
Jasmine membuka matanya. Dihadapannya sudah ada wajah pria yang satu bulan ini sudah menjadi suaminya. Jasmine memperhatikan wajah teduh suaminya yang sedang tertidur dengan lelapnya.
Wajah yang tampan dengan rahang yang tergaris keras menampilkan sisi maskulin dengan kumis dan jambang tipis yang tersusun rapi hingga dagu menambah ketampanannya tapi sayang kamu dingin dan flat.
Mengapa kamu jadi seperti ini sedangkan adikmu begitu hangat dan ceria juga manja berbanding terbalik dengan dirimu. Apa yang terjadi dengan masa lalumu. Mengapa kau tidak pernah bercerita tentang Mamamu? Aku hanya tau kalau Papamu sudah meninggal tapi kau kan masih punya Mama, dimana dia?
Kapan kau bisa menjadi imam yang baik untukku dimasa depan, aku tidak pernah melihatmu shalat.
Hei pria yang sudah menjadi suamiku, apa arti diriku bagimu? Pembantu, pelayan, rekan, teman atau istri?
Sampai kapan rumah tangga kita akan terus berjalan seperti ini? Rumah tangga yang berbeda dengan orang-orang diluar sana.
Aku juga ingin seperti mereka, ingin seperti Mama yang dicintai, dilindungi dan disayangi sepenuh hati oleh Papa. Apakah kau bisa seperti itu padaku? batin Jasmine.
Jasmine menatap erat wajah suaminya yang tiba-tiba berkeringat, wajahnya terlihat tegang dan ketakutan.
"Jangaaaan" teriak Omar.
"Mr kamu kenapa? Mimpi buruk?" tanya Jasmine saat melihat Omar terbangun dengan penuh peluh keringat.
"Haaah.. hanya mimpi" ucapnya kesal.
"Hei... Mr. Mau gak aku ajak kamu melakukan sesuatu agar hidup kamu lebih tenang?" ajak Jasmine.
"Apa?" tanya Omar penasaran.
"Coba kamu bangun trus ambil wudhu di kamar mandi. Setelah itu coba kamu resapi dan tanya hati kamu apa yang kami rasakan. Mau coba?" tantang Jasmine.
Omar bangun dari tidurnya dan mengikuti intruksi dari Jasmine.
"Bagaimana, segar? Apa hati kamu mulai tenang?" Tanya Jasmine.
Omar menganggukkan kepalanya.
"Mau kita lanjutkan?" Jasmine kembali memberi tantangan.
Omar menatap mata Jasmine seolah bertanya.
"Tunggu sebentar ya, aku ambil wudhu dulu trus kita shalat subuh bareng" jawab Jasmine.
Omar terkejut mendengar kata-kata Jasmine.
"Jasmine maaf... Boleh aku bercerita sedikit?" tanya Omar.
Jasmine mengurungkan niatnya dan kembali menghadap Omar.
"Jujur aku sudah lama meninggalkannya. Sekitar lima belas tahun yang lalu. Mungkin aku sudah lupa dengan bacaannya. Boleh aku meminta, kamu jangan terlalu berharap lebih padaku?" pinta Omar.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu. Sekarang kamu kembali tidur nanti pelan-pelan aku bisa mengingatkanmu kembali akan hal itu. Asal kamu mau dan berjanji jangan pernah melarangku melakukannya untukmu. Dan kau berjanji akan berubah menjadi lebih baik lagi" ucap Jasmine ceria walau dalam hatinya kecewa.
"Aku tidak janji tapi aku akan berusaha" jawab Omar
"Awal yang bagus. Ya sudah sekarang aku shalat subuh dulu ya, waktunya sudah tiba" ucap Jasmine.
Jasmine berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu setelah itu dia shalat di kamar Omar. Dan Omar memperhatikan semua gerak geriknya.
Hati Omar terlihat sendu dan sejuk, ternyata dia merindukannya. Merindukan untuk lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta. Terimakasih Tuhan, KAU hadirkan dia dalam hidupku. Semoga bisa menjadi jalanku dan penguatku untuk kembali ke jalanMU. Doa Omar dalam hati.
__ADS_1
Setelah selesai shalat dan melipat mukenanya tiba-tiba Jasmine merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Seketika dia lari ke kamar mandi.
Uek...uek... Jasmine muntah di kamar mandi.
Omar bangkit dari tempat tidur dan berlari mengikuti Jasmine ke kamar mandi.
"Kamu kenapa?" tanya Omar bingung.
"Jangan mendekat, nanti kamu jijik" perintah Jasmine.
"Tidak masalah aku sudah biasa melihat Kevin seperti ini saat dia mabok" jawab Omar.
Jasmine tidak bisa menolaknya dia kembali merasa mual dan muntah.
"Pusing? Mungkin kamu masuk angin?" tanya Omar.
"Mungkin saja" jawab Jasmine.
Setelah reda Omar menuntun Jasmine kembali ke tempat tidur dan mengambil minyak angin kemudian memberikannya kepada Jasmine.
"Kamu bisa mencium wanginya untuk mengurangi rasa mual" ucap Omar.
Tiga puluh menit berlalu. Jasmine bangun dari tempat tidur dan hendak pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Omar.
"Aku mau ke dapur nyiapkan sarapan" jawab Jasmine.
"Gak usah, kamu lagi sakit" potong Omar.
"Tapi kasian Oryza Mr. Dia kan kesini pengen ngerasain masakanku" ucap Jasmine.
Omar keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Jasmine yang dipakai Oryza malam ini.
"Kenapa Kak? tumben pagi-pagi kakak udah bangun. Biasa juga kalau hari libur suka molor bangunnya" tanya Oryza.
"Jasmine sakit, kamu bisa masak?" tanya Omar.
Oryza menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu coba kamu pesan makanan via online, cari bubur ayam yang enak" perintah Omar.
"Oke kak" jawab Oryza.
Oryza masuk ke dalam kamar dan mengambil hpnya kemudian memesan makanan yang dipinta kakaknya tadi. Setelah makanan sudah dipesan dia melangkahkan kakinya ke kamar Omar.
"Aku masuk ya" teriaknya dari luar.
Oryza melihat Jasmine sedang terbaring diatas tempat tidur.
"Mbak kenapa? Mana Kak Omar?" tanya Oryza.
"Kakak kamu lagi dikamar mandi" jawabnya lemah.
"Kakak sakit?" tanya Oryza kemudian mendekati Jasmine yang terbaring sambil memijit kepalanya.
Omar baru keluar dari kamar mandi, dia terlihat segar baru selesai mandi.
"Kepala Mbak pusing dan dari habis subuh tadi mual dan muntah-muntah" jawab Jasmine.
__ADS_1
"Jangan-jangan Mbak hamil? katanya kalau orang hamil suka pusing dan muntah-muntah Mbak" jawab Oryza semangat.
"Sok tau kamu" potong Omar.
"Ih bisa jadi kan kak, Kakak dan Mbak Jasmine sudah menikah satu bulan. Mungkin saja saat ini Mbak Jasmine sedang hamil" oceh Oryza.
Jasmine dan Omar saling tatap. Mereka teringat kembali kejadian di malam pertama mereka menikah. Saat itu memang mereka sudah melakukan itu dan bukan hanya sekali tetapi berulang kali karena pengaruh obat perangsang.
Jasmine menghitung tamu bulanannya, dia sudah telat seminggu.
Ya ampun bagaimana ini? Jasmine menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kenapa, benar yang aku katakan?" tanya Oryza.
"A..aku sudah telat seminggu" jawab Jasmine lemah.
"Yes... aku akan punya ponakan" Oryza menjerit senang.
Omar menatap lekat wajah Jasmine seolah menanyakan apakah itu benar.
Jasmine menganggukkan kepalanya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Omar bingung.
"Ish kalian ini sudah dewasa kog bego sih. Ya beli testpack lah" ucap Oryza.
Omar menatap wajah adiknya seolah bertanya itu apa.
"Alat tes kehamilan Kak, belinya di apotik. Sana gih cari" perintah Oryza.
Omar segera meraih dompet dan kunci mobilnya kemudian pergi keluar.
Satu jam kemudian dia pulang dan melihat Jasmine sedang sarapan pagi ditemani Oryza di kamar.
"Nih aku beli 3pc buat jaga-jaga" Omar menyerahkan kantong plastik yang dia bawa dari luar.
Jasmine menerima pemberian Omar kemudian membawanya ke kamar mandi.
Omar menunggu dengan perasaan yang campur aduk, antara bingung, takut dan berharap.
Sepuluh menit kemudian Jasmine keluar.
"Gimana Mbak hasilnya?" tanya Oryza tak sabaran.
Jasmine menunjukkan alat tes kehamilan itu pada Omar dan Oryza.
"Garis dua, apa artinya?" tanya Omar.
Oryza mengambil tespack lain yang ada di kantong plastik yang tadi dibeli Omar dan membaca petunjuknya.
"Garis dua artinya... Mbak beneran hamil. Alhamdulillah" teriak Oryza bahagia.
Jasmine meneteskan airmatanya.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1