
"Mbak hamil" teriak Oryza bahagia.
Aku harus bagaimana, bahagia atau bersedih? Anak ini hadir tanpa keinginan kami berdua. Apakah kamu mau menerimanya Mr? Bagaimana masa depan kami yang nanti akan kami jalani? tanya Jasmine dalam hati.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kejadian satu malam bisa menjadi seperti ini? Jasmine hamil, bagaimana ini? Batin Omar.
"Lho kenapa kalian berdua sama-sama terdiam? Kalian tidak senang mendapat kabar seperti ini Kak, Mbak? Sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua dan aku akan menjadi Onty" teriak Oryza senang.
"Tentu saja kami bahagia. Kami hanya terkejut tidak menyangka bisa secepat ini" jawab Omar.
Jasmine hanya terdiam, dia masih shock dan tidak percaya dengan yang terjadi.
Jasmine kembali berlari ke kamar mandi.
"Mbak jangan lari-lari nanti bisa jatuh" cegah Oryza.
Uek...uek... Jasmine memuntahkan sarapan pagi yang dia makan bersama Oryza tadi. Semua keluar sampai Jasmine terduduk lemas dilantai.
Omar kasihan melihat penderitaan Jasmine. Dia mengurut punggung Jasmine mencoba membantunya. Kini Jasmine lemas tidak bertenaga. Omar menggendong tubuhnya kemudian membaringkannya ke atas tempat tidur.
"Sudah enakan?" tanya Omar.
Jasmine menganggukkan kepalanya.
"Oryza kamu jangan pulang dulu, menginaplah disini beberapa hari. Setidaknya bisa membantu dan menemani Jasmine dirumah" Perintah Omar.
"Iya Kak" jawab Oryza senang.
"Besok kita ke dokter. Hari ini hari minggu, tidak ada dokter dihari libur. Apa kamu bisa menunggu sampai besok?" tanya Omar dengan penuh perhatian.
"Iya" jawab Jasmine singkat.
Akhirnya rencana masak-masak Oryza dan Jasmine gagal hari ini karena Jasmine seharian memuntahkan semua makanan yang masuk kedalam perutnya.
Omar semakin khawatir melihat keadaan Jasmine yang lemah. Untung ada Oryza yang membantunya mengurus Jasmine kalau tidak dia pasti bingung dan tidak tau harus berbuat apa.
Saat ini Jasmine sedang tertidur karena kelelahan. Omar menatap wajah Jasmine yang pucat. Diusapnya rambut Jasmine dengan lembut.
Maafkan aku yang membuat kamu menderita, sampai saat ini aku tidak pernah membuat kamu bahagia. Kamu benar, aku adalah pria yang berhati dingin dan datar. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana kepadamu. Aku tidak pandai menghibur ataupun membuatmu bahagia.
Apakah kau mau menerima keadaanku yang seperti ini? Aku yang memiliki kehidupan yang cacat tidak seperti dirimu mempunyai keluarga yang sempurna. Kalau memang kau bisa menerimaku secara utuh aku bersedia memberikan seluruh hati dan kepercayaanku kepadamu. Aku akan berubah menjadi seperti yang kau inginkan. Janji Omar dalam hati.
***
Keesokan harinya Oryza pamit ke kampus sebentar. Hari ini ada mata kuliah yang sangat penting. Sedangkan Omar mengirim pesan kepada kedua temannya.
Omar
__ADS_1
Aku tidak ke kantor hari ini, mau membawa Jasmine ke RS.
August
Jasmine kenapa?
Kevin
Jasmine sakit? Sakit Apa?
Omar
Belum tau
Kevin
Semoga Jasmin lekas sembuh, salam untuk dia
Omar
Titip kantor
August
Ok, Bos.
Jam sepuluh pagi Jasmine dan Omar berangkat menuju RS. Kasih Ibu untuk memeriksakan kehamilan Jasmine.
Satu jam kemudian mobil Omar sudah sampai diparkiran Rumah Sakit. Sebelumnya mereka sudah mendaftarkan nama Jasmine secara online di praktek dokter kandungan RS. Kasih Ibu.
Tidak menunggu waktu lama tibalah giliran nama Jasmine disebut.
"Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter kandungan yang ada dihadapan Omar dan Jasmine.
"Istri saya hamil dok, kemarin sudah di tes dengan alat kehamilan" jawab Omar mendahului karena Jasmine terlihat sangat lemas.
"Baik, kapan terakhir Ibu datang bulan?"
"Saya sudah telat seminggu dok" jawab Jasmine.
"Coba ibu berbaring ditempat tidur ya" perintah dokter.
Omar membantu Jasmine dan membantunya berbaring di temompat tidur agar dokter bisa memeriksanya.
Dokter tersebut dibantu dengan seorang perawat, membuka kancing kemeja Jasmine bagian bawah sampai batas perut kemudian membubuhi gel diperut Jasmine dan meletakkan alat pemeriksaannya diatas gel tersebut.
"Lihat ke monitor bu, ini kantong kandungan ibu, nah lihat sudah ada isinya. Selamat Ibu sedang hamil. Usia kandungannya 5 minggu jadi kalau dilihat dilayar monitor masih kecil sebesar biji kacang" jawab dokter ramah.
__ADS_1
"Tapi dok istri saya mengalami mual dan muntah yang cukup parah, apa yang dia makan akan dimuntahkan tak lama setelah dia makan" ucap Omar.
Kali ini Omar yang lebih aktif bertanya karena kondisi Jasmine yang lemah dan juga rasa ingin tau Omar yang besar tentang kehamilan.
"Nanti saya kasi resep untuk meredakan rasa mual ya. Bapak tidak perlu khawatir hal ini sering terjadi apalagi trimester pertama awal kehamilan. Kalau ibu kondisinya sangat lemah nanti kita bantu dengan cairan infus tapi mudah-mudahan dengan bantuan obat yang saya berikan dapat meringankan rasa mual ibu. Jangan lupa minum susu hamil si Ibu ya Pak, setidaknya bisa membantu asupan gizi kalau seandainya dari makanan tidak membantu" jelas dokter.
Omar terlihat sangat menyimak semua perkataan dengan baik.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Omar lembut.
"Nggak ada" jawab Jasmine pelan.
"Hati-hati ya bu berjalan terkadang karena gejolak mual tanpa sadar Ibu berlari. Tolong diperhatikan" pesan dokter.
"Baik dokter. Terimakasih" jawab Jasmine.
Omar dan Jasmine keluar dari ruang prakter dokter dan pulang menuju apartemen.
"Kita singgah sebentar ke supermarket ya, kamu mau ikut atau menunggu di mobil?" tanya Omar lembut.
"Aku tunggu di mobil aja ya" jawab Jasmine sambil sedikit rebahan dikursi.
"Baiklah. Aku turun dulu" Omar keluar dari mobil singgah ke apotik untuk menebus resep dan membeli susu untuk wanita hamil di supermarket.
Setelah membeli semua yang dibutuhkan Omar kembali ke mobil. Dia melihat Jasmine sedang tertidur dikursi yang ada disampingnya.
Apa seperti ini ya yang dialami wanita saat hamil. Berat juga ya, aku kira cuma rindu yang berat seperti kata Dilan. Batin Omar.
Sesampainya dibasement Omar tidak tega membangunkan Jasmine yang tidur dengan nyenyaknya. Dia menggendong Jasmine menuju apartemennya.
Jasmine baru terbangun saat Omar meletakkan tubuhnya dengan pelan diatas tempat tidur kamarnya.
"Maaf membangunkanmu" ucap Omar.
"Kita sudah di apartemen? mengapa kamu tidak membangunkanku. Aku kan bisa berjalan sendiri tadi" jawab Jasmine.
"Gak apa-apa aku bisa kog memggendong kamu. Kamu mau makan apa?" tanya Omar.
"Aku pengen soto buatan Mama" jawab Jasmine pelan.
"Tapi ini sudah siang, mungkin mama tidak sempat memasakkannya kami sudah keburu lapar. Mau alternatif yang lain biar sotonya untuk makan malam saja" Omar memberikan penawaran.
"Aku mau soto Mama" jawab Jasmine dengan mata berkaca-kaca.
"Oke.. oke aku telepon Mama ya" potong Omar.
Kenapa hanya begitu saja dia sudah mau menangis? Biasanya dia wanita yang tidak cengeng dan mandiri, kenapa jadi manja begini. Ah sudahlah aku harus menelepon Mamamya untuk meminta dibuatkan soto. Nanti bisa ngambek dia, kata Kevin wanita ngambek harus di bujuk. Aku tidak pintar membujuknya. Batin Omar.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG