku sangat yakin pasti ada campur tangan sepupu dan asisten pribadi kamu kan?" tanya Jasmine kembali.
"Aku tidak tau, semua sudah terjadi dan kita sudah menikah. Bagiku kejadian semalam tidak menjadi masalah besar karena itu sah-sah saja kita lakukan. Hanya saja aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Makanya lebih baik kita tidur dikamar yang terpisah" tegas Omar.
"Aku juga tidak mau kejadian itu terulang lagi. Boleh aku meminta sesuatu padamu?" pinta Jasmine.
Omar menatap wajah Jasmine penasaran.
"Belum juga satu hari tinggal disini, kau sudah banyak permintaan" ucap Omar.
"Aku tidak ingin dua pria itu keluar masuk apartemen ini. Aku istri kamu tolong hargai dan lindungi aku ditempat ini. Ku harap kau mengerti. Aku memakai jilbab, jika ada lelaki lain yang bukan muhrimku, aku tidak leluasa melakukan sesuatu disini" Jasmine berkata dengan penuh pengharapan.
"Baik, kalau itu permintaan kamu akan aku penuhi" jawab Omar.
"Kalau begitu aku juga punya permintaan padamu" pinta Omar.
Kini Jasmine yang menatap Omar dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Kamu bebas melakukan apapun disini tapi sesuai perjanjian kita sebelum menikah, jangan campuri urusan masing-masing. Aku hanya mau di depan umum kita bersikap layaknya suami istri yang sesungguhnya. Aku tidak mau kehidupan kita disini terbongkar sampai keluar" ucap Omar.
"Setuju. Aku setuju dengan permintaanmu" jawab Jasmine.
Jasmine masuk kedalam kamar yang disediakan Omar sebagai kamarnya di apartemennya. Omar juga masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Haaah... mulai hari ini aku harus membiasakan diri untuk berbagi apartemen dengannya dan membiasakan diri melihat dan dekat dengannya. Semoga tubuhku baik-baik saha dan bisa menerimananya. Batin Omar.
Omar kemudian menutup matanta dan terlelap karena tadi malam dia hanya tidur sebentar setelah malam panas yang dia lakukan bersama Jasmine.
Sedangkan Jasmine menyusun semua pakaiannya kedalam lemari, menyusun peralatan makeupnya di meja rias setelah itu dia keluar kamar dan berkeliling apartemen untuk melihat-lihat.
Apartemen yang sangat luar terdiri dari empat kamar tidur yang di dalamnya masing-masing dilengkapi kamar mandi. Jasmine memeriksanya satu-persatu. Dua kamar disulap untuk ruang kerja dan ruang fitnes.
Ruang kerja Omat terlihat sangat rapi, ada rak buku besar tepat dibelakang meja kerjanya, ada sofa santau yang nyaman untuk membaca.
Ruang fitnes di isi dengan berbagao perlatan olahraga Omar. Sepertinya pria itu rajin berolah raga terbukti dengan bentuk badan dan perutnya yang datar seperti roti sobek. Wajah Jasmine merona membayangkan malam panas mereka tadi malam.
Dapur dan meja makan terletak satu paket. Jasmine yang gemar memasak sangat senang melihat peralatan memasak yang lengkap di dapur Omar. Dia sudah tidak sabar beraksi didapur ini membuat hidangan yang manis-manis dan lezat.
Oh ternyata ini adalah kamar utama, kamar pria wajah datar ini. Batin Jasmine.
Kamar dengan dinding cat putih, letak kamar yang rapi dan bersih. Di dalam kamar ini terdapat walk in closet yang menyimpan semua pakaian dan barang-barang pribadi Omar, kamar mandi yang luas dan sangat nyaman. Disudut kamar terdapat dinding yang terbuat dari kaca tepat menghadap kearah depan gedung apartemen ini. Karena apartemen ini berada paling atas Jasmine bisa melihat keindahan kota dari ketinggian. Sangat indah pemandangan dari kamar ini. Pujinya dalam hati.
Jasmine tersadar, dia tidak boleh berlama-lama berada dikamar ini. Dia harus segera keluar sebelum Omar terbangun. Kalau tidak Omar bisa berfikiran yang tidak-tidak kepadanya. Jasmine segera keluar dan menutup pintu kamar Omar.
Omar tersentak karena suara pintu kamar yang baru ditutup. Dia bangun dari tidur dan segera keluar kamarnya
"Kau yang baru saja menutup pintu kamarku?" tanya Omar pada Jasmine yang sedang duduk diruang TV.
"Iya, maaf kalau membuatmu terbangun. Tadi aku berkeliling apartemen ini dan tidak sengaja membuka kamarmu" jawab Jasmine.
__ADS_1
"Jangan sampai itu terulang lagi. Aku tidak ingin siapapun masuk kedalam kamarmu tidak terkecuali kamu" tegas Omar.
"Aku akan ingat itu. Tadi aku memeriksa kulkas, isinya kosong. Aku berencana mau berbelanja bahan-bahan masak. Kamu mau titip sesuatu?" tanya Jasmine.
"Tidak ada" jawab Omar singkat. Omar mengambil dompet dari saku celananya kemudian mengambil kartu kredit unlimitide dan menyerahkannya pada Jasmine.
"Apa ini?" tanya Jasmine.
"Pakai ini untuk memenuhi kebutuhan kamu" ucap Omar.
"Tidak perlu, aku bisa gunakan uangku sendiri" tolak Jasmine.
"Kamu istriku, semua kebutuhan kamu akan aku penuhi. Anggap ini adalah nafkah dariku" tegas Omar.
Jasmine berfikir sejenak.
Tidak ada salahnya aku menerima penawarannya. Emang sudah kewajibannya kan memenuhi semua kebutuhanku sebagai istrinya. Batin Jasmine.
"Baik akan aku pakai, kita lihat apakah kau akan menyesal memberikan kartu ini padaku. Aku akan menguras isi kantongmu" ancam Jasmine.
"Coba saja kalau kau sanggup menghabiskannya. Jangan anggap remeh pada kekayaanku" Jawab Omar penuh percaya diri. Omar sangat yakin Jasmine adalah gadis sederhana dan tidak matre, dia pasti tidak akan melakukan apa yang barusan dia katakan tadi.
Huh sombong sekali kamu Tuan. Aku bukan wanita rendahan yang kamu fikirkan. Aku punya harga diri yang tinggi dan tidak mau menggantunkan hidupku padamu. Aku bisa membeli apapun yang kumau tanpa memakai uangmu.
"Kalau begitu aku akan pergi ke supermarket terdekat membeli semua kebutuhan. Bisa pinjam mobilmu? Mobilku belum diantar supir Papa ke sini" ucap Jasmine.
Omar menyerahkan kunci mobilnya kepada Jasmine. Jasmine masuk kembali kekamarnya untuk mengambil tasnya kemudian dia keluar lagi dan pergi menuju supermarket untuk berbelanja.
Sedangkan Omar masuk keruang kerjanya untuk memeriksa beberapa pekerjaannya yang tertunda dikarenakan kesibukannya menyiapkan resepsi pernikahannya beberapa hari ini.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG