
Tibalah hari Ulang Tahun Barrakh Corp. Keluarga Omar dan Keluarga Kevin sudah bersiap-siap akan menghadiri acara tersebut yang diadakan di hotel mewah.
Omar sudah gagah dengan pakaiannya.
Sedangkan Jasmine sibuk dengan gaunnya.
Pasangan yang serasi. Mereka keluar dari kamar dan segera menghampiri Mama dan adiknya.
"Sudah siap semua?" tanya Omar pada Mama dan adiknya.
"Sudah sayang" jawab Jasmine lembut.
Mereka kemudian berangkat menggunakan mobil Omar menuju hotel tempat berlangsungnya acara.
Sesampainya disana keluarga Kevin dan August juga sudah sampai.
August memperhatikan wanita yang belakangan ini sesekali hadir dalam lamunannya.
Duh manis banget si Kunti malam ini? Lho kog aku sekarang nyebut Oryza kunti ya? August memukul kepalanya pelan.
Mereka memasuki ruangan ball room hotel. Acara berlangsung dengan sangat meriah. Seluruh tamu undangan, rekan bisnis serta seluruh karyawan Barrakh Corp sudah berdatangan.
Omar, Kevin dan August menyambut hangat para tamu undangan. Sementara para wanita sudah duduk di tempat yang telah disediakan khusus untuk keluarga Barrakh Corp.
"Selamat malam Pak Omar, Pak Kevin dan Pak August" sapa seorang wanita bule.
"Cindy?" ucap Kevin dan August. Kalau Omar sudah tidak terkejut lagi karena dia sudah dua kali tak sengaja bertemu dengan Cindy.
"Kok kamu bisa berada disini?" tanya Kevin penasaran.
"Aku datang memenuhi undangan kalian. Perkenalkan aku perwakilan dari MILAN Corp" Cindy mengangkat tangannya kearah Omar. Tetapi tangannya disambut oleh Kevin dan August.
Cih kamu masih jual mahal Omar Barrakh. Umpat Cindy dalam hati.
"Sudah lama di Indinesia?" tanya August.
"Lumayan sudah beberapa tahun ini. Aku sekarang sudah menetap di Indonesia" jawab Cindy.
"Pantesan bahasa Indonesia kamu sangat fasih sekali" puji Kevin.
"Sudah lama aku menantikan pertemuan kita seperti ini. Sampai aku tak bisa tidur karenanya tadi malam. Aku kangen kamu Omar" ucap Cindy terang-terangan.
"Huh... sayangnya aku tidak" jawab Omar ketus.
__ADS_1
"Ayolah Omar kita berdamai dengan masa lalu. Aku kan sudah meminta maaf pada kamu atas kesalahan aku dulu. Anggap saja kita teman lama yang sudah lama tidak bertemu" balas Cindy.
"Maaf aku tidak bisa terlalu dekat dengan wanita" tolak Omar.
"Bukannya kamu sudah berubah? Buktinya sekarang kamu sudah menikah?" tanya Cindy penasaran.
"Istriku wanita yang berbeda. Kalau bersamanya aku merasa nyaman" Omar memuji kelebihan istrinya.
Huh... bohong, aku tak percaya. Bilang saja kamu jual mahal, lihat saja sebentar lagi kau akan menjadi milikku Omar. Batin Cindy.
"Baiklah Cindy selamat datang di pesta ini, silahkan nikmati hidangan yang telah kami sediakan" ucap Kevin mengalihkan perhatian Cindy agar dia tidak gerus menggoda Omar.
Bisa bahaya nih kalau penyakit Aladin kumat disini mana si Jasmine ada disini lagi. Bisa-bisa anuku jadi dia jual sama abang sate madura. Batin Kevin.
"Ayo Cindy mari saya antar ke tempat duduk anda" August mempersilahkan Cindy duduk ditempatnya. Tujuannya juga sama seperti Kevin. August ingin menjauhkan Cindy dari Omar.
Kalau Tuan Putri Jasmine lihat aku bisa dikurung dalam lampu ajaib selama sebulan. Batin August.
Omar hanya tinggal sendiri menyambut para tamu undangan. Tiba-tiba datang seorang pelayan mengantarkan minuman pada Omar.
"Silahkan di minum Pak. Ini minuman spesial untuk Bapak" ucap pelayan tersebut.
"Saya tidak memintanya lagian saya tidak haus" tolak Omar.
"Sini Kak. Kalau kakak tidak mau meminumnya biar aku saja yang minum" Oryza meraih gelas yang ada ditangan pelayan tersebut dan segera meminumnya sampai kandas.
"Eh iya aku lupa. Kakak dipanggil Kak Jasmine tuh" sambung Oryza.
Omar segera melirik kearah tempat istrinya duduk. Disana dia melihat Cindy sedang berbicara dengan istrinya. Omar segera berjalan menghampiri meja Jasmine.
"Senang bertemu dengan kamu lagi. Masih ingat?" tanya Cindy.
"Teman kuliah Mas Omar diluar negeri kan?" Jasmine balik bertanya.
"Ternyata kamu masih ingat" jawab Cindy sambil tersenyum.
"Sayang kamu memangilku tadi?" tanga Omar yang baru saja datang menghampiri Jasmine.
"Iya Mas, aku lapar. Temani aku berkeliling yuk. Aku mau lihat-lihat hidangan yang ada. Pengen icip semua" pinta Jasmine.
"Ya udah, yuk aku temani" ajak Omar.
"Maaf Cindy kami tinggal dulu ya" sapa Jasmine ramah.
Untung saja alasan tepat menghindari nenek lampir albino satu ini. Umpat Omar.
Omar menemani istrinya berkeliling mencari makanan yang sesuai seleranya. Sementara di meja keluarga Kevin masih setia duduk bersama keluarganya.
__ADS_1
Disudut ruangan Oryza sedang gelisah dan gerah. Seluruh badannya terasa panas. Dia merasa aneh padahal sebelumnya ruangan pesta ini sejuk karena AC ruangan. Mengapa jadi panas begini.
"Kamu ngapain disini?" tanya August heran. Malam ini entah mengapa dia sering mencari-cari sosok Oryza. Menurutnya Oryza sangat cantik malam ini. Dan jika dia tidak menemukan Oryza dimana-mana, August langsung mencari tubuh wanita itu.
Seperti saat ini August melihat Oryza seperti menyendiri dalam kerumunan. August penasaran apa yang sedang dilakuka Oryza disini.
"Aku lagi ngadem kak" jawab Oryza yang terus mengibaskan gaunnya.
Duh jangan seperti ini Za, gaun kamu potongannya kerendahan tuh. August menahan nafasnya.
"Kamu kenapa, kepanasan? Aneh ruangan dingin begini kamu kog malah kepanasan" tanya August.
"Iya Kak aku juga ngerasa aneh. Tadi ada pelayan yang mau kasih minum sama Kak Omar. Katanya minuman spesial khusus untuk Kak Omar. Karena Kak Omar gak mau jadi aku minum. Setelah minum itu aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku" jawab Oryza.
Firasat August ada yang aneh dengan cerita Oryza barusan. Perasaannya gak enak. Sepertinya ada yang sedang merencanakan sesuatu yang jahat disini.
"Kamu ingat wajah pelayannya?" tanya August.
"Itu kak, pria itu. Tadi dia yang kasih minuman ke Kak Omar" Oryza menunjuk seorang pria yang berpakaian seragam pelayam hotel.
"Tunggu disini sebentat kamu jangan kemana-mana" ucap August.
August segera menghampiri pelayan tersebut dan membawanya keluar dari ballroom menuju sebuah ruangan yang sepi.
"Katakan dengan jujur atau kamu habis malam ini" ancam August.
Pelayan tersebut terlihat sangat ketakutan.
"Minuman apa yang kamu kasih ke minuman yang akan kamu beri ke Omar pemilik Barrakh Corp?" tanya August sambil menarik kerah leher pelayan tersebut.
"Mmm...anu Pak" pelayan tersebut takut untuk berkata jujur.
"Jawab. Jangan bohong" teriak August sambil mengangkat tangan kanannya hendak memukul wajah pelayan tersebut.
"Saya tidak tahu Pak. Saya disuruh oleh seorang wanita. Katanya minuman itu khusus untuk Bapak Omar" jawab pelayan tersebut.
"Cepat katakan siapa wanita itu?" desak August.
"Itu Pak... wanita yang sedang duduk disana" tunjuk sang pelayan.
"Bangs**..." umpat August.
August segera melepaskan pelayan tersebut dengan kasar kemudian dia melangkah menuju arah yang ditunjuk pelayan tadi.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG