
Dokter menyampaikan kalau kondisi Reynhard semakin membaik walau masih dalam masa kritis. Penyumbatan pembuluh darah sudah menutup semua saluran darah dijantungnya sehingga tidak cukup memasang satu ring di jantungnya. Dokter memasang tiga ring sekaligus dijantung Reynhard.
Reynhard belum bisa ditemui banyak orang. Keluarga harus bergantian untuk menjenguknya. Reynhard meminta Istri dan putranya masuk.
"Maaf kan Papa Ma, Vin. Papa sudah mengecewakan kalian. Papa laki-laki tak bertanggung jawab. Melempar kesalahan Papa pada orang lain. Maaf kan Papa... Papa sudah menyakiti hati kalian semua" ucap Reynhard terbata-bata.
"Pa jangan fikirkan yang lain dulu. Fokuslah pada kesehatan Papa dulu, semuanya pasti bisa diselesaikan" Jawab Kevin.
"Nggak nak, kesalahan Papa sangat besar" balas Reynhard sambil meneteskan airmata.
"Mas jangan seperti ini nanti kondisi Mas semakin buruk. Kami tidak mau kehilangan kamu Mas. Apapun yang telah Mas lakukan kami tetap menyayangimu" Ucap Sena sambil menggengam tangan suaminya.
"Papa mempunyai permintaan terakhir pada kamu Vin. Sebelum Papa pergi, Papa ingin melihat kamu menikah disini. Dihadapan Papa" pinta Reynhard.
"Pa.... jangan berkata seperti itu. Papa kuat, Papa tidak akan meninggalkan kami" tolak Kevin.
"Sena tolong kamu hubungi Wardhana. Sampaikan permintaan aku ini padanya. Aku yakin dia pasti mau mengabulkannya. Sebelum aku pergi, aku ingin melihat putraku menikahi wanita yang baik-baik. Agar aku bisa pergi dengan tenang" tegas Reynhard.
"Mas...." Sena mulai terisak.
"Tolong sayang... hubungi Wardhana sekarang" perintah Reynhard.
Kevin tak sanggup melihat Papanya lemah seperti ini. Dia segera keluar dan menangis dikursi yang ada di depan ruang pemulihan Reynhard.
"Vin kamu harus kuat" Omar memberi semangat.
"Papa Mar.. Papa..." isaknya.
"Om Rey pasti kuat. Dia akan melewatinya" ucap Omar.
"Papa sudah menyerah Mar. Dia membuat permintaan terakhir. Dia ingin aku menikah dengan Sheila hari ini di Rumah Sakit, di hadapannya" ucap Kevin sambil terus menangis.
"Hei... Kamu harus kuat Vin. Jangan lemah seperti ini. Ingat saat ini tugas kamu lah yang harus menggantikan posisi Om Rey pada keluarga kamu. Kamu tidak boleh lemah" dukung Omar.
Kevin melihat kearah Omar, Oryza dan Zahra. Dia segera berlutut dilantai. Membuat semua orang yang sedang bersamanya diruangan itu terkejut.
"Maaf.. Maafkan Papaku. Dia sudah bersalah pada kalian semua. Maaf kan Papaku Tante... Omar... Oryza.. Aku tahu kata-kata ini tidak akan bisa mengembalikan Om Rich, tidak akan bisa memutar waktu kembali ke masa lalu. Semua sudah terjadi tidak bisa kita tolak dan kita rubah. Aku hanya mencoba memperbaikinya. Sebagai anak laki-laki dikeluargaku aku mengambil tanggung jawab Papaku pada kalian.
__ADS_1
Tolong maafkan Papaku" Kevin berucap sambil terisak.
Omar menarik Kevin berdiri dan memelukya.
"Kami sudah memaafkan Om Rey Vin. Kalian adalah keluarga kami. Kita harus bersama-sama melalui ini semua. Kita harus memberikan semangat pada Om Rey agar dia semangat untuk sembuh" Ucap Omar.
"Terimakasih Mar. Terimakasih" Kevin menghapus airmatanya.
Wardhana tiba di Rumah Sakit bersama istri dan anaknya Sheila. Dia sangat terkejut mendapat kabar dari Sena kalau saat ini Reynhard sedang dirawat di Rumah Sakit.
"Om Wardhana dan Tante sudah ditunggu Papa di dalam" ucap Kevin.
Wardhana dan istrinya masuk keruangan pemulihan Reynhard. Sheila melirik sekilas wajah Kevin. Kali ini wajah Kevin sangat serius, tidak ada sedikitpun terlihat wajah usil dan nakalnya Kevin.
Apakah situasinya sangat mengkhawatirkan? tanya Sheila dalam hati.
Didalam ruang pemulihan.
"Dan aku merasa waktuku tidak akan lama lagi. Aku sudah tidak kuat. Aku mohon kabulkanlah satu permintaanku padamu" pinta Reynhard.
"Jangan berkata seperti itu Rey kamu pasti kuat" jawab Wardhana.
Wardhana menatap wajah Reynhard kemudian menatap wajah istrinya mencari sebuah dukungan atau bantahan. Istrinya tersenyum membalas tatapan Wardhana. Artinya istrinya setuju.
"Baiklah Rey aku akan bicara terlebih dahulu pada Sheila diluar ya. Aku yakin dia pasti akan mengerti situasi ini" jawab Wardhana.
Wardhana dan istrinya keluar dan menarik Sheila ketempat yang lebih sepi.
"Sayang Papa tau ini mungkin akan membuat kamu terkejut. Tapi tolong dengarkan Papa. Reynhard sedang dalam keadaan kritis. Dia meminta satu permintaan terakhirnya kepada Papa dan Mama. Dia meminta kamu. Dia ingin kamu menjadi menantunya sayang. Reynhard meminta kamu menikah dengan Kevin hari ini disini" ucap Wardhana.
"Apa Pa? Aku tidak mau" tolak Sheila.
"Sayang coba fikirkan dengan baik permintaan Papa dan Mama" sambung Mama Sheila lembut.
"Kevin bukan pria yang buruk tapi Papa juga tidak bisa mengatakan kalau dia adalah pria baik. Papa tau alasan kamu menolak dijodohkan dengannya. Tapi manusia bisa berubah sayang. Apalagi kalau kalian menikah, tugas kamu mengingatkan dia untuk tetap berada dijalan yang benar. Hatinya baik nak, Papa yakin dia bisa membahagiakan kamu" tegas Wardhana.
"Tapi aku belum siap Pa. Ini terlalu tiba-tiba" elak Sheila.
__ADS_1
"Mungkin ini tidak menjadi impian pernikahan kamu sayang. Ini baru ijab kabul, setelah semua tenang Papa janji akan membuat pesta pernikahan sesuai impian kamu" janji Wardhana.
"Bu.. bukan karena itu Pa. Tapi aku tidak mencin..." ucap Sheila.
"Belum sayang... bukan tidak. Setelah kalian menikah cinta itu akan datang dengan sendirinya. Asal kamu bisa menerimanya dengan ikhlas" nasehat Mamanya.
"Beri aku waktu Pa, Ma. Aku tidak bisa memutuskanya begitu cepat. Ini terlalu terburu-buru" balas Sheila. Dia sangat terkejut dengan keputusan kedua orangtuanya.
"Baik tapi Papa gak bisa kasih waktu yang terlalu lama pada kamu. Papa tunggu keputusan kamu" Wardhana berdiri dan meninggalkan Sheila dan istrinya.
Tak lama istrinya juga mengikuti Wardhana dari belakang. Kemudian mereka menemui Jasmine. Papa Mama Sheila tau Jasmine dan anaknya bersahabat. Mereka meminta bantuan Jasmine untuk meyakinkan Sheila agar mau menikah dengan Kevin.
Jasmine menghampiri Sheila.
"Sheil..." sapa Jasmine.
"Mine Papa Mamaku meminta aku menikah dengan Kevin hari ini. Mereka bilang itu permintaan dari Papa Kevin" adu Sheila pada Jasmine.
"Aku tau Sheil tadi Kevin juga berkata seperti itu" balas Jasmine.
"Aku harus bagaimana Mine?" tanya Sheila pada Jasmine. Dia berharap Jasmine bisa memberikan sebuah pencerahan baginya.
"Sheil aku sudah kenal Kevin sebelum menikah. Bahkan diantara mereka bertiga Kevinlah yang pertama aku kenal. Kamu ingatkan pertemuan pertama kami saat ban mobilku kempes. Kevin yang menolong aku. Menurutku Kevin itu baik. Dia ringan langkah untuk membantu orang, siapapun itu bahkan orang yang tidak dia kenal sekalipun. Dia mempunyai hati yang hangat suka menghibur orang, pinter menghidupkan suasa walau terkadang menjengkelkan. Tapi dia selalu serius lho dalam mencapai sesuatu. Dia pekerja keras dan dia juga lucu. Masak kamu tidak bisa melihat semua kelebihannya itu. Jangan karena satu kekurangannya bisa menutupi seribu kelebihannya Sheil. Itu gak adil. Kamu terlalu fokus pada kekurangannya sehingga kamu buta pada kelebihannya" nasehat Jasmine.
Sheila terdiam, dia mulai mengingat-ingat sikap dan tingkah laku Kevin saat bersamanya.
"Satu kekurangannya, banyak wanita yang mengelilinginya. Aku tau kamu takut. Tapi penilaianku padanya sekarang sudah berubah Sheil. Sejak mengenal kamu dia tidak pernah lagi bermain-main dengan wanita lain. Dia serius ingin mencuri hati kamu, kata-katanya, perhatiannya dan kesabarannya menghadapi kamu apa sedikitpun tidak menggores hati kamu Sheil? Tidak bisakah sedikiiiit saja kamu membuka hati kamu. Setidaknya terima saja dulu dia setelah itu pasrahkan semua pada Allah. Mungkin dia memang jodoh kamu Sheil. Sekuat apapun kamu menolaknya dia tidak akan pergi karena kamu adalah tulang rusuknya. Pasti kamu akan kembali padanya" sambung Jasmine.
Sheila menangis dalam pelukan sahabatnya. Saat ini dia sudah bisa melihat semua kebaikan hati Kevin. Dia jahat kalau harus membenci pria itu hanya karena sebuah kekurangannya.
"Terimakasih Mine, kata-kata kamu sudah bisa membuat hatiku terang. Aku mau Mine, aku mau menikah dengan Kevin" tangis Sheila pecah dalam pelukan Jasmine.
"Alhamdulillah...."
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG