
Jasmine tersadar dipagi hari dengan keadaan sedang tertidur dalam pelukan Omar tanpa busana. Dia merasa Dejavu.
Ingatannya kembali ke kejadian sebulan yang lalu saat dia dan Omar dalam keadaan seperti ini didalam kamar pribadi ruang kerja Omar.
Tapi ada yang berbeda dengan kejadian siang itu. Siang itu dia masih mengenakan pakaian dalam, tapi pagi ini tubuhnya sangat polos tanpa memakai apapun hanya ditutupi oleh selimut.
Jasmine ingat semua yang terjadi tadi malam, bagaimana panasnya mereka bertempur diatas tempat tidur seperti sepasang kekasih yang melepaskan kerinduan karena sudah lama berpisah dan melepaskan dahaga gairah asmara.
Dia kembali ingat kejadian siang itu di gedung perusahaan Barrakh Corp, Jasmine tidak mengingat sedikitpun kejadian yang dia alami dengan Omar dikamar pribadi ruang kerja Omar yang dia ingat hanya dia sedang tidur berdua tanpa busana diatas tempat tidur bersama Omar. Dua perbedaan yang dia sadari dari dua kejadian yang hampir sama mereka alami.
Jasmine teringat ini sudah jam berapa, dia harus shalat subuh. Dia segera bergerak hendak turun dari tempat tidur tiba-tiba.
"Aawww..." Jerit Jasmine. Bagian bawah tubuhnya terasa nyeri saat dia bergerak. Jasmine melihat ada bercak darah diatas seprei tempat tidur mereka.
Apa ini? aku baru melihatnya, apa aku sedang datang bulan? Eh haidku baru berakhir minggu lalu. Jadi sangat jelas ini bukan darah haid. Apa ini? Jasmine terlonjak kaget saat menyadari dan mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
"Ada apa ini, mengapa pagi-pagi kau sudah menjerit? Membuat telingaku sakit" umpat Omar.
Omar membuka matanya dan melihat sekeliling tempat tidur mereka yang sudah entah seperti apa bentuknya. Pakaian mereka berserakan dilantai. Dia dan Jasmine saat ini tidur tanpa mengenakan pakaian, polos tak ada sehelai benangpun yang melilit tubuh mereka. Omar juga tak kalah terkejutnya dengan Jasmine.
Mereka saling menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Omar ingat dengat jelas kejadian mereka tadi malam sebelum akhirnya mereka kelelahan dan tertidur.
Walau masih sakit Jasmine memaksakan kakinya untuk berjalan menuju kamar mandi.
"Ada hal yang perlu kita bahas setelah ini, aku mandi dan shalat dulu waktunya sudah hampir habis" ucap Jasmine sambil berjalan kearah kamar mandi.
Jasmine mandi dengan terburu-buru karena waktu subuh sudah hampir habis, dia harus segera melaksanakan shalat subuh.
Sepuluh menit kemudian Jasmine keluar kamar mandi dengan menggunakan bathrobes. Dia mengambil pakaiannya didalam koper dan memakainya kembali di kamar mandi.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu juga mandi dan membersihkan dirimu. Setelah itu kita bicara" perintah Jasmine pada Omar yang sudah memakai pakaian lengkap.
Omar berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Jasmine memakai mukenanya dan mulai melaksanakan shalat subuh.
Tak lama kemudian Omar sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Dia melihat tempat tidur sudah rapi kembali, mungkin Jasmine yang merapikan. Fikirnya.
Jasmine sudah duduk diatas sofa kamar pengantin mereka. Omar mengerti ada hal yang perlu mereka bahas pagi ini. Pasti tentang kejadian tadi malam.
Omar duduk tepat dihadapan Jasmine.
Kau mau mengajakku bernegosiasi atau membuat sebuah perjanjian? Kau belum tau siapa aku, aku tidak pernah kalah sekalipun dalam bernegosiasi dengan para clientku. Apalagi denganmu, aku pastikan aku yang akan menang. Ucap Omar dalam hati.
"Ada hal yang harus kita bicarakan" Jasmine memulai pembicaraan.
"Aku tau, katakan apa yang mau kau ucapkan" perintah Omar.
"Kejadian siang itu di kamar pribadi kantormu berbeda kan dengan kejadian tadi malam?" tanya Jasmine.
"Siang itu aku terbangun masih menggunakan pakaian dalam, aku terbangun tanpa mengingat sedikitpun kejadian yang kita lakukan seperti tadi malam dan yang terakhir aku tidak melihat ada noda diatas seprei tempat tidur seperti pagi ini dan bagian bawah tubuhku tidak sakit seperti pagi ini" jawab Jasmine.
"Aku tidak tau. Karena saat itu aku juga sama sepertimu tidak mengingat dan tidak merasakan apapun" sambut Omar.
"Kau menjebakku siang itu agar aku mau menikah denganmu?" tanya Jasmine mulai emosi.
"Tidak, aku tidak menjebakmu. Aku juga sedang tidak sadar saat itu. Kau yang menuduhku telah merenggut kesucianmu dan karena rasa tanggung jawablah makanya aku menikahimu" jawab Omar tenang.
"Jadi apa arti dari bukti yang aku temukan pagi ini?" tanya Jasmine lagi.
"Apa? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan" elak Omar.
__ADS_1
"Bercak darah dan rasa sakit dibagian bawah tubuhku. Itu artinya sampai tadi malam sebenarnya aku masih suci?" tanya Jasmine, suaranya mulai melemah dan serak menahan tangis karena dia mencoba menahan kuat emosinya.
"Sudah aku katakan aku tidak mengetahuinya dan kalau kau katakan sampai tadi malam kau masih suci anggaplah itu kado pernikahan kita. Sudah sepantasnya kan aku mendapatkannya sebagai suamimu. Ingat kita sudah sah menikah dimata agama dan hukum negara ini" tekan Omar.
Jasmine mulai terisak, ada rasa kecewa dihatinya merasa dia telah dibohongi. Dia tidak marah dengan apa yang terjadi pada mereka tadi malam karena hal itu tidak salah dan bedosa, mereka sudah sah menikah dan halal melakukan apapun.
Tapi dia merasa kejadian sebulan yang lalu adalah sebuah kebohongan dan kebodohan. Betapa bodohnya dirinya tidak memperhatikan apa yang terjadi dengan dirinya sangkin paniknya mendapati tubuhnya terbaring diatas ranjang kamar pribadi kantor Omar.
Dia sangat bodoh sekali menerima apapun penjelasan Omar dan Kevin mengenai kejadian siang itu.
"Kau marah dengan apa yang telah terjadi pada kita? Kau ingin menyalahkan siapa? Aku juga korban saat itu. Kita sama-sama tidak sadarkan diri dan aku dituntut harus bertanggung jawab. Kau tau kan kalau aku tidak suka berdekatan dengan wanita. Tapi karena rasa tanggung jawabku aku melupakan semua itu dan bersedia menikahimu" Jelas Omar.
Jasmine terdiam, hatinya sangat marah tapi kepada siapa dia harus marah. Benar kata Omar dia juga korban pada saat kejadian siang itu. Karena mereka sama-sama terjebak dan tidak sadarkan diri, pada saat terbangun mereka sudah saling berpelukan tanpa busana.
"Sekarang aku tanya, kau marah karena kejadian siang itu atau karjadian tadi malam? Kalau kau marah karena kejadian siang itu, nasib kita sama. Kita sama-sama tidak sadar dan akhirnya terjebak dalam pernikahan ini. Sedangkan kejadian tadi malam kita sama-sama sadarkan melakukannya dan itu bukan kejahatan. Kita sudah menikah dan tadi malam adalah malam pertama kita. Kau mau menuntut? Tuntut saja, tapi kupastikan kau akan kalah. Aku tidak menyakitimu. Kau ingin berpisah? Silahkan, kau sendiri yang akan malu. Baru satu hari menikah sudah bercerai. Itu yang kau mau?" tanya Omar sedikit emosi.
Sebenarnya Omar hanya mengancam karena dia sangat yakin Jasmine tidak akan berani melakukan apa yang Omar ucapkan tadi. Jasmine adalah wanita yang pintar dia pasti bisa mengendalikan emosinya.
"Akh... aku benci kamu" ucap Jasmine.
Jasmine berlari kearah tempat tidur dan berbaring sambil menangis dibalik selimut. Dia sangat kesal, tapi tidak tau harus meluapkan kekesalannya pada siapa.
Seandainya dia tau kejadian siang itu bohong dia pasti tidak akan terjebak dalam pernikahan ini.
Omar keluar dari kamar mereka menuju sebuah kamar. Dengan penuh emosi dia melangkah tidak sabaran.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG