
Omar dan Jasmine sudah hampir seminggu menjalani bulan madu mereka yang romantis dan mesra. Omar tidak pernah melewatkan malam-malam dingin lagi sendiri.
Dia selalu mendapatkan cara dan alasan agar bisa menghangatkan tubuh istrinya di malam hari dan Jasmine sangat menyukai itu.
Mereka benar-benar menjalani honeymoon tanpa gangguan siapapun. Hanya ada dekapan, kecupan dan desahan mengiringi penjelajahan mereka sampai ke puncak gairah bersama-sama.
Malam ini setelah melakukannya lagi dan lagi mereka berbaring di ranjang dengan saling berpelukan.
"Mas..." panggil Jasmine lembut.
"Hem" jawab Omar sambil memeluk tubuh istrinya.
"Kamu sudah berjanji lho ingin jujur dan terbuka padaku tentang masa lalu kamu. Aku sudah menunggunya hampir dua bulan lamanya sejak aku keguguran tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda kamu akan bercerita" ucap Jasmine hati-hati. Dia takut Omar akan marah.
Jantung Jasmine berdetak kencang. Semoga ini waktu yang tepat untuk membahasnya. Semoga Omar tidak marah dan mau menceritakannya walau Jasmine sudah tau kebenarannya.
Omar melepaskan pelukannya dari tubuh Jasmine dan duduk di dinding tempat tidur. Jasmine semakin gelisah melihat sikap suaminya.
"Maaf sudah membuat kamu menunggu lama. Aku tau cepat atau lambat semua ini harus terjadi. Mas akan menceritakan semuanya" ucap Omar.
Huh... akhirnya. Jasmine bernafas lega.
__ADS_1
"A..aku gak memaksa kamu Mas. Kalau memang berat bisa lain kali saja sampai kamu siap" sambung Jasmine.
"Nggak sayang, kalau ditanya siap sampai kapanpun aku tidak akan pernah siap. Karena sangat sakit mengingatnya. Tapi aku harus melakukannya, selain aku sudah berjanji pada kamu, aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri untuk segera mengakhiri masalah ini di dalam hati dan fikiranku. Aku harus bisa menghadapinya bukan lari dan menguburnya dalam-dalam dihatiku agar tidak ada satu orangpun yang berani mengusik dan menanyakannya. Aku harus berdamai dengan masa lalu" tegas Omar.
Jasmine diam dan menatap wajah suaminya lembut.
Omar menarik nafas panjang dan akan memulai ceritanya.
"Dulu aku memiliki keluarga yang bahagia. Papa dan Mama yang saling mencintai dan menyayangi. Hidupku terasa sangat lengkap dan sempurna. Sampai pada saat kejadian siang itu. Aku baru saja pulang dari sekolah. Aku melihat dengan kepalaku sendiri Papa terbaring tak berdaya diatas pangkuan Mama dengan luka tusuk dan pisaunya masih menancap di perut papa. Walau aku tidak melihat wanita itu menusuk Papa tapi aku melihat wanita itu memegang pisau yang ada diperut Papa. Disana ada Oryza dan Om Rey. Oryza tampak ketakutan menyaksikan kejadian yang menyakitkan itu. Dia masih kecil Mine, usianya baru lima tahun. Dia melihat sendiri Wanita itu menusuk Papa dengan mata kepalanya sendiri. Oryza berlari kedalam pelukanku menangis dan akhirnya dia pingsan. Dokter bilang Oryza mengalami syok sehingga memorynya menolak apa yang baru saja dia lihat saat itu. Oryza tidak ingat sedikitpun kejadian saat itu karena aku dan Om Rey datang setelah semua terjadi. Dari penjelasan Om Rey, wanita itu ketahuan selingkuh dari Papa. Dia membawa pria lain kerumah dan Papa memergokinya. Demi membela pria selingkuhannya wanita itu menusuk dan membunuh Papa. Pria itu menghapus semua rekaman CCTV yang ada di ruang kerja Papa kemudian melarikan diri. Wanita itu tetap saja menutupi identitas selingkuhannya agar tidak ada seorangpun yang mengetahuinya termasuk polisi" ungkap Omar.
Jasmine melihat disudut mata Omar, dia sedang menangis. Pasti menyakitkan baginya mengingat dan menceritakan hal pahit seperti ini.
"Sayang..." panggilnya mencoba menenangkan Omar.
"Wanita itu dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara, sejak saat itu kami tinggal bersama Om Rey. Dia yang membesarkan dan menyekolahkan kami. Dia yang mengurus perusahaan keluarga kami sampai aku tamat kuliah. Sejak kejadian itu aku benci kepada semua wanita. Aku sering marah jika melihat wanita sampai aku mengalami trauma dan alergi jika berdekatan dengan wanita. Jika aku dekat dengan wanita yang tidak aku kenal aku akan mual dan muntah-muntah. Om Rey membawa aku berobat ke psikiater, dia mengganti semua pelayan wanita dirumahnya dan menggantikannya dengan pelayan wanita yang ada dirumah kami. Tamat SMA aku ingin melupakan kenangan buruk disini. Aku memohon kepada Om Rey untuk kuliah diluar negeri agar bisa melupakan kenangan buruk di Indonesia" Omar berhenti sejenak.
"Aku, Kevin dan August sudah bersama sejak kecil. Orangtua August adalah sahabat Papaku. Karena aku bersikeras ingin kuliah keluar negeri mereka mengirim aku kesana bersama Kevin dan August sebagai pengawalku. Kami kuliah bersama di luar negeri. Mereka sangat berjasa pada kehidupanku Mine. Mereka setia menemaniku disaat aku terpuruk dan kecewa pada kehidupan. Mereka membantuku dan melindungiku disaat ada wanita yang ingin mendekatiku. Dan mereka yang menjagaku disaat alergiku pada wanita kumat. Pernah sekali aku mengalami alergi yang parah, aku muntah-muntah sampai tak punya tenaga lagi untuk bangun saat teman kuliahku seorang wanita menjebakku tidur dalam kamar yang sama. Kevin dan August membawaku keluar dari sana. Mereka bukan hanya sahabat, mereka adalah saudaraku yang terdekat. Walau Kevin playboy tapi dia mempunyai hati yang hangat. Aku yakin dia hanya bermain-main tapi soal kehidupan dia sangat serius. Dan August memiliki sifat yang hampir sama denganku, walau tak separah aku tapi August sangat berhati-hati mendekati wanita" Omar menarik nafas panjang.
"Kami menyelesaikan kuliah diluar negeri dengan tepat waktu dan kembali ke Indonesia. Om Rey menyerahkan kursi kepemimpinannya padaku karena saham Papaku lebih besar diperusahaan jadi akulah yang berhak memimpinnya. Itulah perkataan Om Rey. Bagiku Om Reylah sosok pengganti Papa. Dia membesarkan aku dan Oryza dan mendorong kami untuk maju dan sukses sampai sekarang ini. Bahkan dia juga yang memaksa aku menikah sehingga aku bisa menemukan kamu. Kalau Om Rey tidak mendesak aku untuk menikah aku rasa kita tidak akan seperti ini sayang" ungkap Omar.
Akhirnya dia bisa bernafas lega. Semua telah dia ceritakan pada Jasmine tidak ada lagi yang disembunyikannya.
__ADS_1
"Sayang..." panggil Jasmine.
"Ya" jawab Omar. Omar mengelus puncak kepala istrinya.
"Kalau seandainya apa yang kamu lihat salah bagaimana?" tanya Jasmine hati-hati.
"Maksud kamu?" Omar balik bertanya.
"Pernah tidak kamu berfikir kalau seandianya Mama kamu di fitnah dan dipaksa untuk mengakui semua kejahatan yang tidak dia lakukan?" tanya Jasmine lagi.
"Aku tidak mengerti pertanyaan kamu Mine?" Omar menatap wajah Jasmine mencari jawaban dari perkataan Jasmine.
"Mama kamu tidak bersalah, bukan dia yang membunuh Papa kamu. Mama kamu di fitnah tapi dia tidak bisa membuktikan kalau dia bersalah. Sehingga dengan berat hati dia harus menerima semua tuduhan kepadanya dan harus berpisah dengan kalian anak-anak tersayangnya" jawab Jasmine.
"Apa maksud kamu.....?" Omar menuntut penjelasan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1