
Kevin dan August segera melerai Omar yang sedang mabuk berat sampai memukul pria yang tidak dikenal dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
"Maaf temanku mabuk" ucap August.
"Sialan. Jangan sampai aku melihatnya lagi. kalau tidak akan kuhabisi dia" umpat pria itu kesal.
Jam satu malam August membawa Omar masuk kedalam mobilnya dan mengantarkannya pulang. Sedangkan Kevin seperti biasa masih bermain-main dengan para wanita.
August mengantarkan Omar ke apartemen. Karena sudah larut malam August tak tega menekan bel, dia takut membangunkan Jasmine yang sudah tidur.
August menekan kode sandi apartemen Omar dan membawa Omar masuk ke kamar tamu. August dan Kevin tau sejak Jasmine hamil, Omar dan Jasmine tidak pisah kamar lagi. Mereka tidur sekamar di kamar Omar.
Omar berjalan sambil dituntun dan dibaringkan diatas ranjang, saat August hendak pergi meninggalkan Omar tiba-tiba Omar menahan dan memeluknya.
"Jangan tinggalkan aku, aku sangat kesepian. Jangan tinggalkan aku sendiri. Wanita itu jahat. Aku benci wanita. Lebih baik aku memilih kamu" racau Omar.
"Mar sadar Mar kamu mabok" jawab August pelan.
"Aku benci wanita. Apalagi istri si Aladin itu. Temani aku tidur Gus, aku butuh kehangatan malam ini" ucap Omar tak sadar sambil memeluk mesra August.
Jasmine yang dari tadi tidak bisa tidur menunggu kepulangan Omar mendengar pintu apartemen dibuka. Dia mengintip dari balik pintu kamar, ternyata Omar pulang diantar August. August memeluknya dan membawa Omar masuk ke kamar tamu. Jasmine mengendap-endap berjalan mendekati pintu kamar tamu.
Dia melihat dan mendengar perkataan Omar. Awalnya dia terkejut tapi mungkin karena mabuk Omar bisa berbakata seperti itu. Syukurlah dia sudah pulang yang penting dia kembali dengan selamat.
Besok kalau Omar sudah sadar dia akan membicarakannya dengan Omar dan meminta maaf atas kelancangannya sudah membawa Zahra ke apartemen Omar sementara hubungan Omar dengan mertuanya itu masih dalam keadaan salah faham.
Jasmine kembali ke kamar dan sangat merasa lega, baru Jasmine bisa menutup matanya dan beristirahat.
Menjelang subuh Jasmine terbangun. Dia membersihkan tubuhnya dan melaksanakan shalat subuh.
Setelah selesai shalat subuh Jasmine bergegas ke dapur memanaskan semua masakan yang dia masak kemarin sore bersama mertua dan adik iparnya.
Jam tujuh pagi Jasmine sudah selesai menyiapkan sarapan pagi diatas meja. Dia bergegas menuju kamar tamu.
Alangkah terkejutnya Jasmine saat membuka pintu kamar tamu. Dia melihat Omar dan August tidur dibawah selimut yang menutupi tubuh mereka.
Omar dan August tidur tanpa menggunakan baju. Tanpa sadar Jasmine berteriak.
"Omaaaaar" teriak Jasmine.
Sontak Omar dan August terbangun karena terkejut mendengar suara teriakan Jasmine.
__ADS_1
"Tega sekali kalian melakukan hubungan ini di sini? Aku kira yang aku dengar tadi malam hanya ocehan kamu saat mabuk ternyata apa yang aku lihat pagi ini sudah menjelaskan semuanya. Ternyata apa yang aku dengar selama ini benar, kamu memang penyuka sesama, kamu gay. Pantasan selama empat bulan pernikahan kita kamu hanya sekali menyentuhku itupun karena obat perangsang yang diberikan Kevin dalam minuman kita. Kamu jahat Mas, menjebakku dalam pernikahan ini hanya untuk mendapatkan penerus keturunan kamu dan menutupi aibmu yang kotor ini pada semua orang" Tangis Jasmine pecah melihat suaminya tidur berpelukan dengan seorang pria tanpa busana. Dia tidak menyangka ternyata suaminya adalah seorang gay.
"Kamu marah karena aku tidak terbuka dan merahasiakan keberadaan Mama kamu tapi kamu lebih jahat padaku. Kamu membohongiku selama empat bulan ini. Teganya kalian menjebak dan menghancurkan hidupku hiks..hiks.." Jasmine menangis tersedu sambil memegang perutnya.
Tiba-tiba saja perutnya sakit sekali, darah segar keluar dari selangkangannya dan menetes dikaki sampai kelantai. Jasmine menatap darah yang menetes dilantai.
Dia tidak kuat lagi menahan rasa sakit dan akhirnya jatuh pingsan dilantai.
"Jasmine...." teriak Omar.
Omar dan August melompat dari atas tempat tidur dan segera meraih Jasmine yang tergeletak di lantai.
"Jasmine... Mine... My Mine bangun... kamu salah sangka" teriak Omar sambil menggoyang-goyangkan tubuh Jasmine berusaha untuk menyadarkan Jasmine.
"Bos kita harus segera membawa Jasmine ke rumah sakit. Dia pendarahan Bos" usul August.
"Iya Gus kita harus segera membawanya" jawab Omar.
"Kamu pakai dulu baju kamu Bos" perintah August. August juga tak lupa memakai bajunya yang masih ada di lemari kamar tamu. Baju yang dipakainya tadi malam sudah bau dan kotor terkena muntah Omar yang sedang mabuk berat.
Omar berlari ke kamarnya dan mengambil bajunya lalu memakainya. Setelah itu dia kembali ke kamar tamu. Omar menggendong tubuh Jasmine dan berlari keluar apartemen disusul August dibelakangnya.
Mereka segera membawa Jasmine menuju rumah sakit terdekat.
"Kamu mabuk Bos, tadi malam kamu memaksaku untuk menemani kamu tidur, kamu memelukku erat dan meracau tidak ingin di tinggalkan. Aku rasa Jasmine mendengar dan melihat kejadian tadi malam. Kemudian kamu muntah mengotori bajumu dan bajuku. Aku membuka bajumu dan karena aku juga sangat lelah akhirnya aku tidur disampingmu tanpa memakai baju juga. Dan seperti yang kamu lihat tadi pagi, Jasmine memergoki kita tidur saling berpelukan tanpa busana. Wajar saja dia berfikiran seperti itu apalagi seperti yang aku dengar selama menikah kamu hanya menyentuhnya sekali dimalam pengantin kalian. Kamu tega sekali padanya Bos" ucap August tanpa sadar.
"Diam kamu" Omar menatap wajah pucat Jasmine yang ada didalam pangkuannya.
"Bangun Mine.. Ya ampun Mine, kamu salah sangka. Aku tidak melakukan apapun, seperti yang kamu fikirkan. Maafkan aku telah membuat kamu seperti ini" ucap Omar.
August menyaksikan kejadian itu dari kaca spion mobil yang ada didalam mobil. Omar terlihat sedih dan putus asa melihat istrinya tak sadarkan diri. Saat itu August yakin Omar sudah jatuh cinta pada istrinya. August tidak pernah melihat wajah putus asa dan takut kehilangan diwajah Omar seperti ini.
August meraih hp yang ada disaku celananya.
"Halo Bro.. Kamu sudah bangun?" ucapnya.
"Halo.. ngapain kamu menelpon pagi-pagi seperti ini, mengganggu saja" umpat Kevin dari seberang.
"Aku dan Omar sedang dalam perjalanan menuju RS XX. Jasmine mengalami pendarahan dan saat ini tak sadarkan diri" ucap August.
"Oke, aku langsung menuju kesana" jawab Kevin singkat.
__ADS_1
August melajukan kecepatan mobilnya menuju RS. Tiga puluh menit saja mereka sudah sampai di depan ruang UGD Rumah Sakit.
Jasmine diangkat dan dipindahkan keatas tempat tidur Rumah Sakit dan dilakukan pertolongan pertama padanya.
Omar dan August menunggu diruang tunggu. Tak lama Kevin muncul bersama mereka.
"Bagaimana keadaan Jasmine?" tanyq Kevin.
"Masih diperiksa" jawab August.
Sementara Omar hanya diam membisu dengan wajah yang sulit diartikan. Baru kali ini setelah berlalu lima belas tahun Omar merasakan sangat takut kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Setelah kematian Papanya baru kali ini Omar merasa takut kehilangan seseorang lagi. Omar saat ini yakin hatinya telah jatuh kepada Jasmine.
Dia tidak bisa kehilangan lagi, cukup sudah Papanya yang pergi meninggalkannya, dia tidak mau kalau Jasmine juga pergi seperti Papanya meninggalkannya sendiri dengan rasa bersalah.
"Keluarganya Bu Jasmine" panggil perawat.
"Ya saya" jawab Omar cepat. Omar mendekat kearah perawat.
"Saya suaminya sus" ucap Omar.
"Silahkan Pak temui dokter yang menangani istri Bapak" jawab perawat itu.
Omar berjalan menyusul perawat itu masuk keruangan dokter. Diikuti oleh Kevin dan August.
"Anda suaminya Bu Jasmine?" tanya Dokter tersebut.
"Ya, saya suaminya" jawab Omar singkat.
"Maaf Pak... Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi...."
.
.
BERSAMBUNG
Hai teman-teman masih setia kan baca ceritanya..
Jangan berhenti ditengah jalan ya. Aku akan usahakan secepat mungkin upnya biar kalian semangat bacanya.
__ADS_1
Tapi agar aku semangat upnya bantu donk dengan like dan comment kalian.
Terimakasih... 😍😍