BUKAN SUAMI BIASA

BUKAN SUAMI BIASA
Bab 22


__ADS_3

"Bro, lo masih disini?" tanya Kevin.


"Kenapa, masalah buat lo?" Omar balik bertanya.


"Bro malam ini lo tunangan, masak iya gak ada romantis-romantisnya sama calon bini lo. Entar mertua lo curiga bro kalau lo gak cinta sama anaknya. Yaaah walaupun emang belum cinta" jawab Kevin.


"Maksud kamu?" Omar tidak mengerti maksud dari perkataan Kevin karena memang dia sangat buta akan hubungan yang seperti ini.


"Lo itu harusnya menjemput calon istri lo kerumahnya. Trus sama-sama datang ke gedung nanti malam" Kevin berusaha mengajari sepupunya itu.


"Mulailah belajar untuk menjalin sebuah hubungan dengan calon istri kamu. Lakukan interaksi yang memperlihatkan bahwa kalian itu pasangan yang serasi. Jangan membuat penilaian orang jelek terhadap hubungan kalian. Bukannya kamu menikah untuk melindungi citra baik kamu sebagai CEO perusahaan ini?" jelas Kevin.


Omar mulai mencerna kata-kata Kevin. Maklum dia sudah lama tidak merasakan sebuah kehangatan dari suatu hubungan. Baik itu hubungan keluarga atau hubungan antara lawan jenis. Selama ini hidup Omar sangat jauh dan kaku.


Sebisa mungkin dia akan menjauh dari semua itu karena luka yang sangat mendalam dimasa lalunya. Kevin sangat mengetahui itu dan dia sangat bersedih atas hidup sepupunya itu.


Baginya Omar adalah saudara sekaligus sahabat terdekatnya. Dia ingin Omar merasakan kebahagian dan keluar dari rasa kekecewaannya atas masa lalu.


Kevin sangat berharap Omar dapat memaafkan masa lalunya dan melangkah menuju masa depannya meraih kebahagian menjalin keluarga seperti manusia normal pada umumnya.


"Apakah harus?" tanya Omar. Dia semakin gila atas semua rencana ini. Mengapa harus semakin sering berinteraksi dengan wanita itu? Omar terlihat kesal.


"Harus Bro, walau kamu belum mencintainya setidaknya yakinkan orangtuanya dan papaku kalau kalian memang pasangan yang saling mencintai" Kevin memberikan nasehat.


"Baiklah kalau begitu aku akan segera pulang ke apartemen, bersiap-siap setelah itu aku akan menjemput istrinya si Aladin itu" jawab Omar.


"Istri Aladin?" tanya Kevin bingung.


"Jasmine. Bukannya itu nama istri Aladin?" jawab Omar.


"Hahaha... Baru akan bertunangan, kehadirannya sudah banyak merubah kamu. Bukannya hanya pada alergi kamu tapi candaanmu kini kamu terlihat lebih baik bro. Aku sangat senang mendengarnya Aladin" ledek Kevin.


"Kamu memanggil aku Aladin?" Omar terlihat kesal.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang Jasmine itu istrinya Aladin. Kamu kan nanti suaminya Jasmine, berarti kamu Aladinnya hahahah. Senjata makan tuan" Goda Kevin.


"Dasar..." Omar tak bisa mengelak lagi, sepertinya dia salah bicara pada Kevin. Kalau sudah begini Kevin pasti akan sering meledeknya.


Omar meninggalkan Kevin sendiri diruang kerjanya. Dia pulang kembali ke apartemen diantar August.


"Gus kirim pesan ke istrinya si Aladin itu kalau nanti malam kita akan menjemputnya sebelum ke gedung" perintah Omar.


"Bukannya lebih baik kamu sendiri aja Bos?" August sengaja melakukan itu agar hubungan Omar semakin dekat dengan Jasmine.


"Aku tidak punya nomor hpnya" jawab Omar singkat.


"Bos sebentar lagi dia akan menjadi tunangan kamu. Sudah sepantasnya kamu mempunyai nomor hpnya. Apa kata dunia Bos kalau mereka mengetahuinya?" goda August.


"Aku tak perduli dunia mau berkata apa. Kamu semakin cerewet seperti Kevin selalu mengejekku" ucap Omar jengkel.


"Bukan begitu Bos, tapi itu memang normal. Kamu harus mempunyai nomor hp tunangan kamu. Aku kirim ya nomor hpnya ke kamu" sambut August.


Omar diam saja, itu artinya iya. August segera mengirim no hp Jasmine pada Omar.


Omar membuka hp nya dan menyimpan nomor hp Jasmine dengan nama 'Istri Aladin'.

__ADS_1


Omar


Nanti malam aku jemput.


Istri Aladin


Kamu siapa?


Omar


Aladin


Istri Aladin


Maksudnya?


Sial aku salah ketik. Umpat Omar.


Dia segera membalas pesannya.


Omar


Omar Barrakh


Istri Aladin


Ngapain kamu jemput, aku bisa datang sama orangtuaku


Omar


Omar menutup hpnya dan memasukkannya ke saku bajunya.


Ribet banget berhubungan sama wanita. Ucapnya dalam hati.


**


Jam 7 malam usai shalat maghrib Jasmine sudah selesai berdandan di kamarnya.


"Sayang cepat turun, Omar udah datang menjemput kamu" teriak Mamanya dari bawah.


"Sebentar Ma" jawab Jasmine.


Jasmine segara turun ke lantai dasar. Dia memakai gaun berwarna gold pemberian Omar tadi siang melalui utusannya yang mengantarkan gaun ini ke toko kuenya.


"Mama, Papa bareng kami kan?" tanya Jasmine.


"Kami menyusul kamu di belakang sayang. Papa bawa mobil sendiri saja" jawab Papa Jasmine.


"Kamu sudah siap?" tanya Omar.


Jasmine hanya menganggukkan kepalanya.


"Kami pamit duluan Pak, Bu. Sampai ketemu disana" ucap Omar pada kadua orangtua Jasmine.


Omar dan Jasmine masuk kedalam mobil. Awalnya Omar hendak duduk disamping August yang sedang mengendarai mobil tapi Auguts memberi kode bahwa Omar duduk dibelakang saja bersama Jasmine.

__ADS_1


Untung Omar bisa langsung mengerti maksud dari kode August. Dia segera duduk dikursi belakang bersama Jasmine.


Omar menarik nafas panjang, perlahan-lahan Omar menyadari keadaan tubuhnya. Sepertinya memang benar apa yang dia rasakan. Ini kali ketiganya alerginya tidak kumat saat bersama dengan Jasmine.


Sudah tiga kali mereka berinteraksi tidak ada reaksi yang berlebihan dari tubuh Omar. Bisa disimpulkan kalau dia akan aman saat berada bersama Jasmine.


Sekarang Omar bisa bernafas lega.


Jasmine duduk disamping Omar sambil tersenyum pada kedua orangtuanya.


"Papa, Mama segera menyusul ya" teriaknya.


"Iya sayang, kami juga akan berangkat" jawab Papanya.


Kedua orangtua Jasmine masuk kedalam mobil mereka dan segera bergerak mengikuti mobil Omar dari belakang.


"Anda cantik sekali malam ini Nona" sapa August memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Terimakasih Pak August" ucap Jasmine.


"Mulai hari ini kamu panggil dia dengan namanya saja, tidak perlu pakai embel-embel Bapak. Kamu adalah tunanganku" perintah Omar.


"Ba.. baik Pak" jawab Jasmine.


"Siapa Bapak kamu?" tanya Omar balik.


"Perintah itu juga berlaku untuk memanggilku" sambung Omar.


"Iya" jawab Jasmine singkat.


"Disana nanti akan hadir seluruh keluargaku, sebaiknya malam ini kita harus bertingkah laku seperti pasangan pada umumnya" perintah Omar lagi.


"Baik, tapi sewajarnya saja dan harus ada batasannya. Aku tidak suka kamu menyentuh tubuhku sebelum kita resmi menikah" tegas Jasmine.


"Cih, siapa juga yang mau menyentuhmu" umpat Omar.


"Aku tau maksudku tidak ada gandengan tangan dan rangkulan didepan umum sebelum kita menikah. Bukan sentuhan seperti yang kau bayangkan" elak Jasmine.


"Baik. Aku sangat setuju akan hal itu. Pertunangan kita semata-mata hanya sebuah tanggung jawabku atas apa yang telah hilang dalam dirimu dan demi nama baik kita berdua, selebihnya tidak ada yang lain" tegas Omar.


Mobil melaju menuju gedung tempat perayaan ultah Omar dan pertunangan mereka. Dengan jantung yang terus berdetak kencang Jasmine menguatkan dirinya bahwa dia akan bisa melewati semua ini.


Sementata Omar tetap memasang wajah datarnya. Entah apa yang sekarang dia fikirkan. Jasmine tidak bisa membaca dari wajahnya. Pria disampingnya ini tidak bisa ditebak. Ekspresinya tetap sama disetiap keadaan. Jasmine sulit sekali mengartikannya.


.


.


BERSAMBUNG


Kata sandinya teman-teman?


Like and comment...


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2