
Jasmine menangis kencang dibawah pohon rindang di taman bunga yang sering dia kunjungi. Kali ini keindahan taman ini tidak dapat menghapus kesedihan dan airmatanya.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Aku telah berbuat dosa besar. Maafkan aku ya Allah... Teriak Jasmin.
Dia kembali melihat sosok seorang pria yang sedang berjalan menuju arahnya. Jasmine terlihat semakin ketakutan. Apa yang harus ku katakan padanya? Batin Jasmine.
Pria itu semakin mendekat dan seperti biasa dia berdiri tepat dihadapan Jasmine. Jasmine menundukkan pandangannya. Bukan karena matanya perih karena silau. Tapi kali ini hatinya yang perih karena terluka.
"Mengapa kamu menangis?" tanya sang pria.
"A..aku sudah berbuat dosa. Dosa besar yang aku sendiripun tidak bisa memaafkannya" Jasmine berbicara sambil terisak.
"Sudahlah semua sudah takdir, jangan kamu sesali" nasehat pria itu.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Jasmine. Ini sudah kali ketiga mereka bertemu tapi Jasmine tidak mengenal dan tidak bisa melihat wajah pria itu.
"Aku suami kamu" jawab sang pria.
Seketika Jasmine mengangkat wajahnya dan menatap wajahnya.
Astaghfirullah... mimpi itu datang lagi. Sudah lebih tiga kali aku memimpikannnya. Tapi kali ini pembicaraan kami lebih panjang dari biasanya. Siapa pria itu, mengapa dia mengaku suamiku? Dan barusan dia menasehatiku. Apakah dia tau kalau aku sudah tak suci lagi? Apakah dia akan tetap mau mengaku sebagai suamiku jika dia mengetahui bahwa aku tak suci lagi? Tangis Jasmine kembali pecah.
Tok...tok..tok...
"Sayang sudah sore. Kamu sudah bangun? Mama takut kamu ketinggalan shalatnya" ucap Mama Jasmine dari luar.
Jasmine berhenti menangis.
"Iya Ma, aku sudah bangun. Baru saja" jawab Jasmine dari dalam kamarnya.
"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Mamanya khawatir.
"Aku baik-baik saja Ma. Aku mandi dulu ya Ma, takut waktu asharnya keburu habis" Jasmine menghapus airmatanya, dia berjalan melangkah ke kamar mandi.
Sore ini dia tidak bisa memanjakan dirinya dan berendam lama di bath up untuk merilekskan tubuhnya karena waktu ashar sudah tinggal sedikit lagi. Hari semakin sore dan akan segera memasuki waktu maghrib.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dan berpakaian Jasmine melaksanakan shalat ashar.
Ya Allah aku memohon ampunanMU atas kesalahan besar yang sudah aku lakukan. Maafkan semua dosaku. Hanya kepadaMU aku berserah tolong bantu aku keluar dalam masalah ini dan berikanlah jalan terbaik untuk hidupku. Amiin....
Jasmine menutup shalatnya dengan doa panjang. Dia mengambil Alqur'an dan membacanya sambil menunggu waktu shalat maghrib tiba.
Sambil mengaji airmatanya terus saja mengalir. Dia benar-benar merasa sangat berdosa karena telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Dia tidak bisa menjaga satu-satunya mahkota wanita yang dia miliki. Yang selama ini dia jaga hanya untuk suaminya kelak.
Waktu shalat maghrib tiba, Jasmine menutup Alqur'an yang ada ditangannya dan menghentikan aktivitasnya. Dia segera melaksanakan shalat maghrib dengan penuh haru.
Beribu penyesalan yang dia rasakan. Dia menyesal telah bertemu ketiga pria itu. Dia menyesal telah menjalin kerjasama dengan mereka dan dia sangat menyesal hari ini datang ke perusahaan itu.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang terlambat. Tak ada gunanya lagi dia sesali dan tangisi.
Jasmine bertekad akan menyambut masa depan dengan tegar. Dia tidak boleh lemah dan berlarut dalam kesedihan. Dia sangat yakin bahwa Allah Maha Penyayang, tidak akan meninggalkannya dalam musibah ini. Pasti akan ada jalan keluar untuknya.
"Sayang kita makan yuk" ajak Mamanya dari luar kamar.
"Iya Ma" jawab Jasmine.
"Kamu baru menangis? Mata kamu terlihat sembab?" tanya sang Mama khawatir.
"Iya Ma nangis sedikit tadi. Kepalaku tadi siang pusing sekali dan sepertinya aku flu berat" jawab Jasmine berbohong.
Maaf kan aku ya Allah, aku sudah berbohong pada Mama. Doa Jasmine.
"Habis makan kita ke dokter ya" ucap Papanya.
"Nggak usah Pa, tadi aku sudah minum obat. Nanti selesai makan aku minum obat lagi dan istirahat. InsyaAllah sembuh. Mungkin kecapekan saja karena belakangan ini memang di toko lebih sibuk dari biasanya. Tubuhku masih belum terbiasa" jawab Jasmine menenangkan ke khawatiran orangtuanya.
"Ya sudah kamu makan yang banyak ya sayang setelah itu minum obat dan kembali istirahat ke kamar kamu" Ucap Mamanya lemah lembut.
Ya Allah aku telah berdosa pada mereka. Seandainya mereka mengetahui apa yang aku alami mereka pasti akan sangat kecewa dan terluka. Ampuni aku ya Allah, maafkan Jasmine Pa, Ma. Batin Jasmine.
Mereka menikmati hidangan makan malam tanpa bersuara. Malam ini Jasmine tidak bercerita seperti biasanya saat mereka makan malam bersama seperti ini. Kedua orangtuanya tidak curiga karena mereka mengira Jasmine memang benar-benar sedang sakit saat ini.
__ADS_1
"Aku balik ke kamar ya Ma, Pa" ucap Jasmine.
"Iya sayang, kamu istirahat lagi ya" jawab Mamanya.
"Jangan lupa minum obat" sambung si Papa.
Jasmine naik kelantai atas menuju kamarnya. Dan kembali merenungi nasibnya.
****
Malam itu di apartemen Omar.
Omar duduk di sofa kamarnya yang menghadap dinding kaca. Pemandangan malam yang indah dengan langit yang cerah penuh bintang. Tapi Omar sama sekali tidak sedang menikmati pemandangan malam ini.
Fikirannya melayang pada kejadian tadi siang di kantornya. Rencana gila Kevin yang dia jalankan bersama kedua sahabatnya.
Apa yang harus aku katakan besok pada wanita itu. Apakah semua bisa berjalan seperti yang Kevin bilang. Apakah wanita itu mau menerima penawaranku untuk menikahinya. Kalau dia tidak mau bagaimana?
Akh..... Omar mengacak rambutnya kasar.
Semua bermula karena permintaan pamannya yang mengancamnya untuk mencari calon istri. Tapi setelah Omar fikir-fikir dia tidak menyesali perbuatannya tadi siang.
Mungkin itu lebih baik dari pada dia pasrah menerima calon yang akan diusulkan pamannya. Setidaknya dia menemukan hal yang baru bersama wanita itu. Dia tidak mual dan muntah berdekatan dengannya tidak seperti wanita lain yang baru dia kenal.
Walau Omar tidak habis fikir mengapa itu bisa terjadi tetapi tanpa sadar dia menikmati kebersamaannya dengan wanita itu walau hanya satu jam.
Gila.... ini gila. Mengapa aku malah terlena dengan wanita itu. Tidak.. tidak. Semua wanita sama saja. Tidak ada yang bisa dipercaya. Omar meracau sendiri dalam kamarnya.
Omar menghisap rokoknya dalam kemudian menghembuskan asap rokoknya ke udara. Fikirannya sangat kacau malam ini.
Mengapa harus di laluinya hal seperti ini. Tidak bisakah dia hidup aman tanpa harus diusik seorang wanita dalam hidupnya. Jerit batin seorang Omar Barrakh.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG