
"Mas Omar ingin bertemu dengan Mama" ucap Jasmine.
Airmata Zahra semakin deras mengalir.
"Benarkah itu sayang?" tanya Zahra penuh harapan.
"Benar Ma, dia ingin berdamai dengan masa lalu. Dia bersedia menyelidiki ulang kematian Papa dan dia ingin bertemu Mama" jawab Jasmine meyakinkan mertuanya.
"Terimakasih Jasmine... Terimakasih kamu sudah membuat Omar bisa menerima Mama" Zahra memeluk erat tubuh menantunya.
"Mama yang sabar ya, sebentar lagi semua akan selesai. Yakinlah sepintar apapun menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya. Begitu juga dengan sebuah kebohongan dan kejahatan sepintar apapun dia menyembunyikan pasti kelak akan terbongkar juga. Aku yakin dia akan mendapatkan balasan yang setimpal atas kejahatannya" ucap Jasmine sambil membalas pelukan mertuanya.
"Untuk tahap awal aku tidak bisa berharap banyak pada Mas Omar Ma, cukup dia mau bertemu dengan Mama dulu, bisa pelan-pelan menerima kehadiran Mama kembali setelah dia mulai terbiasa baru Mama ceritakan pelan-pelan apa sebenarnya yang telah terjadi. Maaf Ma, aku tidak bisa terlalu memaksa Mas Omar untuk menerima semua kenyataannya dengan begitu cepat. Dia tidak bisa secepat itu menerima dan mempercayai sebuah keyakinan yang sudah tertanam didalam hatinya selama lima belas tahun ini" ungkap Jasmine.
"Mama mengerti sayang. Mama sangat bersyukur dan senang sekali dia sudah mau bertemu dengan Mama" balas Zahra.
"Pelan-pelan nanti akan aku atur pertemuan Mama dengannya ya. Mama masih bersabar kan?" tanya Jasmine.
Zahra menganggukkan wajahnya.
"Mama akan bersabar sayang, menunggu lima belas tahun saja Mama sanggup apalagi menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan Omar yang tidak akan lama lagi" jawab Zahra.
"Nah sekarang Mama jangan bersedih lagi ya. Mulai hari ini aku akan mengatakan pada Sheila dan seluruh karyawan disini kalau Mama adalah Mama mertuaku" tegas Jasmine.
"Apa gak terlalu cepat Jasmine?" tanya Zahra.
"Nggak Ma, kita tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Mas Omar kan sudah mulai bisa menerima Mama. Semua sudah lebih baik sekarang" jawab Jasmine.
"Sekali lagi terimakasih sayang. Mama sangat senang mempunyai menantu seperti kamu dan Mama sangat bahagia Omar memiliki kamu. Kamu wanita dan istri yang baik" balas Zahra.
Jasmine tersenyum memeluk mertuanya.
Setelah selesai bercerita Zahra kembali kebawah untuk mulai bekerja membuat aneka roti dan cake.
Tok...tok..
__ADS_1
"Boleh aku masuk Mine" ucap Sheila sambil membuka pintu.
"Hei, masuk Sheil" jawab Jasmine.
"Ada apa nih Ibu direktur manggil aku?" tanya Sheila.
"Biasa aja Sheil. Apa coba manggil begituan" Jasmine merendah, enggan dipanggil Sheila dengan sebutan Ibu Direktur.
"Yang aku bilang kan benar Mine, kamu itu istri seorang CEO dan kamu juga pemilik Toko Kue Jasmine" sambut Sheila sambil tertawa.
"Gak mau ah dipanggil seperti itu rasanya seperti aku ini sombong banget. Ibu Direktur... iiih gak deh" Jasmine merasa geli mendengarnya.
"Kamu itu aneh kebanyakan wanita mencari yang seperti itu Mine" ucap Sheila.
"Ya kalau begitu sebentar lagi juga kamu akan menjadi Ibu Wakil Direktur" goda Jasmine.
"Apaan sih Mine?" tany Sheila kesal
"Iya sebentar lagi kan babang Kevin mau lamar kamu" goda Jasmine.
"Amit-amit deh" elak Sheila.
"Mi....ne... becandanya kebangetan" jawab Sheila kesal.
"Menurut Mas Omar kali ini Kevin serius lho Sheil. Kata Mas Omar Kevin pernah bilang kalau tiba saatnya dia akan serius dengan wanita dan dia tidak akan main-main dalam mencari istri dan calon ibu untuk anak-anaknya. Kamu ikutin saja permainannya. Aku yakin kamu pasti bisa melihat keseriusannya. Setau aku Kevin itu emang jahil suka usil tapi kalau sudah berniat ingin mendapatkan sesuatu dia akan berubah menjadi serius. Ya bukan dia aja sih yang seperti itu, Omar dan August juga sama. Makanya kau menyebur mereka Trio Ambisi" ungkap Jasmine.
"Sebenarnya aku juga sedang galau Mine. Selama dekat dan beberapa kali jalan sama dia, sekalipun dia gak pernah pegang-pegang dan menyentuhku. Sepertinya dia sangat menjaga itu. Hanya omongannya saja yang nakal suka gombal dan ngerayu" ungkap Sheila.
"Itu emang Kevin banget Sheil, jago banget dia gombal dan ngerayu. Mas Omar suka belajar sama dia haha" ucap Jasmine sambil tertawa.
"Itu yang membuat aku takut. Hanya manis di mulut Mine. Nanti kalau aku sudah jatuh cinta padanya dia malah mencampakkan aku. Dia kan punya banyak wanita disekelilingnya. Kemarin aja waktu belanja bahan toko bareng dia beberapa kali kami disapa sama cewek-cewek manja dan sexy. Tipe dia banget deh" balas Sheila.
"Trus gimana sikapnya ketika bertemu wanita-wanita itu?" tanya Jasmine.
"Emang sih semuanya dia usir tapi aku risih dengan tatapan mereka. Sepertinya aku yang aneh dan salah, mereka yang benar. Ngelihatnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. ih serem aku" Sheila bergidik.
__ADS_1
"Tuh Kevin usir mereka kan trus dia bilang apa?" tanya Jasmine semakin penasaran.
"Dia mengenalkan aku sebagai calon istrinya" ungkap Sheila.
"Naaaah itu dia, suka banget gaya babang Kevin. Artinya dia serius Sheil kalau dia serius gak mungkin dia dengan lantangnya berkata seperti itu" balas Jasmine.
Sheila terdiam mendengar penjelasan Jasmine.
"Mulailah membuka hati jangan terlalu membencinya nanti kamu sendiri yang terluka. Lihat sebesar apa keseriusan dan cintanya" ucap Jasmine.
"Tapi aku gak ada rasa sama dia Mine" elak Sheila.
"Belum bukan nggak. Kamu belum ada rasa tapi nanti aku yakin pasti kamu menyukainya. Wanita itu lebih aman kalau dia yang dicintai Sheil. Kamu akan dijadikan ratu olehnya dari pada wanita yang duluan cinta cowoknya kagak. Capek banget ngejarnya. Cinta itu akan datang dengan sendirinya. Dan wanita diberi perhatian lembut dan kasih sayang pasti klepek...klepek..." nasehat Jasmine.
Sheila terdiam mendengar nasehat sahabatnya itu.
"Beri dia kesempatan dan pelan-pelan selami hatinya tanya hati kamu apakah perasaan itu sudah tumbuh. Jangan kamu tutupi dengan kebencian dan rasa takut. Aku yakin kamu juga akan mendapatkan kebahagian seperti aku" Jasmine memeluk lembut sahabatnya.
"Makasih Mine. Aku akan memikirkannya. Si Papa juga dirumah udah sibuk banget pengen cepat-cepat nikahkan kami. Aku capek nolaknya" ungkap Sheila.
"Papa kamu itu khawatir, usia anaknya udah banyak tapi belum ada tanda-tanda ingin menikah. Wajar donk kalau mereka sedikit mendesak. Mereka ingin segera menimang cucu" nasehat Jasmine.
Sheila terdiam lagi.
"Nanti sore ke apartemen aku yuk, temani aku berbelanja kebutuhan rumah dan masak makan malam. Rencananya malam ini aku mau mengundang sahabatku dan para sahabat suamiku untuk makan dirumah" pinta Jasmine.
"Maksud kamu aku dan..." ucap Sheila terputus.
"Ya kamu, Kevin dan August. Mau ya?" desak Jasmine.
Sheila berfikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.
"Oke.. jam lima kita keluar ya" ajak Jasmine.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG