
Kevin melihat August berjalan dengan sangat tergesa-gesa dengan wajah yang sedang marah. Wajah August sangat merah dan menakutkan. Kevin merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Dia segera menghampiri August.
"Ada apa Bro? Kenapa wajah kamu seperti ingin membunuh seseorang?" tanya Kevin penasaran.
"Cindy menyuruh seorang pelayan memberikan minuman yang sudah dia campurkan sesuatu di dalamnya. Tapi sayangnya minuman itu Oryza yang minum. Saat ini Oryza sedang dalam keadaan tidak baik. Monster itu merencanakan sesuatu pada Omar. Aku harus menghentikannya Vin" ucap August menahan emosi.
"Sekarang mana Oryza?" tanya Kevin.
"Tuh dia disana" tunjuk August kearah tempat Oryza sedang menyejukkan diri.
"Sekarang kamu bantu Oryza biar Omar aku yang jaga. Aku akan tangani Cindy dengan baik" ucap Kevin.
"Baik Bos. Aku serahkan tugas itu pada kamu. Aku akan menjaga Oryza.
August kini berbalik arah dan berjalan menuju ketempat Oryza menenangkan dirinya.
"Kaaak aku udah gak tahan ni. Panas banget, tubuhku rasanya seperti terbakar" ucap Oryza ketika melihat August datang.
August menelan salivanya. Cobaan apalagi ini Tuhan... Batin August.
"Sepertinya kita harus keluar dari sini Za" ajak August.
August mengajak Oryza keluar dari Ballroom, mereka masuk kedalam lift menuju sebuah ruangan.
Didalam lift Oryza menggigit bibir bawahnya menahan gairah. Mengapa malam ini Kak August terlihat sangat tampan. Aku baru sadar ternyata tubuhnya sangat kekar dan sepertinya dia sangat jantan malam ini. Duh ada apa denganku. Sadar Oza dia itu sahabat kakakmu. Debat batin Oryza.
Tapi Oryza tidak kuat menahan gairahnya.
"Kak.. aku.."
Oryza memeluk August erat. Hanya mereka berdua yang ada didalam lift tersebut.
Oh Tuhan... mengapa lift ini lama sekali sampainya.. Teriak batin August.
"Za sadar Za. Kamu sedang dalam pengaruh obat perangsang" ucap August mengingatkan.
"Kak... Aku..." Oryza menutup matanya dan ingin mencium bibir August.
Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan. August menahan nafasnya.
Ting...
Huh... untung saja pintu lift terbuka. August bernafas lega.
August segera menarik tubuh Oryza masuk ke dalam kamar yang disediakan pihak hotel sebagai service kepada Barrakh Corp karena sudah memakai hotel mereka dalam perayaan hari besar perusahaan itu.
"Kak.. tolong aku, aku sudah gak kuat lagi" Oryza memeluk tubuh August dari belakang.
"Za kamu harus sadar. Ini tidak boleh terjadi" bentak August.
__ADS_1
"Kak..." panggil Oryza yang terlihat makin tersiksa.
August membawa Oryza ke kamar mandi dia mengangkat Oryza masuk ke dalam bathup.
"Kak.. kenapa aku kamu bawa kesini. Aku mau diapain kak?" tanya Oryza bingung.
"Sudah kamu diam saja. Ikutin perintahku" bentak August.
August langsung membuka keran air dan sower. Oryza di rendam di dalam bathup.
Sakit.. sakit deh lu Za dari pada aku di penggal Omar karena mengambil kesempatan ini. Batin August.
Sungguh perjuangan batin yang sangat berat menyaksikan tubuh Oryza seperti ini. Apalagi belakangan ini August tidak bisa lagi menganggap Oryza sebagai adiknya.
Oryza yang sekarang bukan Oryza anak-anak lagi tapi dia sudah berubah menjadi gadis cantik dan sexy. Apalagi dalam keadaan seperti ini. August sangat sulit mengendalikan gairahnya.
****
Di Ballroom hotel.
Kevin tersenyum melihat kearah Cindy.
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar kamu kapok Cindy. Lihat saja, Trio Ambisi mau dilawan.
Kevin menelpon Omar.
"Mar tolong aku terkunci di kamar 321" ucap Kevin.
"Rencana aku mau buat kejutan untuk Sheila tapi sialnya aku terkunci disini. Cepat donk, buruan bantuin aku" ucap Kevin.
Omar beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Jasmine sendiri.
"Yank aku pergi sebentar ya, Kevin membutuhkan bantuanku" ucap Omar.
Omar segera melangkah menuju kamar yang disebutkan Kevin tadi.
Kevin kemudian menghampiri Cindy.
"Cin ada pesan buat kamu. Omar sedang menunggu kamu di kamar 321. Katanya ada yang ingin dia bicarakan berdua dengan kamu. Aku rasa dia ingin berdamai dengan kamu tentang masa lalu" ucap Kevin.
Cindy terlihat terkejut sekaligus senang, ternyata apa yang dia harapkan dan rencanakan berjalan dengan lancar.
Dengan tersenyum Cindy berjalan ke arah lift menuju kamar yang disebutkan Kevin tadi.
Aku biarkan saja mereka sebentar dikamar itu. Setengah jam lagi baru aku jenguk mereka. Kita lihat apa yang akan terjadi. Ucap Kevin sambil tersenyum nakal.
Omar sudah masuk kedalam kamar yang disebut Kevin tadi. Sebelumnya dia meminta kunci kamar di resepsionis. Dengan alasan akan Barrakh Corp akan memakai kamar itu.
__ADS_1
Belum sempat pintu tertutup Cindy sudah muncul di depan pintu.
Cindy masuk dan mengunci kamar dari dalam.
"Hai sayang... lama menungguku?" goda Cindy.
Omar sangat terkejut melihat kehadiran Cindy di kamar ini.
Sial... apa yang sedang kamu rencanakan Vin padaku. Tanyanya dalam hati.
"Apa yang kamu lakuka disini?" tanya Omar.
"Jangan marah begitu sayang. Kamu mau mengajakku untuk menghabiskan malam ini berdua kan?" Cindy mulai mendekat dan menggoda Omar.
Omar mundur beberapa langkah.
"Jangan mendekat Cindy" teriak Omar.
"Ayo donk sayang jangan jual mahal begitu. Aku tau saat ini kamu butuh pelepasan kan?" goda Cindy.
Cindy mengira rencananya yang memberikan obat perangsang dalam minuman yang dia berikan pada pelayan untuk disuguhkan kepada Omar telah berhasil dilaksanakan.
Dengan sangat percaya dirinya Cindy terus melangkah dan mendekati Omar.
"Jangan mendekat Cindy. Dengar aku sudah memberi peringatan" teriak Omar.
"Uuhh.. kamu malu-malu sayang. Aku jadi semakin bergairah" jawab Cindy dengan suara mendesah.
"Dengar Cindy aku sudah memperingatkanmu. Jangan mendekatiku atau aku akan menyakitimu. Jangan salahkan aku" ancam Omar, dia kembali melangkah mundur.
Cindy masih merasa kalau itu adalah permainan Omar. Sama sekali dia tidak merasa takut dengan ancaman Omar.
"Sayang... aku sudah lama sekali menginginkan ini. Aku mencintaimu Omar Barrakh. Sudah lama aku menyimpan perasaan ini" ucap Cindy semakin mendekat.
Posisi Omar sudah tersudut. Dia tidak dapat mundur lagi karena di belakangnya sudah mentok. Dia sudah berdiri di dinding kamar.
Tubuh Omar menegang keringat mengucur deras dari tubuhnya. Dia jadi teringat kejadian saat mereka kuliah dulu. Cindy melakukan hal yang sama seperti ini.
Wajah Omar semakin memucat dan ada sesuatu yang memaksa untuk keluat dari perutnya.
Cindy melangkah semakin mendekat, mengunci Omar yang terdiam karena langkahnya sudah mati. Cindy tersenyum puas merasa dia telah memenangkan pertarungan ini.
Lihat sayang, mimpiku akan menjadi kenyataan. Malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya. Aku akan menunjukkan kepadamu begitu indah dan bergairahnya setiap sentuhan yang aku berikan padamu. Sehingga kita tidak akan pernah melupakan malam yang sangat bersejarah ini. Gumam Cindy dalam hati.
Kini sudah tak ada lagi jarak diantara mereka berdua. Cindy mengangkata tangannya ingin membelai wajah Omar dan menggodanya tiba-tiba.
Uek... ueeeek....
"Omaaaaaar"
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG