
Pagi-pagi Jasmine merasakan gejolak itu lagi. Setelah bangun pagi dia merasa pusing dan muntah kembali.
"Sayang sepertinya sakit kamu semakin parah. Lebih baik kita ke dokter" ucap Omar khawatir.
"Nggak Mas. Aku istirahat aja hari ini di apartemen. Kalau gitu Mama gak usah balik ya yank, biar dia jagain kamu disini" pinta Omar.
"Iya nanti aku bilang sama Sheila kalau Mama gak ke Toko Kue" jawab Jasmine.
Omar bersiap, hendak ke kantor setelah dia selesai berpakaian Omar keluar kamar.
"Jasmine mana Mar? Masih sakit?" tanya Zahra.
"Iya Ma, pagi-pagi udah muntah-muntah terus" jawab Omar.
"Mama udah masakin bubur. Lihat dia muntah tadi malam Mama gak tega. Pasti sakit banget dan lemas. Dulu Mama pernah ngerasain waktu Mama hamil kalian" ucap Zahra.
Sontak Omar dan Oryza saling pandang.
"Ada apa? kenapa kalian saling pandang?" Tanya Zahra penasaran.
"Kak, dulu waktu hamil pertama Mbak Jasmine juga seperti ini kan?" tanya Oryza.
"Iya, kog aku bisa lupa ya" jawab Omar.
"Masih ada test pack yang dulu Kakak beli?" Oryza balik bertanya.
"Sepertinya masih ada Kakak simpan" Omar berdiri dan berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Mama dan adiknya.
"Yank" panggil Omar sambil menggenggam alat tes kehamilan yang dia beli sekitar lima atau enam bulan yang lalu.
"Ya Mas" jawab Jasmine lemah.
"Kamu sanggup bangun sebentar. Sini biar aku bantu" ucap Omar sambil memegang tubuh istrinya.
"Ada apa Mas. Kepalaku pusing banget" Jasmine memegang kepalanya.
"Kamu ingat waktu hamil dulu. Kamu juga seperti ini. Apa mungkin saat ini juga sama?" ujar Omar.
Jasmine membuka matanya karena terkejut kemudian dia mulain mengingat kapan terakhir datang bulan. Benar saja dia sudah telat dua minggu.
"Ya ampun Mas, aku udah telat dua minggu" jawab Jasmine.
"Wah bisa sama kamu memang hamil sayang" ucap Zahra bahagia.
"Coba Mbak test pakai test pack" suruh Oryza.
"Iya yank, nih dicoba. Aku masih menyimpan sisa dulu yang gak kepakai" sambut Omar.
Jasmin bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi berpegangan pada tubuh Omar.
Sesampainya dikamar mandi Jasmine mencoba alat tes kehamilan tersebut.
Omar, Zahra dan Oryza menunggu diluar dengan hati yang penasaran.
__ADS_1
Tak lama Jasmine keluar dengan membawa hasil.
"Gimana Yank?" tanya Omar tak sabar.
"Nih Mas" Jasmine memberikan alat tes kehamilan pada Omar
Omar melihat hasilnya garis dua berwarna merah.
"Yes Mbak Jasmine hamil" teriak Oryza.
"Alhamdulillah" ucap Zahra.
Omar langsung memeluk Jasmine dan mengecup kepala istrinya.
"Terimakasih sayang kamu sudah memberikan aku hadiah yang sangat indah. Rasanya akhir-akhir ini aku menjadi orang yang sangat beruntung. Mendapatkan istri seperti kamu, kembali berkumpul bersama Mama dan terakhir kejadiran calom bayi kita" ucap Omar.
"Alhamdulillah ya Allah" Omar mengucapkan syukur dan memeluk tubuh Jasmine.
"Selamat ya sayang, kali ini mari kita jaga sama-sama ya cucu Mama yang ada diperut kamu" ujar Zahra sambil mengelus perut Jasmine dengan lembut.
"Mama jangan pulang ya. Temani Jasmine disini dulu. Biasanya kalau awal kehamilannya Jasmine mabuk berat Ma. Muntah-muntah sampai dia lemas" Pinta Omar pada Mamanya.
"Segera bawa Jasmine kedokter Mar, biasanya dokter akan kasi obat mual dan vitamin pengganti nutrisi yang hilang" Zahra menjelaskan.
"Iya Ma, nanti sore aku akan bawa Jasmine ke dokter. Tapi pagi ini aku harus ke kantor. Ada pertemuan penting pagi ini. Mama tolong jaga Jasmine dulu ya" pinta Omar.
"Iya sayang Mama akan tetap disini jaga istri kamu. Sekarang kita makan dulu ya biar Jasmine ada tenaga" ucap Zahra.
Mereka kembali ke dapur untuk sarapan pagi bersama.
Omar pamit pergi ke kantor begitu juga Oryza berangkat ke kampus. Tinggal Jasmine di temani Zahra berdua di aparteme.
"Kamu istirahat dikamar saja sayang, biar Mama yang beresin dapur" suruh Zahra.
"Terimakasih Ma" ucap Jasmine.
******
Siang itu di Perusahaan Barrakh Corp.
"Vin kapan kamu akan menikah. Papa sudah tua Vin, Papa takut tidak sempat melihat kamu menikah" ucap Reynhard kepada putranya.
"Papa bicara seperti itu seperti memberi pesan-pesan terakhir saja" jawab Kevin pada Papanya.
"Umur tidak ada yang tahu Vin. Kapan saja Papa bisa segera pergi" balas Reynhard.
"Papa masih muda, masih kuat dan sehat. Aku yakin Papa akan berumur panjang" sambung Kevin.
"Papa ingin segera menimang cucu Vin. Sudah habis waktu untuk kamu bermain-main" desak Papanya.
"Kevin sudah gak main-main lagi Pa. Aku sudah ikuti semua keinginan Papa untuk menjodohkan aku dengan anaknya Om Wardhana. Sudah aku ikuti semua keinginan Papa. Anaknya Om Wardhana aja yang belum mau" elak Kevin.
"Ya kamu yakinkan dia. Percuma selama ini kamu dikelilingi banyak wanita, masak naklukkan anak si wardhana aja kamu gak bisa" ejek Reynhard pada putranya.
__ADS_1
"Masalahnya anaknya itu beda Pa, gak seperti cewek-cewek yang aku temui. Kalau cewek-cewek itu aku cukup ngedipkan mata, mereka udah ngekor dibelakangku. Nah anak Om Wardhana ini, jangankan ngedipkan mata, mataku melotot aja dia malah balas melotot. Pusing kan" ungkap Kevin kesal.
"Rasain kamu kena karma" Umpat Rey.
"Tapi papa tenang aja sebentar lagi aku akan berhasil menaklukkannya. Percuma donk selama bertahun-tahun aku latiha pada banyak wanita. Sheila akan menjadi istriku. Lihat saja Pa" tegas Kevin.
"Akan Papa lihat selihai apa kamu bisa menarik hati Sheila" balas Reynhard.
Tiba-tiba Omar masuk kedalam ruangan Kevin.
"Eh ada Om Rey rupanya" sapa Omar.
"Pa kabar Mar? Sudah lama gak ketemu kamu? Gimana kabar Jasmine?" tanya Reynhard.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja Om" jawab Omar.
"Oryza kemarin izin sama Tante kamu. Dia mau nginap di apartemen kamu. Katanya Jasmine sakit?" tanya Reynhard lagi.
"Ha... eh iya Om. Tadi malam dia mual-mual dan muntah" jawab Omar sedikit canggung, teringat tadi malam Mama dan Oryza tidur di apartemennya. Semoga Om Rey gak curiga.
"Hamil mungkin Din" potong Kevin.
"Masuk angin kali Bu, malam sebelumnya dia emang kurang tidur" jawab Omar. Dia belum mau mengabarkan kehamilan Jasmine sebelum periksa ke dokter dan memastikan kondisi istri dan calon anaknya baik-baik saja.
"Habis tiap malam kamu ajak wig..wig.. ya kurang tidurlah" balas Kevin.
"Hust.. kalian ngobrol begituan gak lihat tempat. Ada orang tua disini" Reynhard mengingatkan.
"Sorry Pa keceplosan" jawab Kevin.
"Ketepatan sekali ada Om Rey. Aku memang udah rencana mau ketemu sama Om. Bisa kita ngobrol sebentar Om. Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Omar.
"Boleh. Kamu mau menanyakan tentang apa Mar?" tanya Reynhard penasaran.
"Sesuatu yang sedikit serius Om. Bisa kita berbicara diruanganku saja Om?" pinta Omar.
"Serius amir Din sampai aku gak boleh dengar" potong Kevin.
"Ini urusan pria yang sudah dewasa" elak Omar.
"Aku juga udah dewasa. Kurang dewasa apa coba?" ucap Kevin tidak terima.
"Tapi belum nikah weeek" ledek Omar.
"Kalian ini dari tadi gak ada seriusnya, bercanda saja. Ya udah Mar, yuk kita keruangan kamu. Anak satu ini gak usah diajak, belum dewasa" tegas Reynhard.
"Rasain lo" ejek Omar.
"Papaaaaa....." teriak Kevin.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG