BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 77


__ADS_3

Setelah kepulangan para sahabat mereka Jasmine dan Omar bersiap-siap untuk istirahat. Sebelum tidur mereka bersih-bersih dulu dan Shalat Isya. Kemudian mereka berbaring sambil ngobrol diatas tempat tidur.


"Mas tadi aku udah kasi oleh-oleh buat Mama" lapor Jasmine.


"Hemm" jawab Omar.


"Kamu tau gak? Mama nangis lho nerimanya" ucap Jasmine.


"Kenapa nangis?" tanya Omar.


"Dia terharu, ternyata kamu masih ingat apa yang dia suka.


Omar diam mencoba berfikir tentang cerita istrinya.


Tadi saat dia makan dessert buatan Mamanya rasa rindunya begitu meluap kepada Mamanya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari kebenarannya.


"My Mine..." pangil Omar sambil membelai rambut istrinya.


"Ya Mas" jawab Jasmine.


"Besok tolong atur pertemuanku dengan Mama ya. Aku mau bertemu dengannya besok" pinta Omar.


"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih sayang" ucap Jasmine terharu.


"Harusnya aku yang mengucapkan terimakasih pada kamu yank. Kamu sudah menjadi penerang dalam kehidupanku yang penuh kegelapan" jawab Omar lembut.


"Aku mencintai kamu Mas" ungkap Jasmine.


"Aku lebih mencintai kamu sayang" Omar mengecup kening istrinya.


****


Dirumah Sheila.


"Dari mana kamu Sheila pulang malam-malam begini?" tanya Papa Sheila yang melihat anaknya baru pulang.


"Sheila baru dari apartemen Jasmine Pa, tadi diajak makan malam bareng sama teman-taman" jawab Sheila.


"Maaf Om Sheila pulangnya telat" sambut Kevin.


"Lho bareng Kevin rupanya?" tanya Papa Kevin.


"Iya Om. Tadi kami dari tempat yang sama" jawab Kevin.


"Kevin kenal sama Jasmine juga?" Papa Jasmine balik bertanya.


"Kenal banget Om. Suami Jasmine kan sepupu saya" jawab Kevin.


Saya juga lho Om yang membuat mereka bisa menikah. Batin Kevin.


"Silahkan duduk Vin, kita ngobrol dulu. Sheil buatkan minum untuk Kevin" perintah Papanya.


"Terimakasih Om" balas Kevin.

__ADS_1


"Kamu mau minum apa Kev?" tawar Sheila.


"Apa aja Sheila" jawab Kevin sopan sambil tersenyum kepada Sheila.


Cih di depan Papa sopan banget, aslinya mesum. Papa aja yang gak tau kelakuannya dibelakang Papa. Batin Sheila.


Kevin duduk disofa ruang tamu tepat di depan Papa Sheila.


"Gimana kabar kamu?" tanya Papa Sheila.


"Alhamdulillah baik Om. Om juga baikkan?" Tanya Kevin balik.


"Seperti yang kamu lihat. Papa sehat Vin?" papa Sheila balik bertanya.


"Papa juga sehat Om" balas Kevin singkat.


"Gimana kerjaan kamu, lancar?" Tanya Papa Sheila.


"Alhamdulillah Om semua baik-baik saja" balas Kevin.


"Kerjaan udah lancar Vin, usia jalan terus. Kapan lagi kamu nyusul sepupu kamu itu Si Omar" tanya Papa Sheila menyindir.


"Saya sih mau secepatnya Om" jawab Kevin segera.


Tergantung anak Om. Kalau dia mau saat ini gue jabat tuh tangan Om trus ucap ijab kabul. Biar malam ini gue langsung malam pertama Om, nyoblos anak Om. Hahaha... tawa Kevin dalam hati.


"Gimana dengan tawaran kami dan Papa Kamu?" Papa Sheila mulai pertanyaan serius.


"Kalau saya pada dasarnya setuju Om. Semua tergantung Sheila" jawab Kevin jujur.


Kevin seperti sedang berlari ditaman bunga. Senang sekali mendengarnya.


"Jangan dipaksa Om. Biar Sheila memutuskannya sendiri atas kemauannya sendiri Om. Saya tidak mau memaksa Sheila. Tidak baik jika memaksa Sheila. Saya tidak mau dia menerima saya dengan keterpaksaan" jawab Kevin sok tenang padahal aslinya dia udah mau lompat-lompat sodaraaaaaa.


Sheila yang mendengar pembicaraan Papanya dan Kevin melirik dengan tatapan mengancam.


Duh sang pujaan hati jangan gitu donk natapnya. Gue halalin lo malam ini baru tau rasa. Ucap Kevin dalam hati.


Kevin membalas senyuman Sheila dengan tersenyum.


"Kamu dengar itu Sheil. Kevin ini sangat sabar lho menunggu kamu. Jangan lama-lama lagi kasi keputusan. Entar keburu Kevinnya lari. Diluar sana banyak lho cewek-cewek yang ngejar dia" ucap Papa Sheila.


Cih Papa gak tau emang banyak Pa, perempuan simpanan dia. Umpat Sheila dalam hati.


Kevin merasa senang sekali mendapat dukungan dari calon mertua. Dadanya seperti meletup-meletup mau tumpah, seperti air mendidih. Sangkin suenangnya.


"Sheila mau berteman dulu Pa, sekalian saling mengenal" jawab Sheila.


"Iya tapi jangan kelamaan. Usia Kevin udah berapa coba. Nungguin kamu kelamaan, si Kevin keburu ketuaan" Papa Sheila mengedipkan matanya kearah Kevin.


Duh calon mertua aku emang Te Oo Pe banget deh. Kevin membalas kedipan Papa Sheila dengan senyuman.


"Umur saya sebentar lagi genap tiga puluh tahun Om. Sudah biasa kog zaman sekarang, usia segitu cowok belum menikah. Teman-teman saya banyak yang belum menikah diusia itu Om" Kevin pura-pura bersabar, wuaslinya ngebet banget Om.

__ADS_1


Si Jin malah lebih parah Om sampai sekarang calon istri aja belum punya. Tawa Kevin dalam hati mengingat August.


Hasyiiiiiiim... August mendadak bersin di dalam mobil menuju apartemennya.


Kog aku tiba-tiba merinding ya, seperti ada yang nyeritain aku nih. Gumam August dalam hati.


"Usia segitu udah matang Vin untuk menikah. Om dulu diusia segitu udah ada Sheila. Udah lari-lari juga Sheila waktu itu" jawab Papa Sheila.


"Ah Om bisa aja" balas Kevin pada Papa Sheila.


"Papa ini ih, Sheila kan bilang mau saling kenal dulu. Penjajakan Pa, kalau cocok baru lanjut" tolak Sheila.


"Kamu ini terlalu banyak mikirnya. Gak usah pakai syarat ini syarat itu langsung aja. Kalau sudah nikah nanti cinta datang sendiri kog. Mama kamu juga dulu seperti itu sama Papa. Malu-malu akhirnya mau-mau" jawab Papa Sheila.


"Bicara apa nih Pa, nyebut-nyebut nama Mama, mau-mau lagi. Apan sih?" tanya Mama Sheila yang baru datang diruang tamu.


"Eh Tante, apa kabar" Kevin langsung berdiri dan menjabat tangan Mama Sheila dengan hormat.


"Lho Sheila pulang bareng Kevin rupanya" sapa Mama Sheila.


"Iya tante tadi kami baru makan malam bareng dirumah Jasmine" jawav Kevin.


"Kenal juga ya sama Jasmine temannya Sheila?" Mama Sheila kembali bertanya.


"Kenal banget Tante, suami Jasmine itu sepupu saya" Jawab Kevin.


"Eh iya Tante lupa suami Jasmine juga pakai nama Barrakh ya" balas Mama Sheila.


"Nih Ma, Papa lagi bicara sama Sheila. Papa bilang jangan lama lagi mikirnya. Terima aja rencana baik Papa dengan Papanya Kevin. Ya kan Ma? Toh mereka juga sudah saling kenal begini" ucap si Papa.


"Iya Sheil. Mama setuju banget sama Papa kamu" ucap Mama Sheila mendukung.


Yes kedua calmer aku emang gue banget. Sorak Kevin dalam hati.


"Mama sama aja sama Papa. Sheila pamit dulu ya. Mau ke kamar udah malam. Seharian belum istirahat" ucap Sheila segera berlalu.


"Lho Sheil masak si Kevin ditinggal sendiri" panggil Mama Sheila.


"Gak apa-apa Tante. Sheila mungkin sudah lelah. Biarin aja dia istirahat. Saya juga mau pamit pulang, udah malam. Permisi ya Om, Tante" ucap Kevin sambil berdiri dan pamitan kepada calmernya.


"Eh iya Vin. Maaf atas perlakuan Sheila. Anak itu emang susah sekali berhubungan dengan pria. Kami harap kamu mengerti dan mau bersabar ya" pinta Papa Sheila.


"Iya Om. Saya mengerti" balas Kevin.


Aku sebenarnya udah gak sabar banget Om menjadi menantu Om tapi mau gimana lagi anak gadis Om jual mahal. Gak apa deh Om aku suka sama anak gadis Om yang jual mahal itu. Gumam Kevin dalam hati.


Kevin menjabat tangan Papa dan Mama Sheila kemudian pergi meninggalkan rumah Sheila.


Malam ini hatinya senang banget mendengar dan mendapatkan dukungan dari calon mertuanya.


Lihat saja Om, Tante. Sebentar lagi anak kalian akan bucin padaku. Kevin tersenyum sendiri sambil menyetir mobilnya.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2