
Omar dan Jasmine sampai di depan rumah kontrakan Zahra. Mereka melihat mobil Oryza dan Reynhard ada di depan mobil mereka.
"Yank ada mobil Om Rey di depan" ucap Omar.
"Aduh Mas gawat nih. Jangan sampai Om Rey ketemu sama Mama" sambut Jasmine.
"Ayok yank cepatan kita turun" ajak Omar.
Omar dan Jasmine segera turun dari mobil kemudian sedikit berlari menuju rumah kontrakan Zahra.
Mereka mendengar suara teriakan dan tangisan dari Zahra. Mereka semakin mendekat. Di hadapan mereka, Omar melihat Zahra sedang memukul dada Reynhard.
"Kamu jahat Rey... Kamu sudah membunuh Mas Rich. Kamu pembunuuuuuh" teriak Zahra.
Reynhard terdiam dan tak dapat berkata-kata lagi.
"Maaf kan aku Fath... Maafkan aku..." jawab Reynhard mulai terisak.
Omar juga melihat Oryza sedang memegang kepalanya, dia seperti kesakitan.
"Oryza..." panggil Omar.
"Papa..." Teriak Oryza.
Kemudian Oryza melihat Omar dia segera berlari kepelukan Omar.
"Kakak... Papa...." Oryza pingsan dalam pelukan Omar.
"Oryza..." panggil Omar sambil menggendong tubuh adiknya masuk ke teras rumah kontrakan Zahra.
"Mine kamu jaga Oryza" perintah Omar pada istrinya.
Zahra dan Reynhard terkejut dengan kedatangan Omar, Jasmine dan Oryza.
"Ada apa ini Om. Bisa Om jelaskan padaku apa yang barusan aku dengar?" tanya Omar dengan emosi.
"Ma...ma.. maafkan Om Mar" ucap Reynhard sambil duduk berlutut di depan Zahra dan Omar.
"Jadi selama ini yang Om ceritakan padaku tentang kematian Papa semua salah?" bentak Omar.
Zahra terus menangis menatap anaknya.
"Oo..om bersalah Mar. Maaf kan Om" Hanya itu yang bisa diucapkan Reynhard. Dia tidak tau harus memulai dari mana untuk menceritakannya.
"Tega Om.. Tega sekali Om memfitnah Mama. Menuduh Mama yang melakukannya padahal Om sendiri yang membunuh Papa?" Omar semakin marah.
__ADS_1
"Itu tidak sengaja Mar. Itu kecelakaan. Om tidak berniat membunuh Papa kamu" Reynhard membela diri.
"Om jahat. Om sudah berhasil membuat aku mempercayai semua yang Om katakan padaku tentang kematian Papa. Om berhasil membuatku membenci Mama selama lima belas tahun. Om sudah memisahkan kami Om. Om sudah membuat kami menjadi yatim. Apa lagi Om? apa yang ingin Om katakan untuk membela diri?" teriak Omar emosi sambil memegang kerah baju Reynhard.
"Om... om menipu kami. Menipu aku dan Oryza. Om beri kami kasih sayang, Om sekolahkan kami dan lindungi kami. Untuk apa Om, untuk apa?" teriak Omar.
"Maaf kan Om" Reynhard memegang dada kirinya. Rasanya begitu sakit tetapi dia menahannya sekuat tenaga.
"Pantas saja tidak ada seorangpun yang melihat pria asing masuk ke rumah kami. Hanya Om yang datang siang itu. Om yang sudah melakukan semuanya. Om yang.... Aaaakh.. Sial.. Bangs**...." umpat Omar sambil menangis.
"Tega sekali Om berbuat itu pada kami Om. Kami menyayangi Om. Selama ini Om adalah pengganti Papa bagi kami. Om...huhuhu" Omar menangis terduduk dihadapan Reynhard.
Kini mereka sama-sama berlutut dan menangis.
"Aku sudah mempercayai Om selama lima belas tahun ini. Hatiku hancur saat itu Om tapi Om yang menyembuhkanku. Om bawa aku ke beberapa psikiater. Ternyata... Om yang menyebabkan luka itu, Om yang melakukannya. Sakit Om, hatiku sakit sekali" isak Omar.
Reynhard semakin keras mencengkram dadanya. Sakitnya sangat tidak tertahan. Keringat keluar dari sekujur tubuhnya, wajahnya memucat dan dia merasa sesak. Tiba-tiba.....
Bruuuukkkk...
Reynhard jatuh kelantai tidak sadarkan diri.
"Om... Om Rey... Bangun Om" panggil Omar.
"Mas panggil ambulance sepertinya Om Rey terkena serangan jantung" teriak Jasmine.
Oryza sudah berhasil disadarkan Jasmine dengan memancing indra penciumannya menggunakan minyak angin. Tetapi kepalanya masih pusing.
Omar segera mengangkat Omnya dan membawanya kerumah sakit terdekat.
Dia harus menyelamatkan Omnya. Bagaimanapun bencinya dia pada Omnya tapi fikirannya harus tetap berjalan. Dia tidak mau emosi menyebabkan hilangnya nyawa Reynhard.
Omar tidak mau menjadi pembunuh. Dia tidak mau membalas dendam atas kematian Papanya. Dia masih bisa berfikir jernih. Reynhard harus selamat.
Reynhard harus mempertanggung jawabkan kesalahannya di depan polisi dan keluarganya. Reynhard harus membersihkan nama baik Mamanya.
Omar tidak mau disalahkan keluarga, istri dan anak-anak Reynhard atas kematian Omnya.
"Mine kamu kuat bawa mobil?" tanya Omar.
"Iya Mas, aku bisa" jawab Jasmine.
"Kamu bawa mobil Oryza. Oryza temani Mbak kamu. Aku dan Mama akan naik mobilku bersama Om Rey. Kita kerumah sakit terdekat. Om Rey harus selamat. Dia harus mengakui semua kesalahannya dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ayo cepat" perintah Omar.
Sesuai dengan perintah Omar, Jasmine bersama Oryza naik mobil Oryza dan Omar bersama Mama dan Omnya naik mobilnya membawa Reynhard ke Rumah Sakit terdekat.
__ADS_1
Diperjalanan menuju Rumah Sakit Omar segera menelepon Kevin.
"Halo Bro ngapain telpon aku hari libur begin?" tanya Kevin santai tidak tau apa yang terjadi.
"Vin kabari Mama dan adik kamu. Papa kamu terkena serangan jantung saat ini sedang aku bawa ke RS. XX. Cepat" perintah Omar.
"Apa? Bagaimana bisa Papa terkena serangan jantung dan bisa bersama kamu?" tanya Kevin terkejut mendapat kabar berita seperti itu.
"Udah gak perlu banyak tanya nanti aku ceritakan semuanya. Yang penting bawa Tante Sena dan Renata ke Rumah Sakit segera" desak Omar.
"Baik Mar.. Oke aku akan kabari Mama segera" jawab Kevin, kemudian telepon terputus.
Omar menghubungi August sahabat sekaligus asisten pribadinya.
"Halo Gus, Om Rey terkena serangan jantung. Aku sedang bersamanya menuju RS. XX. Tolong kamu hubungi pihak Rumah Sakit dan cari dokter jantung terhebat yang bisa menangani Om Rey dengan baik" perintah Omar.
"Baik Bos, segera aku lakukan. Aku akan ke RS secepatnya" jawab August.
Omar melajukan mobilnya dengan sangat kencang disusul Jasmine dibelakang mengikutinya dengan mengendarai mobil Oryza.
"Mbak aku sudah ingat semuanya. Aku sudah bisa mengingat kejadian itu. Kejadian saat Papa meninggal. Om Rey jahat Mbak, aku melihat dia berkelahi dengan Papa lalu... lalu... Papa meninggal" tangis Oryza.
"Oryza... kamu tenang ya sayang. Tenangkan fikiran kamu. Yang penting sekarang kita harus segera ke rumah sakit, kita harus menyelamatkan Om Rey. Nanti kalau Om Rey sudah sadar, kita dengar apa cerita dia. Di Rumah Sakit kamu juga bisa cerita semuanya sama Mbak dan Mas Omar. Kamu tenang ya Za" Jasmi mencoba menenangkan Oryza yang sedang syok dan menangis.
Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Untung hari ini hari libur jalanan sepi dan tidak macet. Mereka bisa secepatnya sampai di Rumah sakit.
Reynhard langsung ditangani dokter di UGD. Dia langsung mendapatkan penanganan pertama dan pemeriksaan lanjutan.
Omar beserta Mama, istri dan adiknya menunggu diruang tunggu.
Oryza mendekati Omar sambil menangis.
"Kak... aku sudah ingat semuanya. Ingat kejadian saat Papa meninggal Kak. Aku melihat Om Rey datang kerumah kemudian dia masuk ke kamar Papa. Aku mendengar Mama menjerit lalu aku berlari ke kamar Papa. Tak lama Papa datang dan mereka berkelahi. Om Rey mengambil pisau di atas piring yang ada dikamar Papa. Pisau buah yang dipakai Mama untuk memotong buah. Lalu Papa dan Om Rey berkelahi dan Papa tertusuk pisau yang ada ditangan Om Rey Kak. Om Rey Jahat... Om Rey yang sudah membunuh Papa..." tangis Oryza pecah dalam pelukan kakaknya.
"Apa? Papaku yang sudah membunuh Om Rich?" tanya Kevin histeris. Dia terkejut mendengar cerita Oryza.
.
.
BERSAMBUNG
Sebenarnya mau up besok pagi tapi aku kasih bonus untuk kalian sebelum tidur ya....
Tapi kalian harus janji....
__ADS_1
Ssst... jadi pembaca setia di novelku ya 😍😍😍
Terimakasih 😗😗