
Tanpa terasa seminggu sudah berlalu. Kevin sudah kembali dari perjalanan honeymoonnya. Dan sudah aktif bekerja kembali.
Kevin melihat wajah August terlihat murung.
"Ada apa Gus, kenapa wajah lu asem kyak gitu. Ada yang terjadi selama aku pergi?" tanya Kevin penasaran.
"Gak ada Bos, semua pekerjaan lancar tidak ada hambatan" lapor August.
"Kalau begitu ada apa dengan wajahmu. Jelek banget tauk" ledek Kevin.
"Dari dulu wajahku emang sudah seperti ini" balas August.
"Emang sih wajah kamu ketat kayak tali kolo* yang baru tapi ini lebih ketat lagi Gus. Udah kayak tali jemuran yang baru diperbaiki setelah hujan topan" balas Kevin.
"Perumpaan kamu kejauhan. Gak lucu" ucap August.
"Tuh kan gampang tersinggung kayak perempuan yang lagi PMS" goda Kevin.
August hanya diam tanpa menghiraukan ocehan Kevin.
"Kamu sih enak baru pulang honeymoon makanya wajah kamu cerah bersinar. Lah aku jangankan nikah, restu aja belum" ungkap August.
"Lho sudah seminggu aku tinggalkan kamu belum juga mengantongi restu Omar. Kamu serius gak sih ingin menikahi Oryza?" tanya Kevin.
"Serius Vin. Apa pernah kamu lihat aku main-main dalam memutuskan sesuatu? Apalagi itu menyangkut masa depanku ditambah lagi wanita itu Oryza, adik dari sahabatku. Aku tidak akan berani main-main" jawab August.
"Aku percaya Gus kamu serius tapi aku tidak pernah menyangka wanita yang akan kamu nikahi adalah Oryza. Aku kira kau sama seperti kamu, menganggap Oryza seperti adik sendiri" ucap Kevin.
"Kalian memang punya hubungan darah Vin. Tapi aku tidak, seiring berjalannya waktu aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai anak kecil. Dia sudah menjadi wanita dewasa Vin dan dia bukan adikku. Rasanya tidak salah kalau aku mencintainya" balas August.
"Kamu tidak salah soal itu. Tapi aku kasihan pada Oryza. Dia akan menjadi kunti. Aku tidak percaya sebentar lagi kami akan berbeda alam. Dia akan satu alam dengan kamu. Jin dan Kunti... ck..ck.. nasibmu Oryza menjadi kuntinya si Jin" canda Kevin agar August tidak terus-terusan bersedih.
"Asem lu... masih aja nyebut-nyebut jin dan kunti. Mana ada kunti secantik Oryza" bela August.
__ADS_1
"Duh yang udah bucin, belain terus tuh kekasih hati" goda Kevin.
"Ya iyalaah mana tega aku Oryzaku sayang disamain sama kunti" balas August.
"Ehm....ehmm..." sindir Omar yang baru masuk keruangan Kevin.
"Ngapain kalian nyebut-nyebut nama adikku kayak gak ada yang lain yang bisa dibahas" sindir Omar dingin.
"Kami kan cuma bercanda Din, serius amat wajahnya" ledek Kevin.
"Aku keluar dulu ya Bos, ada berkas yang gantung tadi belum selesai ku cetak" elak August. Dia masih canggung berdekatan dengan Omar.
"Oke bro" balas Kevin santai.
Omar hanya diam tanpa sedikitpun melirik kearah August.
Omar hanya diam.
"Kamu belum memberi restu pada August untuk menikahi Oryza?" tanya Kevin.
"Aku tidak akan merestui mereka" tegas Omar.
"Jangan terlalu keras seperti itu Mar. Nanti kamu sendiri yang akan kecewa. Kenapa sih kamu tidak menyetujuinya. Apa alasan kamu menolak August sebagai adik ipar kamu?" tanya Kevin.
"Nanti saat kamu akan menikahkan Renata, baru kamu rasakan" jawab Omar.
"Aku rasa pemikiran kita tidak sepaham bro. Kalau seandainya saat ini yang dilamar August itu Renata aku pasti akan menyetujuinya. Zaman sekarang menjaga anak perempuan itu jauh lebih sulit Mar. Aku tau itu dengan pasti. Banyak pria hidung belang diluar sana yang siap menyicipi mereka. Ingat hanya menyicipi. Dan aku menyesal dulu pernah menjadi salah satu dari pria hidung belang itu. Tapi aku mengambil hikmah dari semua itu. Pergaulan anak remaja sekarang sudah bebas Mar. Sangat sulit menjaga mereka dari perbuatan dosa. Dan juga zaman sekarang ini sulit mendapatkan pria sebaik August. Kita kan sudah berteman lama dengan August, kamu pasti sudah tau gimana dia. Masak kamu tidak mau melepaskan adik kamu pada pria sebaik August. August tidak pernah mengenal wanita, dia pria baik-baik, bertanggung jawab dan pekerja keras. Seandainya Oryza bisa diganti dengan Renata hari ini juga dengan senang hati aku akan menikahkan mereka" nasehat Kevin.
"Tapi Oryza masih kuliah Vin?" ucap Omar mencari alasan.
"Emangnya kenapa kalau dia masih kuliah. Anak kuliahan tidak dilarang kok menikah" jawab Kevin.
__ADS_1
"Nanti kuliahnya terganggu karena harus mengurus suaminya" Omar memberi alasan lagi.
"August itu pria mandiri Mar, aku yakin dia tidak akan merepotkan Oryza dan dia tidak akan menuntut Oryza untuk memenuhi semua kebutuhannya" bela Kevin.
"Kalau dia hamil gimana? aku gak mau kuliahnya berhenti" Elak Omar.
"Bro... ditunda satu semester aku rasa tidak masalah. Lagian Oryza anak yang cerdas dia pasti akan bisa mengejarnya" balas Kevin.
"Kemarin August bilang dia bersedia tidak akan membuat Oryza hamil" tegas Omar.
"Gile lu bro... Menikah itu tujuannya untuk melanjutkan keturunan. Tega banget lu buat perjanjian seperti itu. Ingat usia August sama seperti kita. Kalau menunggu Oryza tamat baru punya anak ketuaan dia bro. Aku rasa dia tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu. Aku yang playboy aja saat menikah ingin secepatnya memilik anak dari wanita yang aku cintai. Aku tau semua keberatan yang kamu ucapkan tadi hanya alasan kamu saja. Kamu belum siap melepas adik kamu kan?" tanya Kevin.
"Iya Vin, dia adikku satu-satunya, amanah yang diberikan Papa padaku untuk aku jaga. Aku tidak bisa semudah itu melepaskannya" Akhirnya Omar mengaku alasan keberatannya.
"Hei.. posisi kita sama Bro, aku juga memiliki Renata. Tapi aku memegang prinsip kalau itu bisa membuat dia bahagia tidak masalah buatku toh pilihannya juga pria yang baik. Kita tidak bisa selamanya menjaga mereka, suatu saat kita pasti akan merelakannya dibawa oleh suaminya dan tanggung jawab kita akan berpindah kepada suaminya kelak. Suaminya yang akan menjaga dan membimbingnya menjadi istri yang solehah" nasehat Kevin.
"Apa seberat ini ya melepaskan seorang anak gadis dikeluarga kita untuk menikah. Nih baru adik, gimana nanti kalau aku punya anak gadis sendiri?" ucap Omar.
"Makanya aku salut sama mertuaku, dia ikhlas melepas anak gadis semata wayangnya, putri tunggal yang sangat dia sayangi menikah dengan pria brengsek dan playboy seperti aku" puji Kevin pada mertuanya.
"Iya ya... sama mertua aku juga. Waktu aku melamar Jasmine pada orangtuanya aku tidak mendapatkan halangan dan rintangan yang sulit. Asalkan Jasmine bahagia, kami turut bahagia. Itu jawaban mereka" Omar tersadar.
"Nah eluu... waktu lu nikah aja tidak dipersulit masak elu mau mempersulit orang lain nikah. Dosa lho.." ledek Kevin.
Mudah-mudahan apa yang aku katakan masuk kedalam logika si Aladin. Bantu August ya author.... (Doa Kevin)
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1