
Beberapa hari setelah acara ulang tahun Omar, keluarganya bersilaturahmi kerumah orangtua Jasmine. Paman, Tante , adik dan adik sepupunya ikut meramaikan acara keluarga itu.
Jasmine terlihat semakin akrab dengan Oryza. Karena sifat ramah dan manjanya Oryza membuatnya cepat dekat dengan Jasmine.
"Mbak Jasmine kog mau sih sama kakak aku yang dingin itu?" tanyanya saat mereka sedang menata meja makan di ruang makan keluarga.
"Kamu gak suka Mbak dekat Kakak kamu?" tanya Jasmine.
"Bukan begitu. Aku tu suka banget lho sama Mbak Jasmine. Tapi heran aja kog Mbak Jasmine mau menikah dengan kakak aku? Dia orangnya seriusan dan kaku. Tapi dia baik lho Mbak, hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki setelah Papa meninggal" jawab Jasmine.
"Kalau Mama kamu dimana?" Jasmine bertanya pada Oryza karena baik Omar ataupun Oryza tidak pernah membicarakan ibunya.
"Kata Kakak, Om dan Tante, Mama pergi setelah papa meninggal. Aku gak tau Mama kemana karena pada saat itu aku masih kecil" jelas Oryza.
"Tapi Mbak jangan tanya-tanya Mama sama Kak Omar ya, nanti dia marah. Dia paling tidak suka membicarakan tentang Mama" sambung Oryza.
"Kenapa?" tanya Jasmine penasaran.
"Kata Om dan Tante dia sangat marah kepada Mama. Aku tidak tau mengapa tapi aku selalu takut bertanya sama Kak Omar. Karena setiap bicara tentang Mama, Kak Omar sangat menakutkan" jawab Oryza polos.
"Oo..." Jasmine mulai mengerti mengapa sikap Omar menjadi seperti ini. Mungkin karena kenangan tentang Mamanya yang membuatnya menjadi pria seperti itu.
"Sudah selesai hidangannya sayang? Biar Mama panggil semuanya untuk makan malam" tanya Mama Jasmine.
"Sudah Ma" jawab Jasmine.
Tak lama kemudian dua keluarga sudah berkumpul di meja makan sambil menikmati hidangan makan malam.
"Makanannya enak-enak Mbak, siapa yang masak?" tanya Sena istri Reynhard
"Jasmine Mbak" jawab Mama Jasmine.
"Wah calon istri kamu pinter masak lho Mar. Beruntung kamu mendapatkannya" Puji Tante Sena.
Omar hanya tersenyum menanggapi ucapan Tantenya.
"Dia emang suka sekali memasak, makanya berhenti bekerja di kantor dan membuka toko kue. Kue-kue di acara kemarin itu dari Toko Kue Jasmine lho Mbak" Mama Jasmine memuji hobby dan keahlian putrinya.
"Benar Mbak?" tanya Oryza pada Jasmine.
__ADS_1
Jasmine menganggukkan kepalanya.
"Waah Mbak Jasmine hebat. Kapan-kapan ajari aku ya Mbak?" ucap Oryza.
Oryza yang haus akan kasih sayang keluarga sangat senang berkenalan dan berdekatan dengan Jasmine. Karena hanya Omar lah satu-satunya saudara kandungnya. Jadi dia merasa kelak Jasmine akan menjadi kakak iparnya, itu artinya keluarganya akan bertambah. Dia sangat senang melihat kakaknya bahagia.
Omar sejak awal datang kerumah Jasmine sudah memperhatikan kedekatan adiknya dengan calon istrinya. Sebenarnya ada kelegaan dihatinya melihat Jasmine bisa mengambil hati adiknya. Dan adiknya juga terlihat sangat menyukai Jasmine.
"Jadi gimana Mas Bima, kapan tepatnya kita akan melaksanakan pernikahan Omar dan Jasmine?" tanya Reynhard pada Papa Jasmine.
"Kalau saya terserah pada mereka aja Mas. Kita sebagai orangtua hanya bisa menyetuji, mendukung dan mendoakan mereka" jawab Papa Jasmine.
"Bagaimana Omar, Jasmine?" tanya Reynhard.
"Bulan depan saja Om" jawab Omar singkat.
Jasmine dan semua orang yang mendengar jawaban Omar terkejut.
"Kamu sudah gak sabaran rupanya" ucap Reynhard sambil tertawa ringan.
"Bukankah lebih cepat lebih baik. Usiaku bukan remaha lagi Om. Aku tidak mau menjalani masa pacaran atau pengenalan seperti anak ABG lagi" jelas Omar.
"Begitulah sifat Omar Mas, kalau sudah menginginkan sesuatu dia maunya pasti disegerakan dan tidak mau berlama-lama. Bagaimana menurut Mas?" tanya Reynhard kembali pada Papa Jasmine.
Jasmine menatap kearah Omar.
"Saya terserah Omar saja, gimana baiknya" jawab Jasmine.
"Huss.. kamu kog panggil nama begitu saja pada calon suami kamu, gak sopan itu namanya sayang. Dari sekarang biasakan panggil Mas ya. Kedengarannya lebih bagus. Bukan begitu Mbak?" tanya Mama Jasmine pada Sena, Tantenya Omar.
"Iya, benar itu Mbak" sambung Sena.
"Eh iya, terserah Mas Omar saja" jawab Jasmine.
Emangnya bisa aku membantah ucapan pria ini. Huh... pasti dia akan marah besar kalau aku melawan perkataannya. Umpat Jasmine dalam hati.
"Kalau begitu kita setujui saja Mas. Bulan depan acara pernikahannya" ucap Papa Jasmine.
"Iya, kalau begitu kami juga setuju" jawab Reynhard.
__ADS_1
"Gimana acaranya Mar?" tanya Reynhard.
"Nanti aku akan cari WO Om, biar mereka yang urus semuanya jadi kita gak perlu repot lagi" jawab Omar.
"Pakaian dan Mahar nikahnya harus ditentukan sendiri donk Mar. Tante punya kenalan yang bagusm Nanti Tante hubungi mereka ya, kalian tinggal memilih sesuai dengan selera kalian. Kita paling senang kan Mbak ikut serta membantu suksesnya hari bahagia mereka" timpa Sena kepada Jelita, Mamanya Jasmine.
"Iya, biar gaun dan cincin nikah kami bantu urusin" sambut Mama Jasmine.
"Terserah Tante dan Ibu. Aku ikut saja" Jawab Omar.
Acara makan malam dua keluarga berjalan lancar, kata mufakat dan kepastian tanggal sudah di dapatkan. Acara telah mereka susun, mereka sangat senang dengan pertemua ini membuat dua keluarga ini terasa tidak asing lagi dan semakin menyatu.
Semua berharap mudah-mudahan ini adalah awal yanh baik untuk hubungan antara Omar dan Jasmine.
Omar, Om, Tante dan adiknya pamit pulang kepada keluarga Jasmine. Setelah berjabat tangan mereka undur diri karena hari sudah semakin malam.
Didalam mobil keluarga Omar kembali membicarakan tentanh pertemuan mereka dengan keluarga Jasmine barusan.
"Sampai sekarang Om tidak menyangka ternyata kamu pintar memilih calon istri. Om tidak menyesal gak jafi menjodohkan kamu dengan anak kenalan Om" ucap Reynhard.
"Iya Mar, Jasmine itu gadis yang cantik, lembut dan keibuan. Kamu beruntung mendapatkannya" sambung Sena.
"Aku juga senang sekali anak mendapat kakak ipar seperti Mbak Jasmine Tante. Dia sangat ramah dan penyayang" Oryza menimpali.
Omar hanya diam sambil serius menjalankan mobilnya. Dia akan mengantarkan Om, Tante dan adiknya kerumah utama Barrakh, setelah itu baru dia balik ke apartemennya.
Sesampainya di apartemennya Omar segera bersih-bersih dan berganti pakaian santainya.
Satu step telah selesai di lewati, tinggal sedikit lagi menuju hari pernikahan. Mungkin setelah menikah baru Omar merasa tenang karena hidupnya 'tidak akan diawasi oleh pamannya lagi.
Omar menatap langit-langit kamarnya. Dia tidak bisa membayangkan rumah tangga seperti apa yang akan dia jalani nanti. Memikirkannya saja membuat kepalanya ingin pecah.
Hal gila yang tak pernah dia fikirkan selama ini. Omar tidak pernah membayangkan akan berumah tangga dan membangun sebuah keluarga. Dia mengira selama ini sudah mendapatkan apa yang selama ini dia raih sudahlah cukup, ternyata dia harus mengalami fase berkeluarga seperti yang sebentar lagi akan dia jalani.
Ternyata dia tidak bisa mengelak dan lari dari hal itu. Jika masih ingin dianggap sebagai orang yang normal dia harus menjalaninya.
Setelah lelah berfikir akhirnya Omar menutup matanya dan terlelap.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG